Hadapi Muktamar NU ke-35 di Jombang, NU Tetap “Keramat”

H. Muhammad Shohibul Itmam,.Wakatib Syuriah PWNU Jateng

Menjelang Muktamar ke-35 NU di Jombang sepuluh hari kedepan, berbagai isu miring terkait NU tidak bisa dipungkiri di kalangan ummat, Masyarakat-para kyai khususnya jajaran Pengurus Syuriah baik PCNU maupun PWNU se-Indonesia terutama isu politik uang (money politic) dan politik transaksional menjadi sorotan paling hangat serta memicu terjadinya reaksi sekaligus respon tegas dari berbagai pihak baik eksternal maupun internal tentang marwah dan “Keramat” Nahdlatul Ulama yang diyakini banyak pihak.

Dalam kondisi demikian banyak kalangan yang prihatin seperti jajaran syuriah PWNU Jawa Tengah pada rapat harian, Senin 17 Agustus 2026 di kantor PWNU Jawa Tengah dengan menganalisis berbagai persoalan NU dan menyayangkan dugaan rapuhnya organisasi NU sebagai organisasi terbesar di dunia yang melibatkan para ulama sehingga memunculkan keraguan tentang “Keramat” yang selama ini dimiliki oleh NU dan ulama serta pondok pesantren sebagai basis kekuatan NU.

BACA JUGA: Situs Langgar Bubrah Diduga Peninggalan Era Ratu Kalinyamat, Bupati Jepara Siap Dukung Pelestarian Cagar Budaya

Prediksi Muktamar Jombang

Di tengah dinamika Muktamar-35 Jombang yang dikhawatirkan banyak pihak terutama terjadinya adu kekuatan para pihak dengan konstelasi politik yang lazimnya terjadi pada partai politik yang bisa bisa menciderai marwah dan ulama NU, maka Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang diperkirakan tetap memiliki peluang besar untuk berjalan dengan teduh, khidmat, dan kondusif karena dekat sesepuh dan muassis yang mayoritas dari Jombang.

Muktamar Jombang sebagai ujia keramat NU dan pendukungnya yang selama ini diterpa berbagai ujian baik ujian sosial, material hingga spiritual yang selama ini menjadi kebanggaan dan terjaga dengan apik sebagai kekuatan NU yang diakui dunia. Jombang sebagai kota santri tentu punya cara sendiri dengan budaya yang tumbuh berkembang sejak zaman para pendiri NU hingga sekarang pengaruhnya terhadap dunia yang telah melahirnya PCINU pada hampir semua negara.

BACA JUGA: BAZNAS Kabupaten Jepara Mengucapkan Dirgahayu RI ke-81

NU Tetap “Keramat” Hadapi Muktamar Jombang

Muktamar Nahdlatul Ulama yang diselenggarakan akan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang informasinya akan melibatkan pengawalan ketat dari banyak pihak, baik dari pihak negara, TNI-POLRI maupun swasta, masyarakat barisan serba guna (BANSER).

Di tengah dinamika politik dan perbedaan arus pemikiran yang terus berjalan, NU diyakini tetap memiliki “Keramat” atau marwah batiniah yang kuat—yakni keberkahan dari keikhlasan para pendirinya NU sehingga selalu mampu menyelamatkan organisasi dari perpecahan besar yang diprediksi terjadi saat muktamar nanti.

Keramat yang ada pada NU dan Ulama terletak pada beberapa point penting; pertama, restu para kiai sebagai kekuatan utama yang terletak pada doa dan garis komando para kiai sepuh yang tidak mudah luntur oleh ambisi politik tertentu pada saat pendirian NU hingga sekarang. Kedua, akar pesantren yang kuat yang dimiliki kota Jombang sebagai tempat bersejarah mengingatkan seluruh warga NU pada nilai keteladanan Hadratussyekh Hasyim Asy’ari berserta jajaran ulama pendiri NU. Dan ketiga, kemampuan menjaga keutuhan bangsa yang senantiasa menjadi perekat sosial dan penyejuk di tengah perbedaan pandangan politik yang terjadi baik dari pengaruh internal maupun eksternal NU.

Selain lanskap demikian, untuk menjaga “Keramat” NU pada muktamar Jombang juga dibutuhkan tiga hal sekaligus menjadi tekad para peserta muktamar untuk; pertama, menjaga rekonsiliasi internal, dengan menjadikan muktamar bukan sekedar ajang perebutan posisi, melainkan titik balik penyatuan energi umat menyongsong abad kedua NU. Kedua, menjunjung tinggi akhlakul Karimah saat terjadi perpedaan pendapat, disikapi dengan biasa dengan semangat harus diselesaikan melalui kepala dingin dan etika pesantren dan ulama. Ketiga, “Keramat” NU terletak pada focus membangun peradaban zaman ini yang menuntut NU supaya lebih fokus pada kemandirian ekonomi, pendidikan, dan pelayanan umat untuk kemanusiaan dan dunia.

Dengan dinamika yang terjadi sebelum saat hingga menjelang bahkan selesainya muktamar Jombang nanti, NU akan tetap “Keramat” dan semakin diakui eksistensinya serta disegani oleh semua organiasi Masyarakat pada belahan dunia. (KA)

 

Related posts

UNISNU Jepara: Dari Warisan Ratu Shima hingga Visi Global Village di Abad 21

Refleksi Menjelang Muktamar NU ke-35: Antara Khidmah dan Hasrat Kekuasaan

7 Alasan Mengapa Pendidikan Inklusif Itu Penting ‎