JOMBANG | GISTARA. COM — Saat ini mata seluruh warga Indonesia tertuju pada Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, khususnya warga NU. Di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas ini, digelar Muktamar NU ke-35.
Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang merupakan salah satu pesantren tua yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan pendidikan Islam dan tradisi pesantren di Indonesia.
Mengutip laman MA Unggulan KH Abd. Wahab Hasbullah PP Bahrul Ulum Tambakberas, cikal bakal pesantren ini bermula sekitar tahun 1825 di Dusun Gedang, Desa Tambakberas. Pesantren didirikan KH Abdus Salam atau yang dikenal sebagai Mbah Shoichah.
Bersama para pengikutnya, KH Abdus Salam membangun sebuah langgar dan pondokan sederhana yang menampung sekitar 25 orang. Dari jumlah tersebut, pesantren ini kemudian dikenal dengan sebutan Pondok Selawe.
KH Abdus Salam memiliki sejumlah putra-putri. Salah seorang putrinya, Halimah, dinikahkan dengan Asy’ari, seorang santri asal Demak yang kelak dikenal sebagai cikal bakal pendiri Pondok Pesantren Tebuireng.
Sementara itu, putrinya yang lain, Fathimah, menikah dengan Sa’id. Dari pernikahan tersebut lahir Chasbullah yang kemudian menjadi salah satu tokoh penting dalam kelanjutan pesantren.
Setelah KH Abdus Salam wafat, Pondok Selawe diteruskan oleh KH Utsman. Di sisi lain, KH Sa’id mengembangkan pendidikan pesantren dengan mendirikan kompleks pesantren di sebelah barat Dusun Gedang setelah memperoleh izin dari mertuanya. Kompleks inilah yang kemudian berkembang menjadi Pondok Pesantren Bahrul Ulum.
Kepemimpinan selanjutnya diteruskan KH Chasbullah, putra KH Sa’id. Dalam mengembangkan pesantren, KH Chasbullah didampingi istrinya, Nyai Latifah. Dari pasangan ini lahir sejumlah putra-putri, di antaranya KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Abdul Hamid, KH Abdurrahim, Nyai Khodijah, Nyai Fatimah, Sholihah, Zuhriyah, dan Aminaturrokhiyah.
Pada 1920, KH Chasbullah wafat. Kepemimpinan pesantren kemudian diteruskan oleh putra-putranya, yakni KH Abdul Wahab, KH Abdul Hamid, dan KH Abdurrahim.
Nama Bahrul Ulum
Nama Bahrul Ulum belum digunakan pada masa KH Abdus Salam. Nama tersebut secara resmi diberikan oleh KH Abdul Wahab Hasbullah pada 1967.
KH Abdul Wahab Hasbullah sendiri dikenal sebagai salah satu ulama penting dalam sejarah Nahdlatul Ulama sekaligus tokoh perintis organisasi tersebut. Ia wafat pada 29 Desember 1971.
Memasuki 1987, kepemimpinan Pondok Pesantren Bahrul Ulum mulai dijalankan secara kolektif melalui Dewan Pengasuh. Dewan tersebut diketuai KH M. Sholeh Abdul Hamid. Pada masa ini juga berdiri Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum yang diketuai KH Ahmad Fatih Abd. Rohim.
Di bawah kepemimpinan KH M. Sholeh Abdul Hamid, perkembangan PP Bahrul Ulum berlangsung pesat. Sejumlah kompleks atau ribath kemudian tumbuh untuk menampung santri, di antaranya Al-Muhajirin, As-Sa’idiyah, Al-Muhibbin, Ar-Roudloh, Al-Ghozali, Al-Hikmah, Al-Wahabiyah, Al-Fathimiyah, Al-Lathifiyah, An-Najiyah, As-Salma, Al-Fattah, Al-Asy’ari, Kompleks Chasbullah, Al-Maliki, dan Al-Hamidiyah.
Setelah KH M. Sholeh Abdul Hamid wafat pada 2006, kepengasuhan dilanjutkan KH Amanullah Abdurrahim. Namun, KH Amanullah juga wafat pada 2007.
Selanjutnya, kepemimpinan Majelis Pengasuh PP Bahrul Ulum diteruskan oleh KH Hasib Abd. Wahab.
Perjalanan panjang sejak Pondok Selawe hingga menjadi Pondok Pesantren Bahrul Ulum menunjukkan bagaimana tradisi pendidikan pesantren di Tambakberas tumbuh dari sebuah langgar dan pondokan sederhana menjadi kompleks pendidikan Islam yang besar dan memiliki pengaruh luas. (KA)