Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
GISTARA TV
Sunday, October 18, 2026
Top News
Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah
Cuaca Terik, Penjual Es Teh di Jepara Berhamburan
Mengenal Nyai Hindun Anisah, Caleg DPR RI Dapil Demak, Kudus, dan...
Kolam Renang Cinta Candi Liyangan Temanggung Jawa Tengah Terbaru 2022
Fenomena Bodoh Deklarasi Kasyaf Lewat Foto
Ribuan Orang Hadiri Haul Mbah Sahil ke 18, Ini Biografinya
Sejarah Pantai Nampu Wonogiri Jawa Tengah Terbaru 2022
Peringati Hari Ibu, MIDEHA Festival Gelar Lomba Kolaborasi dengan Ibu
Tak Perlu ke Eropa, Main Salju Bisa di Dusun Semilir Bawen
Rancangan Dapil Pemilu 2024 di Jepara Tidak Berubah
Gistara
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Copyright 2021 - All Right Reserved
Opini

Ketua PBNU dan Imperatif “Tajalli” Melampaui Intelektualisme Menuju Kejernihan Hati

by Redaksi 03/09/2026
Redaksi 03/09/2026 172 views
Oleh: N.S
172

Dalam dinamika organisasi terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar (PBNU) selalu menjadi momen krusial yang menentukan arah gerak umat Islam Nusantara. Selama beberapa dekade terakhir, kriteria kepemimpinan sering kali bergeser antara figur politisi ulung, akademisi brilian, atau birokrat handal. Namun, di tengah kompleksitas tantangan zaman—mulai dari radikalisme, disrupsi digital, hingga krisis makna spiritual—muncul sebuah wacana mendalam: Bahwa Ketua PBNU seyogianya bukan sekadar ulama yang faqih (ahli hukum), melainkan ulama yang memiliki tajalli.

Apa maksudnya? Dan mengapa hal ini menjadi urgensi di era modern?

Memaknai “Tajalli” dalam Konteks Kepemimpinan NU

Secara etimologi, tajalli (تجلّي) berarti penampakan, kejelasan, atau tersingkapnya cahaya. Dalam khazanah tasawuf Ahlussunnah wal Jama’ah yang menjadi napas NU, tajalli merujuk pada kondisi hati yang telah bersih dari hijab-hijab keduniawian sehingga mampu menerima pancaran cahaya kebenaran ilahi (nur).

Ketika dikatakan Ketua PBNU harus memiliki tajalli, ini tidak berarti ia harus menjadi seorang sufi yang mengasingkan diri di gua. Sebaliknya, ini menuntut adanya integrasi antara kedalaman ilmu syariat (zahir) dan ketinggian kesadaran spiritual (batin).

Ulama yang memiliki tajalli adalah mereka yang pengetahuannya tidak hanya berhenti di otak, tetapi telah meresap ke dalam hati. Ia memahami agama bukan sekadar sebagai kumpulan teks hukum, melainkan sebagai jalan hidup yang membawa ketenangan (sakinah) dan kebijaksanaan (hikmah).

BACA JUGA: Duet KH Miftachul Akhyar–Gus Kikin, Nahkoda Baru PBNU 2026–2031

Mengapa Intelektualisme Saja Tidak Cukup?

NU dikenal sebagai benteng tradisi keilmuan. Para pendirinya, seperti Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Chasbullah, adalah ulama yang sangat mumpuni secara intelektual. Namun, kekuatan utama mereka terletak pada kharisma spiritual dan bashirah (mata hati) yang tajam.

Di era modern, kita banyak melahirkan ulama-intelektual yang hebat berdebat, mahir menulis buku, dan fasih berbahasa asing. Namun, seringkali terjadi kesenjangan :

1. Kekeringan Spiritual ;
Fatwa yang dikeluarkan benar secara tekstual, namun keras dan kurang menyentuh rasa kemanusiaan umat.

2. Politik Identitas ;
Pemimpin yang terjebak pada pragmatisme politik karena hilangnya kompas moral yang bersumber dari kejernihan hati.

3. Ketidakmampuan Merangkul ;
Sulit menyatukan perbedaan karena melihat lawan bicara sebagai objek debat, bukan sebagai saudara seiman yang perlu dibimbing.

Di sinilah tajalli berperan. Seorang pemimpin dengan hati yang jernih akan memiliki kemampuan untuk melihat substansi masalah di balik gaduhnya permukaan. Ia tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu sesaat karena pondasi keyakinannya kokoh tertanam dalam pengalaman spiritual, bukan hanya hafalan dalil.

BACA JUGA: Perluas Akses Pendidikan, Bupati Jepara Salurkan Kartu Sarjana Rp2,49 Miliar

Ciri-Ciri Ketua PBNU yang Bercahaya (Tajalli)

Jika kita menilik sejarah kepemimpinan NU yang paling dicintai umat, seperti KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) atau KH. Hasyim Muzadi, kita menemukan jejak-jejak tajalli ini, meskipun dengan ekspresi yang berbeda-beda :

1. Kebijaksanaan yang Menyejukkan (Hikmah):
Keputusan yang diambil tidak hanya didasarkan pada hitungan untung-rugi politik, tetapi pada kemaslahatan umat jangka panjang dan ridha Ilahi. Ucapan dan tindakannya membawa efek menenangkan di tengah masyarakat yang gelisah.

