KUDUS | GISTARA. COM — Di tengah ancaman krisis regenerasi petani di Indonesia akibat rendahnya minat generasi muda pada sektor agraris, sebuah langkah preventif dan inovatif berhasil diwujudkan di tingkat pendidikan dasar. Tim dosen dari Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) sukses melaksanakan program pemberdayaan bertajuk “Klumpit Little Farmers” di SDN 7 Klumpit, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus.
Program yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) ini hadir sebagai solusi konkret untuk mencetak calon agripreneur muda sejak dini.
Diketuai oleh Herri Wijaya, S.Kom., M.M., bersama tim pelaksana anggota Fifi Endah Irawati., M.M. dan Manggalastawa, M.Pd. serta dibantu oleh lima mahasiswa dari Prodi S1 Bisnis Digital berinisiatif untuk membawa konsep urban farming atau pertanian lahan sempit langsung ke lingkungan sekolah. Kami merespons potensi alam berupa ketersediaan air yang melimpah di desa ini, yang sebelumnya belum termanfaatkan secara optimal untuk sarana edukasi.
BACA JUGA: Keseruan Mahasiswa Asing Belajar Ukir di Jepara
Pendekatan STEM dan Teknologi Edu-Farm Kit
Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini tidak sekadar mengajarkan cara menanam secara konvensional, namun juga mengimplementasikan metode Project-Based Learning (PjBL) yang terintegrasi dengan pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics). Siswa-siswi diajak berinteraksi langsung dengan “Edu-Farm Kit”, yaitu sebuah instalasi hidroponik portabel sistem sumbu (wick system) yang telah dirancang secara menarik dan ramah bagi anak.
Melalui laboratorium hidup ini, siswa mempraktikkan budidaya microgreens yakni sayuran muda bernutrisi super yang dapat dipanen sangat cepat, hanya dalam kurun waktu 15 hingga 30 hari untuk variasi tanaman sayur tertentu. Siklus panen yang singkat ini sangat sesuai dengan karakteristik psikologis anak usia SD, mereka dapat langsung melihat hasil kerja kerasnya dan mengetahui bahwa bercocok tanam tidak sesulit yang mereka bayangkan. Selain itu rasa kepuasan (sense of achievement) dalam merakit instalasi, menyemai benih, hingga mengukur kepekatan nutrisi menggunakan alat pengukur digital (TDS meter) hingga akhirnya memanen akan menjadi pengalaman yang berharga untuk mereka dalam menumbuhkan jiwa kewirausahaan semenjak dini.
BACA JUGA: Situs Langgar Bubrah Diduga Peninggalan Era Ratu Kalinyamat, Bupati Jepara Siap Dukung Pelestarian Cagar Budaya
Sentuhan Digitalisasi dan Strategi Branding
Inovasi produk agrikultur harus dipadukan dengan strategi komunikasi visual dan pemasaran yang cerdas. Oleh karena itu, prinsip-prinsip bisnis digital dan komunikasi pemasaran turut ditanamkan kepada para siswa. Mereka tidak hanya didorong menjadi petani yang terampil, tetapi juga wirausahawan kecil (little agripreneur).
Tim pengabdi menyelenggarakan Workshop Digital Storytelling, di mana siswa didampingi oleh mahasiswa memproduksi konten video menarik mengenai produk sayur mereka menggunakan handphone. Dari aspek branding, program ini juga membantu sekolah membangun identitas visual yang profesional, mulai dari pembuatan logo stiker produk kemasan hingga aktivasi dan pengelolaan akun media sosial sekolah secara terstruktur. Puncak dari rangkaian kegiatan edukasi ini adalah simulasi pasar (Market Day) yang interaktif. Pada fase ini, anak-anak berhasil memanen sayuran, mengemasnya dengan apik di dalam clamshell transparan berstiker label, lalu menjual produk tersebut secara langsung kepada warga sekolah dan kelompok wali murid.
BACA JUGA: Perluas Akses Pendidikan, Pemprov Jateng Berlakukan Sekolah Gratis
Dampak dan Keberlanjutan
Transformasi pembelajaran ini mendapat apresiasi positif dari Ibu Siti Zumaroh, S.Ag., selaku pemimpin SDN 7 Klumpit. Area lorong sekolah yang sebelumnya kurang termanfaatkan, kini telah menjelma menjadi greenhouse mini yang hidup, edukatif, dan bersinkronisasi secara sempurna dengan aktivitas Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dalam kerangka Kurikulum Merdeka.
Demi memastikan keberlanjutan program, seluruh instalasi Edu-Farm Kit telah dihibahkan sepenuhnya kepada pihak mitra sekolah. Langkah ini juga dibarengi dengan penyelenggaraan Training of Trainer (ToT) bagi para guru pembina agar mereka mahir memainkan peran sebagai fasilitator pertanian modern secara mandiri untuk angkatan siswa yang akan datang.
Keberhasilan program “Klumpit Little Farmers” membuktikan bahwa literasi agrikultur yang dikawinkan dengan teknologi digitalisasi dan pendekatan STEM mampu menghadirkan pengalaman belajar yang memikat. Anak-anak SDN 7 Klumpit kini bukan lagi sekadar konsumen sayuran, melainkan telah menjadi barisan produsen cilik yang siap mengambil estafet ketahanan pangan lokal di masa depan.(KA/Fifi Endah Irawati)