JEPARA | GISTARA. COM – Mahasiswa tidak hanya dituntut kekritisannya di ruang kuliah, mahasiswa harus mampu memberikan solusi nyata di tengah masyarakat. Semangat transformasi inilah yang diwujudkan oleh Politeknik Balekambang (Polibang) Jepara melalui mega-program Politeknik Balekambang Mengabdi (POLEDI) 2026.
Berlangsung selama satu pekan penuh sejak 20-27 Agustus 2026, puluhan mahasiswa terjun langsung ke Desa Wanusobo, Kecamatan Kedung, Jepara. Mengusung grand tema “Sinergi Teknologi dan Semarak Maulid Nabi”, POLEDI tahun ini sukses membuktikan bahwa modernisasi teknologi bisa berjalan selaras dengan luhurnya nilai-nilai religius pedesaan.
Langkah pengabdian ini diawali dengan pelepasan 37 mahasiswa pelaksana inti di kampus Polibang pada Rabu (19/8). Dalam arahannya, Bapak Faiq Abror, M.Kom., menitikberatkan pada adab dan kepedulian sosial yang harus menjadi ujung tombak mahasiswa.
BACA JUGA: Sejarah Panjang Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang
“Karena kita berada di desa orang, tolong dijaga sikap dan nama baik almamater kita. Ibadah sholatnya juga harus terus dijaga. Selain itu, kalau ada warga yang sekiranya meminta atau membutuhkan bantuan, ya langsung dibantu semaksimal mungkin,” pesannya.
Aksi nyata ini mendapat karpet merah dari masyarakat. Dalam Opening Ceremony di Aula Balai Desa Wanusobo (20/8) yang diresmikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Balekambang Jepara, Gus Sibromalisi, M.Pd., otoritas desa menyatakan dukungan penuhnya. Kepala Desa Wanusobo, Syaefullah, menegaskan kebebasan berinovasi bagi para mahasiswa.
“Alhamdulillah, kami menyambut dengan lapang dada (welcome) kehadiran adik-adik mahasiswa. Dari pihak desa sudah menyampaikan, apapun bentuk program kerjanya silakan dijalankan saja, yang terpenting adalah kegiatannya nyata dan berdampak positif bagi warga kami,” ujar Syaifullah.
Edukasi pengolahan sampah
Sentuh Urat Nadi Ekonomi dan Lingkungan
Jejak nyata pertama POLEDI langsung menyasar hulu perekonomian desa. Kolaborasi UKM PALABA, Program Studi Agribisnis Peternakan (AP), dan HMPS ABI yang menghadirkan solusi komprehensif bagi Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) setempat.
Berangkat dari arahan Kaprodi AP Kresna Rahma Aji, S.Pd., M.Pd. dan Kaprodi HMPS ABI Mar’atus Sholikah, M.Pd., edukasi pengelolaan sampah kandang dari Saudari Kiya (21/8) langsung dieksekusi menjadi praktik lapangan oleh Saudara Robbit (23/8). Dampaknya luar biasa; limbah kandang yang tadinya menjadi persoalan lingkungan, kini diolah menjadi komoditas. Untuk memastikan keberlanjutan ekonomi, Dr. Nur Ahmad Budi Yulianto, M.M. turut membekali warga dengan strategi promosi marketplace agar produk olahan tersebut memiliki daya saing digital.
Pemberdayaan lingkungan juga menargetkan keluarga. HMPS Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) bersama ibu-ibu PKK (22/8) menghadirkan Sofia Ulfah, M.Kom. yang membekali strategi “Parental Control” untuk melindungi anak dari bahaya gawai, selanjutnya kegiatan dilanjutkan oleh panitia inti POLEDI yang membuahkan hasil ekonomi sirkular dimana ibu-ibu desa kini memiliki keterampilan baru menyulap limbah minyak jelantah sisa dapur menjadi lilin hias aromaterapi yang bernilai jual.
BACA JUGA: Heboh Pulau Menjangan Kecil Dikabarkan Dijual Rp500 Miliar, Bupati Jepara Tegaskan itu Hoaks
Hadir juga UKM Racana berhasil menanamkan karakter peduli lingkungan sejak dini di SDN Wanusobo (21/8) yang diikuti 20 siswa siaga, Alya Nur Hikmah selaku Ketua Pelaksana memandu outbound kreatif edukasi sampah, Selanjutnya kegiatan disempurnakan dengan keberanian siswa tampil unjuk bakat bersama UKM Tari Polibang, dalam rangkaian kegiatan di SDN Wanusobo.
