JEPARA | GISTARA. COM – Di tengah derasnya arus zaman yang semakin cepat, sekelompok orang tetap berdiri teguh menjaga jejak para leluhur. Mereka adalah Cakra Bumi Jepara, sebuah paguyuban yang bergerak di bidang seni dan budaya.
Muji Harto, Panglima Cakra Bumi Menjelaskan, organisasi ini hadir bukan sekadar sebagai perkumpulan biasa, melainkan sebagai rumah besar yang berperan menampung serta melestarikan kearifan lokal, terutama budaya Jawa dalam ranah adat istiadat, penghayatan budaya, serta nilai-nilai spiritual yang telah hidup dan tumbuh di tengah masyarakat Jepara sejak lama.
Pada Jumat, 21 Agustus 2026, Cakra Bumi tampil sebagai salah satu pihak yang memegang peranan penting dalam rangkaian Kirab Pusaka. Paguyuban ini dipercaya menjadi bagian dari rombongan pembawa pusaka dari 24 kota sekaligus bregada pengawalan yang mendampingi pusaka, berangkat dari Astana Sultan Hadirin Mantingan menuju Pendopo Agung Kabupaten Jepara.
“Kegiatan ini sendiri baru memasuki tahun kedua penyelenggaraannya. Dipilihnya tanggal tersebut bukan tanpa makna, sebab acara dilaksanakan pada malam Minggu pertama di bulan Mulud, sebuah momen yang dianggap penuh keberkahan dalam tradisi masyarakat setempat,” tutur Muji Harto.
BACA JUGA: Menumbuhkan “Agripreneur” Cilik: Implementasi Urban Farming Berbasis STEM di SDN 7 Klumpit Kudus
Lebih lanjut Muji Harto menjelaskan, Kirab Pusaka ini bukan sekadar pawai yang berjalan di jalanan, melainkan wujud napak tilas para empu, pemegang, serta pemilik pusaka-pusaka terdahulu—sebuah upaya menelusuri jejak langkah dan perjuangan leluhur yang pernah menjaga serta mewariskan benda-benda bersejarah tersebut.
Dalam kirab kali ini, diarak sejumlah pusaka berupa tombak yang berasal dari 26 kota, mencakup wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Kasunanan Surakarta, hingga Kasultanan Kacirebonan.
“Nilai yang ingin disampaikan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, adalah mengingat kembali sejarah peradaban Jepara sekaligus menapak tilas perjuangan para leluhur dan menjaga tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun,” jelas Muji Harto.
Pusaka-pusaka yang diarak itu bukan sekadar benda mati, melainkan identitas budaya dan simbol spiritual yang menjadi jati diri masyarakat Jepara.
BACA JUGA: Heboh Pulau Menjangan Kecil Dikabarkan Dijual Rp500 Miliar, Bupati Jepara Tegaskan itu Hoaks
Persiapan menuju pelaksanaan kegiatan ini berjalan relatif singkat namun tetap padat dan teratur, yakni dalam kurun waktu kurang lebih satu minggu.
Meski begitu, antusiasme yang muncul terasa sangat besar. Peserta yang terlibat datang dari berbagai daerah yang mencakup 24 kota di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Kasunanan Surakarta, Kasultanan Kacirebonan, serta didukung oleh berbagai paguyuban lokal yang ada di Jepara.
Jalur yang dilalui dalam kirab ini membentang dari Astana Sultan Hadirin Mantingan hingga berakhir di Pendopo Agung Kabupaten Jepara.
Dikatakan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi bukan terletak pada teknis pelaksanaan di lapangan, melainkan pada derasnya arus modernisasi dan pengaruh budaya asing yang perlahan menggerus kesadaran masyarakat terhadap warisan leluhur.
“Dibandingkan dengan penyelenggaraan tahun sebelumnya, terdapat perbedaan yang cukup mencolok: jika pada tahun 2025 kirab dilaksanakan pada siang hari, maka pada tahun ini kegiatan digelar pada malam hari dengan persiapan yang lebih matang dan suasana yang dirasakan jauh lebih meriah,” papar Muji Harto.
BACA JUGA: BAZNAS Kabupaten Jepara Mengucapkan Dirgahayu RI ke-81
Kepada seluruh masyarakat Jepara, harapan yang disampaikan oleh para penyelenggara maupun penggiat budaya adalah agar Kirab Pusaka ini kelak dapat menjadi agenda tetap yang dilaksanakan setiap tahun, sehingga masyarakat Jepara semakin mengenal sejarah bangsanya, khususnya kearifan lokal yang dimiliki daerah sendiri, dan menumbuhkan rasa nasionalisme yang berakar kuat pada budaya.
Peran pemuda dalam hal ini dinilai sangat krusial, mereka diharapkan ikut aktif melestarikan budaya tidak hanya melalui literasi, tetapi juga dengan terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan seperti kirab budaya, agar nilai-nilai luhur yang diwariskan tidak putus di tengah jalan. Pesan khusus yang disampaikan kepada seluruh masyarakat Jepara terasa begitu dalam maknanya, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya, dan mengajak semua pihak untuk ikut aktif melestarikan budaya yang telah diwariskan para leluhur.
Ke depannya direncanakan akan terjalin sinergitas yang lebih erat dengan berbagai paguyuban lokal serta para seniman, agar bersama-sama terus mengampanyekan pelestarian kearifan lokal Jawa dan Jepara pada khususnya, sehingga lentera budaya ini tetap menyala dan berpindah dari tangan ke tangan, dari generasi ke generasi.
“Memimpin dan menjaga budaya bukan soal kekuasaan, melainkan sebuah amanah untuk melayani dengan tulus hati, membawa perubahan nyata, dan menjaga agar setiap langkah yang diambil selalu berpihak kepada rakyat serta warisan leluhur.” Pungkas Muji Harto. (Lintang)