JEPARA | GISTARA. COM – H. Mudzakir, yang akrab disapa Pak Dzakir, merupakan salah satu tokoh masyarakat yang dikenal aktif dalam kehidupan keagamaan dan organisasi di Desa Tahunan, Jepara. Beliau lahir di Demak pada 25 Maret 1964 dari pasangan Fir’atun dan Mustaqim, beliau berhasil dididik oleh keluarga yang membentuk pribadinya menjadi sosok yang tekun, aktif, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap kehidupan bermasyarakat.
Pendidikan formal beliau ditempuh mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA) di Kedungmutih, Demak. Pendidikan tersebut menjadi salah satu bekal penting dalam membentuk wawasan keagamaan dan karakter beliau yang kemudian tercermin dalam kiprahnya di tengah masyarakat.
Semasa muda, Pak Dzakir telah menunjukkan ketertarikannya terhadap kegiatan organisasi dan kemasyarakatan. Beliau aktif mengikuti berbagai organisasi, di antaranya IPNU, GP Ansor, Remaja Masjid, dan berbagai kegiatan kepemudaan serta keagamaan lainnya. Pengalaman berorganisasi sejak usia muda tersebut menjadi bekal berharga bagi beliau dalam menjalankan amanah dan berkontribusi bagi masyarakat.
BACA JUGA : Duet KH Miftachul Akhyar–Gus Kikin, Nahkoda Baru PBNU 2026–2031
Pada tahun 1995, beliau menikah dengan Ibu Mudrikah. Setelah menikah, beliau kemudian menetap di Desa Tahunan. Di tempat tinggal barunya tersebut, kiprah beliau dalam kegiatan keagamaan dan organisasi masyarakat semakin berkembang. Beliau tidak hanya menjadi bagian dari masyarakat, tetapi juga turut mengambil peran dalam menghidupkan berbagai kegiatan keagamaan dan organisasi.
Atas kepercayaan masyarakat dan anggota organisasi, Pak Dzakir kemudian dipercaya untuk menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah selama dua periode. Dalam masa kepemimpinannya, beliau membawa sejumlah perubahan yang memberikan warna baru bagi kehidupan organisasi. Kegiatan yang sebelumnya cenderung pasif mulai dihidupkan kembali menjadi lebih aktif dan terarah.
Salah satu kegiatan yang mendapat perhatian dan berkembang pada masa kepemimpinan beliau adalah Lailatul Ijtima’. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara rutin dan bergilir dari satu musholla ke musholla lainnya di Desa Tahunan. Melalui kegiatan ini, silaturahmi antarwarga semakin terjalin, sekaligus menjadi sarana untuk meningkatkan kegiatan keagamaan di tengah masyarakat.
Selain menghidupkan kegiatan organisasi, Pak Dzakir juga memberikan perhatian terhadap penataan administrasi organisasi. Administrasi yang sebelumnya masih belum terstruktur mulai ditata dan dibenahi agar lebih tertib dan sistematis. Upaya tersebut menjadi bagian penting dari kontribusi beliau dalam membangun organisasi yang lebih rapi, terarah, dan berkelanjutan.
Di luar kepengurusan organisasi, Pak Dzakir juga dikenal aktif mengikuti berbagai kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan. Beliau turut berpartisipasi dalam Jam’iyyah Khataman Al-Qur’an, Idaroh RT, Idaroh Haji, serta berbagai kegiatan sosial-keagamaan lainnya. Keaktifan tersebut menunjukkan kepedulian beliau terhadap kehidupan masyarakat sekaligus semangat untuk menjaga dan mempererat ukhuwah serta silaturahmi antar warga.
BACA JUGA: Heboh Pulau Menjangan Kecil Dikabarkan Dijual Rp500 Miliar, Bupati Jepara Tegaskan itu Hoaks
Bagi masyarakat yang mengenalnya, Pak Dzakir bukan sekadar seorang pengurus organisasi, tetapi juga sosok yang memiliki perhatian terhadap perkembangan kegiatan keagamaan di lingkungannya. Kiprah beliau dalam menghidupkan kegiatan, menata administrasi, serta menjaga hubungan baik dengan masyarakat menjadi bagian dari jejak pengabdian yang patut dikenang.
Setelah menjalani perjalanan hidup dan pengabdian yang panjang, H. Mudzakir wafat pada 23 Agustus 2021 dalam usia 57 tahun. Kepergian beliau meninggalkan duka dan kehilangan bagi keluarga, sahabat, serta masyarakat yang pernah berinteraksi dan berjuang bersama beliau.
Meski telah berpulang, berbagai bentuk pengabdian dan kontribusi yang beliau berikan semasa hidup tetap menjadi bagian dari kenangan masyarakat. Semangat beliau dalam berorganisasi, menghidupkan kegiatan keagamaan, mempererat silaturahmi, dan membangun keteraturan dalam organisasi menjadi teladan yang dapat terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya.
Semoga segala amal ibadah, pengabdian, dan kebaikan H. Mudzakir diterima di sisi Allah SWT, diampuni segala khilaf dan salahnya, serta ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin. (Zulfa Zuroida)