Oleh : Muhammad Ali Burhan
Perayaan Budaya di ruang publik merupakan bagian dari kebudayaan Nusantara. Perayaan Budaya yang lebih populer disebut Karnaval ini menjadi moment dan media ekspresi bagi masyarakat untuk mengekspresikan gagasan komunal mereka.
Setiap kali perayaan ini dilaksanakan, para peserta menghadirkan visualisasi kostum dan perangkat yang beragam untuk merespon Event yang dirayakan. Perayaan keagamaan, Kenegaraan, dan juga event Budaya dan atau Seni.
Kostum dan perangkat karnaval berbasis budaya lokal dan kontemporer adalah suguhan yang biasa didapatkan dari karnaval-karnaval tersebut. Ogoh-ogoh khas Bali, Gunungan khas Jawa, Masjid khas Islam Pesisir, Kuntilanak/Gendruwo, Pakaian adat Nusantara, Kostum ragam Profesi, hingga kostum hewan, dll adalah wujud ekspresi masyarakat.
Namun, terjadi anomali pada 10 September 2026 kemarin di Pekalongan. Maulid Nabi Muhammad dirayakan dengan menggelar karnaval yang salah satu pesertanya menggunakan visualisasi ekstrem seperti kostum berornamen kegelapan, figur bertanduk, hingga estetika satanic/black metal. Peristiwa ini sudah diklarifikasi oleh perwakilan tim Simone pada detikjateng (14/9/2026). “Kami menyesal, kami kurang Literasi. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya…”.
BACA JUGA: Jepara Bersholawat, Ikhtiar Batiniah Pemkab untuk Pembangunan Daerah
Dari pernyataan klarifikasi kelompok pelaku, Fenomena yang dilabeli sebagai “karnaval satanic” ini bukanlah kemunculan aliran pemujaan setan secara harfiah, melainkan sinyal bahaya atas mengeringnya ruang ekspresi spiritualitas anak muda.
Fenomena ini perlu dicermati sebagai pergeseran ekspresi spiritual para pemuda yang krisis ketersambungan dengan agama maupun kebudayan lokal. Hal ini lebih banyak diakibatkan oleh perpecahan narasi di panggung publik antara agama dan budaya.
Sebagian ulama dan penceramah menggunakan mimbar pengajian untuk menuding adat serta tradisi lokal sebagai amalan yang mendekati syirik, merendahkan, hingga mengharamkannya. Sementara itu, Komunitas adat membalas dengan narasi defensif, menuding agama formal sebagai pendorong “arabisasi” yang mengikis identitas kebudayaan Nusantara. Dua kutub yang berseberangan ini mengakibatkan kedua belah pihak sibuk membela dan mengklarifikasi keyakinannya masing-masing.
Di tengah perselisihan dua kelompok tersebut, konten budaya populer berseliweran tanpa filter melalui platform media sosial, didukung penuh oleh industri media, politik, dan ekonomi global.
BACA JUGA: Ulil Albab Apresiasi Jepara Bersholawat, Dorong Nilai Sholawat Jadi Energi Sosial
Budaya populer tidak menuntut apapun selain kebebasan, kesenangan dan kegembiraan. Budaya ini telah mewujud menjadi gerakan yang masif untuk mengajak dan mempengaruhi genesai muda.

Muhammad Ali Burhan
Begitu juga dibidang kebudayaan. Kebudayaan dibangun dan diperlakukan sebagai Industri yang paradigmanya lebih ke materi daripada jiwa dan karakter. Kebudayaan yang dibangun harus memberikan input ekonomi, kepuasan indrawi dengan kemegahannya, dan fokus pada ekslusifitas, sehingga menciptakan jarak yang semakin jauh dengan agama dan juga spiritualitas budaya itu sendiri.
Situasi ini memicu krisis kecemasan dan alienasi di kalangan generasi muda. Anak-anak muda berdiri di tengah persimpangan yang membingungkan. Ketika ingin mengekspresikan spiritualitas melalui simbol religius yang identik dengan gaya Timur Tengah atau Budaya Santri, mereka membayangkan stigma atau ejekan sosial. Saat hendak berpaling ke tradisi lokal, mereka merasa asing karena tidak lagi dibiasakan atau merasa budaya tersebut tidak relevan dengan bahasa zaman mereka.
BACA JUGA: 21 Dapur MBG di Jepara Disidak Serentak Dini Hari, Dari Bahan Baku hingga IPAL Diperiksa
Estetika satanic atau subkultur black metal yang diadopsi dalam karnaval acara Maulid Nabi Muhammad SAW yang dipilih sebagai media ekspresi, bukan untuk menyembah iblis, melainkan sebagai “ruang netral” dan menarik perhatian. Estetika tersebut dipandang aman dari trauma perdebatan budaya agama dan Budaya Lokal yang dikotomis, sekaligus menjadi medium perlawanan simbolis atas kerapuhan spiritual yang mereka alami.
Karnaval Pekalongan menyingkap sisa-sisa spiritual kaum muda yang rapuh. Fenomena ini membedah krisis pengasuhan generasi muda dan diskoneksi ruang publik oleh tokoh agama dan budaya.
Spiritualitas dari ajaran agama yang menjelma dan menyatu dalam laku kebudayaan sangat penting sebagai pelindung makna hidup. Agama dan Budaya adalah satu kesatuan laku yang sinergis dan saling menguatkan. Ketika arus gerak kebudayaan berisi penceramah agama dan pegiat adat yang saling berseberangan, saling serang, saling merendahkan, dan saling menyalahkan, maka spiritualitas agama dan budaya akan runtuh. Akibatnya anak muda gagap membaca dan akan mencari budaya tanding (counter-culture) sebagai media ekspresi.
BACA JUGA: Pemkab Jepara Ajak Warga Kenali Rokok Ilegal, Ada Risiko Hukum Pidana bagi Pembuat dan Pengedar
Semangat Spiritual yang tumbuh dari para pemuda membutuhkan ruang yang luas dan akomodatif terhadap gagasan-gagasan kreatif mereka. Keinginan para pemuda di Pekalongan untuk mengekspresikan kecintaan pada Nabi Muhammad tidak menemukan media yang segar. Anak-anak muda justru menemukan bahwa komunitas subkultur seperti paguyuban black metal atau musik ekstrem lebih intens merangkul, memberi ruang berteman, dan memvalidasi kebebasan berekspresi mereka tanpa syarat normatif yang menghakimi.
Fenomena di jalanan Pekalongan ini memberikan panggilan kritis bagi masa depan pengasuhan kebudayaan dan spiritualitas dari para tokoh masyarakat. Tokoh agama dan ulama perlu menggeser fokus dari sekadar formalisme hukum dan kemegahan fisik menuju pendekatan emosional yang inklusif, merangkul realitas dengan bahasa anak muda. Begitu juga para pelaku budaya, harus menurunkan egosentrisnya dengan tidak menyebarkan narasi defensifnya kepada agama.
Muhammad Ali Burhan, Ketua PD Forum TBM Jepara