Gentur Ajak Masyarakat Manfaatkan AI Berlandaskan Nilai-Nilai Islam

Ilustrasi AI (foto: istock)

JEPARA | GISTARA. COM – Suasana khidmat terasa di Masjid Kampus Ar-Robbaniyyin UNISNU Jepara selepas salat zuhur. Para jamaah menyimak kultum yang disampaikan Gentur Wahyu Nyipto Wibowo Ketua Program Studi Teknik Informatika UNISNU Jepara, yang mengangkat tema kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam perspektif Islam, Senin (5/10/2026).

Di hadapan civitas akademika dan jamaah, Gentur mengajak umat Islam untuk melihat perkembangan AI secara proporsional.

Menurutnya, teknologi pada dasarnya merupakan sarana yang dapat membawa kemaslahatan maupun kemudaratan, bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya.

BACA JUGA: Hindun Anisah Dorong Ekraf Karimunjawa Naik Kelas, Gekrafs Diminta Perkuat Pendampingan

Ia menjelaskan bahwa perkembangan AI dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah banyak aspek kehidupan, mulai dari cara manusia bekerja, belajar, hingga berkomunikasi. Karena itu, perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan tanggung jawab moral dan nilai-nilai agama.

“Teknologi pada hakikatnya bersifat netral. Ia adalah produk dari akal dan pengetahuan manusia, sebuah sarana yang bisa membawa kemaslahatan besar atau kerusakan, tergantung sepenuhnya pada tangan yang mengendalikannya,” kata Gentur.

Gentur kemudian mengaitkan perkembangan AI dengan kedudukan manusia sebagai makhluk yang dimuliakan Allah SWT. Ia merujuk Surah Al-Isra ayat 70 yang menjelaskan tentang kemuliaan anak cucu Adam.

BACA JUGA: Ulil Albab Ajak Pramuka Melek Perda dan Berani Ambil Peran 

Menurutnya, manusia memiliki akal sekaligus tanggung jawab moral yang tidak dimiliki teknologi.

Ia menilai kemampuan AI dalam mengolah data dengan cepat tidak serta-merta menjadikan teknologi tersebut mampu menggantikan kedudukan manusia. AI tetap merupakan alat yang digunakan manusia untuk membantu menjalankan tanggung jawabnya sebagai khalifah di muka bumi.

“AI mungkin mampu memproses data lebih cepat dari otak manusia mana pun, tetapi AI tidak memiliki roh, kesadaran moral, maupun iman,” ujarnya.

Gentur Wahyu Nyipto Wibowo Ketua Program Studi Teknik Informatika UNISNU Jepara

Karena itu, Gentur mengingatkan agar kecanggihan teknologi tidak membuat manusia kehilangan kendali atas nilai-nilai moral. Justru, semakin berkembang teknologi, semakin besar pula tanggung jawab manusia untuk memastikan pemanfaatannya tetap berada dalam koridor kebaikan.

Dalam kultum tersebut, ia juga menyoroti tantangan lain yang muncul seiring perkembangan AI, terutama penyebaran disinformasi, dan berbagai bentuk informasi yang mengandung bias.

Menurutnya, kemudahan membuat dan menyebarkan informasi harus diikuti dengan sikap kritis dan kehati-hatian.

Ia mengingatkan jamaah pada prinsip tabayyun sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam Surah Al-Hujurat ayat 6. Setiap informasi yang diterima perlu diperiksa terlebih dahulu sebelum dipercaya atau disebarluaskan.

“Konsep tabayyun menjadi jauh lebih krusial saat ini. Kita tidak boleh secara mentah-mentah mempercayai atau menyebarkan konten buatan AI tanpa memastikan keabsahan, etika, dan kebenarannya terlebih dahulu,” tutur Gentur.

BACA JUGA: Pemkab Jepara Canangkan Desa Digital, Dorong Pemerintahan Desa Efektif, Transparan dan Akuntabel

Menurutnya, kemampuan menghasilkan konten secara cepat melalui AI justru menuntut manusia semakin bertanggung jawab. Informasi yang dibuat dengan teknologi tetap harus mempertimbangkan kebenaran, manfaat, etika, dan dampaknya terhadap orang lain.

Khusus bagi kalangan akademisi, peneliti, dan mahasiswa Muslim, Gentur mendorong agar AI tidak hanya dipandang sebagai teknologi yang mempermudah pekerjaan. Lebih dari itu, AI dapat diarahkan menjadi instrumen untuk meningkatkan kualitas pendidikan, pelayanan masyarakat, penelitian, hingga pengelolaan berbagai kegiatan sosial.

BACA JUGA: Jepara Bersholawat, Ikhtiar Batiniah Pemkab untuk Pembangunan Daerah

Ia mencontohkan pemanfaatan AI untuk meningkatkan mutu pembelajaran, mengoptimalkan pelayanan kesehatan, mendukung penyaluran zakat dan infak, serta membantu menyebarluaskan pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Gentur juga mengingatkan bahwa teknologi akan memiliki nilai yang lebih berarti ketika diarahkan untuk memberikan manfaat kepada sesama. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menegaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling memberikan manfaat bagi manusia lainnya.

“Jika kita memanfaatkan kecerdasan buatan dengan niat yang lurus untuk melayani sesama, menyelesaikan masalah sosial, dan mengagungkan nilai-nilai Islam, maka aktivitas kita dalam bidang AI akan bernilai ibadah di sisi Allah SWT,” ungkapnya.

BACA JUGA: Keren! Pemkab Jepara Sabet Penghargaan JDIH dengan Progres Pencapaian Terbaik

Di akhir kultum, Gentur menegaskan bahwa AI pada dasarnya merupakan salah satu hasil kemampuan intelektual manusia. Karena itu, teknologi tersebut perlu ditempatkan sebagai sarana yang digunakan secara bertanggung jawab, bukan sebagai pengganti manusia dalam menjalankan tanggung jawab moral dan keagamaannya.

Ia mengajak civitas akademika UNISNU Jepara untuk mengambil peran dalam mengarahkan perkembangan AI agar tetap sejalan dengan nilai etika, kemanusiaan, dan ajaran Islam.

Menurutnya, kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan iman dan moral.

“Sebagai komunitas akademisi dan mukmin, kita harus menjadi pelopor dalam mengarahkan AI secara etis, memastikan bahwa di tengah pesatnya perkembangan teknologi, iman, etika, dan panduan moral kita tetap berakar kuat pada ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah,” pungkasnya. (KA)

Related posts

Keren! Pemkab Jepara Sabet Penghargaan JDIH dengan Progres Pencapaian Terbaik

Bangun Budaya Literasi, Dosen Unisnu Jepara Kenalkan ADe di SDN 3 Ujung Batu

Pemkab Jepara Canangkan Desa Digital, Dorong Pemerintahan Desa Efektif, Transparan dan Akuntabel