Munajat Kemerdekaan, PMII Jepara Serukan Perjuangan Melawan Ketidakadilan

Ahmad Fazari, Ketua PC PMII Jepara

JEPARA | GISTARA. COM – Peringatan kemerdekaan tidak semestinya berhenti pada seremoni pengibaran bendera dan berbagai perayaan belaka. Kemerdekaan juga harus menjadi momentum untuk kembali mempertanyakan sejauh mana negara mampu menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Pesan tersebut disampaikan Ketua PC PMII Jepara, Ahmad Fazari, dalam Munajat Kemerdekaan dan Orasi Kebangsaan yang digelar di Wisma Pergerakan Karang Kebagusan, Rabu malam (19/8/2026).

Dalam orasinya bertajuk Fazari mengajak mahasiswa dan masyarakat untuk tidak sekadar memaknai kemerdekaan sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai perjuangan yang harus terus dijaga.

“Hari ini, kita berdiri di atas tanah yang katanya merdeka. Kita bernapas di bawah langit yang katanya telah terbebas dari cengkeraman penjajah. Tapi mari kita jujur dan bertanya pada nurani kita yang paling dalam: apakah kita benar-benar sudah merdeka?” tegasnya.

BACA JUGA: BAZNAS Kabupaten Jepara Mengucapkan Dirgahayu RI ke-81

Menurut Fazari,  kemerdekaan sejati tidak cukup diukur dari terbebasnya Indonesia dari penjajahan bangsa asing. Kemerdekaan, kata dia, harus tercermin dari terpenuhinya kebutuhan dasar dan terlindunginya hak-hak masyarakat.

“Kemerdekaan sejati adalah ketika perut rakyat tidak lagi lapar karena harga bahan pokok yang mencekik. Kemerdekaan sejati adalah ketika ruang-ruang hidup masyarakat tidak dirampas atas nama investasi dan pembangunan yang buta terhadap kemanusiaan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti persoalan ketimpangan hukum dan kebijakan yang dinilai belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat kecil. Petani, nelayan, buruh hingga kelompok marginal, menurutnya, masih menghadapi beban kehidupan yang berat.

Fazari mengkritik kondisi ketika kekuasaan dan kekayaan dinilai hanya berputar di kalangan tertentu. Ia menyebut tantangan bangsa saat ini bukan lagi sekadar penjajahan dalam bentuk klasik, melainkan juga keserakahan, ketidakpedulian dan ketidakadilan.

“Jika penjajahan masa lalu dilakukan oleh bangsa asing, maka hari ini kita sedang dijajah oleh keserakahan dan ketidakpedulian dari bangsa kita sendiri,” katanya.

Di hadapan peserta Munajat Kemerdekaan, Fazari  juga mengutip pesan Bung Karno mengenai beratnya perjuangan generasi setelah kemerdekaan.

Ia menilai pesan tersebut masih relevan untuk membaca kondisi bangsa saat ini. Menurutnya, mahasiswa tidak boleh memilih diam ketika menemukan ketidakadilan.

“Apakah kita akan diam? Tidak! Apakah kita akan membiarkan api kemerdekaan ini padam oleh pesimisme dan ketakutan? Tidak!” serunya yang disambut semangat peserta.

BACA JUGA: Kupas KDMP, PMII Jepara Ingatkan Pentingnya Tata Kelola Profesional

Fazari menegaskan, mahasiswa harus menjadi kekuatan kritis yang tetap berpihak kepada kepentingan rakyat. Namun, perjuangan tersebut harus diarahkan pada persoalan yang lebih substantif, bukan terjebak pada konflik antarmasyarakat.

“Jangan biarkan kita dipecah-belah oleh isu murahan dan adu domba. Musuh kita bukanlah sesama rakyat, melainkan ketidakadilan, korupsi, dan sistem yang menindas,” tegasnya.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan momentum kemerdekaan sebagai bahan bakar perjuangan dalam mengawal jalannya pemerintahan.

“Kita tuntut negara untuk kembali pada janji kemerdekaannya: melindungi segenap bangsa Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum, bukan kesejahteraan segelintir golongan,” tandasnya.

Menutup orasinya, Fazari  menyerukan agar semangat kritis dan keberanian terus dirawat. Menurutnya, kemerdekaan tidak boleh dimaknai sebagai alasan untuk berhenti berjuang.(KA)

 

Related posts

Perkuat Tata Kelola Organisasi, KKN Unisnu Jepara XXI Desa Troso Gelar Pelatihan MANTAB untuk Kader IPNU-IPPNU

Sinergi Jasa Pengiriman, Bea Cukai dan Aparat Penegak Hukum, Putus Mata Rantai Rokok Ilegal

Perkuat Peran Orang Tua Bentuk Karakter Anak, KKN Desa Keling Angkatan XXI Gelar Program PERMATA