Menumbuhkan “Agripreneur” Cilik: Implementasi Urban Farming Berbasis STEM di SDN 7 Klumpit Kudus

Workshop Digital Storytelling dan Instalasi Edu- Farm Kit

KUDUS | GISTARA. COM —Di tengah ancaman krisis regenerasi petani di Indonesia akibat rendahnya minat generasi muda pada sektor agraris, sebuah langkah preventif dan inovatif berhasil diwujudkan di tingkat pendidikan dasar. Tim dosen dari Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) sukses melaksanakan program pemberdayaan bertajuk “Klumpit Little Farmers” di SDN 7 Klumpit, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus.

Program ini hadir sebagai solusi konkret untuk mencetak calon agripreneur muda sejak dini. Diketuai oleh Herri Wijaya, S.Kom., M.M., bersama tim pelaksana anggota Fifi Endah Irawati, M.M. dan Manggalastawa, M.Pd., serta dibantu oleh lima mahasiswa dari Prodi S1 Bisnis Digital, tim berinisiatif membawa konsep urban farming atau pertanian lahan sempit langsung ke lingkungan sekolah. Langkah ini sekaligus merespons potensi alam berupa ketersediaan air yang melimpah di desa tersebut, yang sebelumnya belum termanfaatkan secara optimal untuk sarana edukasi.

BACA JUGA: Jepara Rolling Sabet 7 Emas di Kejurnas Sepatu Roda Gunungkidul 2026

Pendekatan STEM dan Teknologi Edu-Farm Kit

Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini tidak sekadar mengajarkan cara menanam secara konvensional, namun juga mengimplementasikan metode Project-Based Learning (PjBL) yang terintegrasi dengan pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics). Siswa-siswi diajak berinteraksi langsung dengan “Edu-Farm Kit”, yaitu sebuah instalasi hidroponik portabel sistem sumbu (wick system) yang telah dirancang secara menarik dan ramah bagi anak.

Melalui laboratorium hidup ini, siswa mempraktikkan budidaya microgreens, yakni sayuran muda bernutrisi super yang dapat dipanen sangat cepat, hanya dalam kurun waktu 15 hingga 30 hari untuk variasi tanaman sayur tertentu. Siklus panen yang singkat ini sangat sesuai dengan karakteristik psikologis anak usia SD; mereka dapat langsung melihat hasil kerja kerasnya dan mengetahui bahwa bercocok tanam tidak sesulit yang mereka bayangkan.

Selain itu, rasa kepuasan (sense of achievement) dalam merakit instalasi, menyemai benih, hingga mengukur kepekatan nutrisi menggunakan alat pengukur digital (TDS meter) sampai akhirnya memanen, menjadi pengalaman berharga bagi mereka dalam menumbuhkan jiwa kewirausahaan sejak dini.

Sentuhan Digitalisasi dan Strategi Branding

Inovasi produk agrikultur harus dipadukan dengan strategi komunikasi visual dan pemasaran yang cerdas. Oleh karena itu, prinsip-prinsip bisnis digital dan komunikasi pemasaran turut ditanamkan kepada para siswa. Mereka tidak hanya didorong menjadi petani yang terampil, tetapi juga wirausahawan kecil (little agripreneur).

Tim pengabdi menyelenggarakan Workshop Digital Storytelling, di mana siswa didampingi oleh mahasiswa memproduksi konten video menarik mengenai produk sayur mereka menggunakan handphone. Dari aspek branding, program ini juga membantu sekolah membangun identitas visual yang profesional, mulai dari pembuatan logo stiker produk kemasan hingga aktivasi dan pengelolaan akun media sosial sekolah secara terstruktur.

Puncak dari rangkaian kegiatan edukasi ini adalah simulasi pasar (Market Day) yang interaktif. Pada fase ini, anak-anak berhasil memanen sayuran, mengemasnya dengan apik di dalam clamshell transparan berstiker label, lalu menjual produk tersebut secara langsung kepada warga sekolah dan kelompok wali murid.

BACA JUGA: Kunjungi Karimunjawa, Semesko Infra Kaji Penguatan Konektivitas dan Infrastruktur

Dampak dan Keberlanjutan

Transformasi pembelajaran ini mendapat apresiasi positif dari Plt Kepala Sekolah SDN 7 Klumpit, Mita Apprillia Sari, S.Pd., M.Pd. Space halaman sekolah yang belum dimanfaatkan, kini dimanfaatkan menjadi Green House yang edukatif dan bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran berbasis STEM.

Demi memastikan keberlanjutan program, seluruh instalasi Edu-Farm Kit telah diserahkan sepenuhnya kepada pihak mitra sekolah. Langkah ini juga dibarengi dengan penyelenggaraan Training of Trainer (ToT) bagi para guru pembina agar mereka mahir memainkan peran sebagai fasilitator pertanian modern secara mandiri untuk angkatan siswa yang akan datang.

Dukungan Pendanaan Hibah BIMA 2026

Pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat di SDN 7 Klumpit ini dapat terealisasi berkat dukungan pendanaan melalui Hibah BIMA dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun 2026 melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM). Kelancaran seluruh rangkaian kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Muhammadiyah Kudus serta pihak SDN 7 Klumpit.

Keberhasilan program “Klumpit Little Farmers” membuktikan bahwa literasi agrikultur yang dikawinkan dengan teknologi digitalisasi dan pendekatan STEM mampu menghadirkan pengalaman belajar yang memikat. Anak-anak SDN 7 Klumpit kini bukan lagi sekadar konsumen sayuran, melainkan telah menjadi barisan produsen cilik yang siap mengambil estafet ketahanan pangan lokal di masa depan. (KA/Fifi Endah Irawati)

Related posts

Baru Dilantik, KKMA 02 Jepara Langsung Tancap Gas Bedah Kerangka TKA 2026

Belajar Menjadi Pemimpin, Mahasiswa BCB Unisnu Jepara Kaji Kepemimpinan dan Pengambilan Keputusan

80 Guru Inti KKMTs 02 Jepara Digembleng Menyusun Soal Asesmen Berkualitas