Wariskan Aset Digital dan Asah Literasi
Berkomitmen untuk tidak sekadar “datang dan pergi”, mahasiswa Polibang mewariskan aset teknologi nyata. Pada Sabtu (22/8), panitia menggelar Bimtek sekaligus menyerahkan fasilitas baru berupa Website Perpustakaan Digital kepada MTs Salafiyah. Inovasi yang dipresentasikan oleh Muhammad Ahsan Muzakki ini secara langsung mentransformasi sistem administrasi literasi sekolah menjadi jauh lebih modern dan tertata.
Akselerasi kesiapan kerja juga diberikan di SMKN 1 Kedung (24/8) lewat Bimtek software akuntansi ‘Accurate’ oleh HMPS Akuntansi Keuangan Publik (AKP). Didukung penuh oleh Kepala Sekolah Bayu Dwi Jadmiko, S.Kom., materi komprehensif dari Junirin, S.E., M.Si. serta praktik dari Anni Safitri, S.Ak., M.Ak. sukses menjadi amunisi berharga bagi siswa SMK menghadapi digitalisasi industri.
Sementara itu, di MA Safinatul Huda, UKM Jurnalistik yang dipimpin Chika Anggraini melatih 15 siswa untuk tidak sekadar menjadi konsumen informasi, melainkan kreator berita yang mampu memverifikasi fakta dan memproduksi konten reportase yang akurat dan bebas hoaks.
Peringatan Maulid Nabi
Syiar Agama dan Ruang Ekspresi Pemuda
Visi keislaman tetap menjadi jangkar dari seluruh kemajuan ini. Pada Selasa (25/8), MI Salafiyah riuh oleh gema Festival Generasi Qur’ani Ceria 2026 garapan UKM JQH Al Chasbu. Ajang perlombaan da’i cilik, adzan, dan hafalan surat ini menjadi wadah konkret pembentukan karakter patriotik pencinta Al-Qur’an.
Puncak spiritualitas tergambar jelas di Masjid Baitul Muttaqin (24/8) saat ratusan jemaah dan mahasiswa larut dalam khusyuknya Puncak Peringatan Maulid Nabi. Acara yang diisi mauidhoh hasanah oleh KH Mustamir Wildan, pembacaan tahlil oleh KH Subaidi, dan doa dari KH Mukhtar ini syahdu dengan iringan mahalul qiyam dari grup Rebana UKM Musik Polibang.
Di sisi lain, POLEDI 2026 juga membuktikan bahwa pengabdian bisa merangkul tren terkini. UKM Polibang Sport Center (PSC) menyatukan 5 tim (25 pemuda desa) lewat Turnamen Mobile Legends. Kompetisi daring dan luring ini bukan sekadar bermain game, melainkan medium strategis untuk memperkuat solidaritas, sportivitas, dan kerja sama tim pemuda desa.
BACA JUGA: PMII Soroti Akses dan Kualitas Pendidikan Jepara
Bukan Sekadar Plakat Kenang-kenangan
Rangkaian mahakarya pengabdian ini resmi ditutup dengan Closing Ceremony di Aula Balai Desa Wanusobo (27/8). Penutupan dimeriahkan paduan suara dari UKM PSM dan siswa MTs Salafiyah, serta pemutaran after movie perjalanan POLEDI 2026.
Mewakili pengasuh, Budi Yulianto menegaskan bahwa seremonial ini bukanlah akhir, melainkan awal silaturahmi panjang antara kampus dan desa. Petinggi Desa Wanusobo, Bapak Saefulloh, merespons dengan apresiasi tinggi, memastikan bahwa ilmu yang ditularkan akan terus dijaga dan dikembangkan oleh warga.
Harapan terbesar datang dari Ketua Panitia POLEDI 2026, Muhammad A’zim Musyaddad. “Kami sangat berharap semua kegiatan yang dilaksanakan selama satu minggu ini tidak hanya berhenti saat seremoni penutupan. Semoga inovasi yang kami bawa dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, dan program-program ini bisa terus berkelanjutan ke depannya,” pungkas A’zim.
Pada akhirnya, kehadiran POLEDI 2026 sukses mendobrak stigma Kuliah Kerja Nyata (KKN) atau pengabdian tradisional. Mereka tidak sekadar datang untuk mengecat pagar atau meninggalkan plakat kenangan. Mereka mewariskan aset website, merintis kemandirian ekonomi dari limbah, membentengi anak-anak dari dampak buruk digital, dan menumbuhkan semangat baru bagi warga Wanusobo untuk maju berlari—tanpa pernah menanggalkan akar religiusitasnya. (KA)