2. Transparansi Hati (Shiddiq & Amanah):
Tajalli membuat seseorang sulit untuk bermuka dua. Apa yang terlihat di luar selaras dengan apa yang ada di dalam. Ini membangun kepercayaan publik yang sangat mahal harganya di era skeptisisme saat ini.

3. Kemampuan Membaca Zaman dengan Mata Hati:
Bukan hanya membaca tren media sosial, tetapi membaca “rasa” umat. Ia tahu kapan harus tegas, kapan harus melunak, dan kapan harus diam. Kepekaan ini lahir dari hati yang bersih, bukan dari konsultan politik.

4. Merawat Tradisi Tanpa Tertinggal Zaman:
Ulama bertajalli memahami bahwa menjaga tradisi (muhafazah) bukan berarti menolak perubahan, tetapi menyaring perubahan tersebut dengan filter nilai-nilai luhur Islam. Ia inovatif karena inspirasinya datang dari sumber yang jernih.

BACA JUGA: Heboh Pulau Menjangan Kecil Dikabarkan Dijual Rp500 Miliar, Bupati Jepara Tegaskan itu Hoaks

Tantangan dan Kritik

Wacana ini tentu bukan tanpa tantangan. Kritikus mungkin bertanya, “Bagaimana mengukur siapa yang punya tajalli? Apakah ini tidak subjektif?”

Memang, tajalli adalah ranah internal yang sulit dikuantifikasi. Namun, buahnya dapat dilihat dari akhlak kepemimpinan (leadership character). Dalam tradisi NU, proses pemilihan melalui bahtsul masail dan musyawarah mufakat sebenarnya adalah mekanisme untuk menyaring figur yang tidak hanya cerdas, tetapi juga diterima oleh hati para ulama lain (maqbul). Penerimaan kolektif para kiai sepuh sering kali merupakan indikator kasar dari kualitas spiritual seorang calon pemimpin.

Selain itu, penting ditegaskan bahwa tajalli tidak boleh dijadikan alasan untuk menyimpang dari syariat. Cahaya hati yang sejati akan selalu selaras dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Jika ada klaim spiritual yang bertentangan dengan hukum Islam yang jelas, maka itu bukan tajalli, melainkan ilusi.

Kembali ke Akar Spiritualitas NU

Semua orang bisa menjadi ketua atau kepala. Namun hanya yang memiliki tajalli yang mampu menjadi seorang pemimpin.

Nahdlatul Ulama didirikan bukan sekadar sebagai organisasi massa, tetapi sebagai gerakan kebangkitan ulama untuk menyelamatkan aqidah dan akhlak umat. Oleh karena itu, puncak pimpinannya harus merefleksikan idealisme tersebut.

Memilih Ketua PBNU yang memiliki tajalli adalah upaya untuk mengembalikan ruh NU. Kita membutuhkan pemimpin yang ketika berbicara, umat merasa terwakili; ketika bertindak, umat merasa dilindungi; dan ketika hadir, umat merasa tenang.

Di tengah dunia yang semakin bising dan penuh kepalsuan, NU membutuhkan pemimpin yang cahayanya nyata—bukan karena sorotan kamera, tetapi karena kejernihan hatinya. Itulah urgensi tajalli bagi Ketua PBNU di masa depan. (*)

HikmahPBNUTajalli
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Redaksi

previous post
Ketua PKK Kabupaten Jepara Ajak Masyarakat Ubah Minyak Jelantah Jadi Rupiah
next post
Dari Surau hingga NU: Jejak Pengabdian Mbah KH As’ari di Kalipucang Kulon

You may also like

Kekerasan Pasca 30 September 1965 di Pedesaan

01/10/2026

Karnaval “Satanic” Pekalongan, Sisa Spiritual yang Rapuh

29/09/2026

Merawat Marwah NU Jepara dari Keteladanan KH Ahmad Fauzan

25/09/2026

Peran MUI dalam Penguatan Mutu Pendidikan Islam dan Kompetensi Digital

18/09/2026

Undang-Undang Pesantren Dan Orientasi Pendidikan Indonesia

05/09/2026

Kembalinya Trah Tebuireng, Gus Kikin dan Perebutan Makna Identitas NU

01/09/2026

Terkini

  • Terpikat Tenun Troso, Ayu Heni Rosan Roeslani Dorong UMKM Jepara Mendunia

    18/10/2026
  • MI Mathalibul Huda Mlonggo Buka Program International School, Perkuat Penguasaan Bahasa Asing

    17/10/2026
  • SNT 14 Jepara Kenalkan Pembelajaran Berbasis Teknologi

    17/10/2026
  • Perkuat Konektivitas antar  Kawasan, Ruas Jalan  Keling-Bumiharjo Dimuluskan

    17/10/2026
  • Musran NU Srobyong, Ketua MWC NU Mlonggo Ajak Pengurus  Perkuat Peran Jam’iyah dalam Menjawab Kebutuhan Masyarakat

    16/10/2026
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Sign In

Keep me signed in until I sign out

Forgot your password?

Do not have an account ? Register here

Password Recovery

A new password will be emailed to you.

Have received a new password? Login here

Register New Account

Have an account? Login here