PEKALONGAN | GISTARA. COM – Anggota DPRD Jawa Tengah, Sumarwati, bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Jawa Tengah, secara konsisten mendorong masyarakat untuk mengadopsi prinsip ekonomi sirkular dengan mengolah limbah rumah tangga maupun usaha menjadi produk bernilai guna dan bernilai jual tinggi. Persoalan sampah yang selama ini menumpuk tanpa memberi nilai tambah memerlukan langkah taktis dan kepemimpinan di tingkat akar rumput.
Gagasan tersebut ditegaskan Sumarwati dalam Dialog Aktual bertema “Mengubah Limbah Menjadi Berkah: Inovasi Pengolahan Sampah Organik Berbasis Ekonomi Sirkular” yang digelar bersama kader Muslimat NU Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, Sabtu (19/9/2026).
Bagi Sumarwati, pengolahan sampah bukan sekadar wacana teoritis di atas kertas, melainkan sebuah praktik nyata yang telah terbukti berjalan di lapangan. Di beberapa wilayah Wonopringgo, inisiatif warga dalam memilah dan mengolah limbah terbukti mampu memberikan manfaat konkret bagi perbaikan lingkungan sekaligus menggerakkan perekonomian keluarga.
BACA JUGA: Investor Dubai Bidik Jepara untuk Pembangunan Kilang Minyak, Investasi Capai 5 Triliun
“Tema yang kita usung ini berakar dari praktik yang sudah terbukti di masyarakat. Salah satu desa di Wonopringgo telah berhasil mengolah sampah menjadi berkah, dan model seperti ini harus kita perluas agar tidak berhenti sebagai gerakan lokal semata,” ujar Sumarwati.
Lebih lanjut, Anggota Fraksi PKB DPRD Jawa Tengah dari Daerah Pemilihan Pekalongan, Kota Pekalongan, Batang dan Pemalang ini menjelaskan bahwa hampir seluruh jenis limbah rumah tangga dan usaha memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali apabila dikelola secara kreatif. Limbah kulit buah, misalnya, dapat diproses menjadi sabun nonkimia. Sementara plastik bekas kemasan makanan dan botol minuman pernah dikreasikan menjadi bahan pakaian unik saat Festival Kemerdekaan di Wonopringgo.
Kesadaran pemilahan sampah dari sumbernya juga telah bertumbuh pesat berkat pendampingan yang ada. Di Desa Rowokembu, Kecamatan Wonopringgo, warga kini dibiasakan memisahkan sampah secara disiplin berdasarkan kategorinya: organik, anorganik, hingga limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Bahkan, limbah rumit seperti popok bayi sekali pakai turut disulap melalui teknik khusus menjadi pot tanaman yang memiliki daya tahan baik. DPRD Jateng bersama BRIDA Jateng berkomitmen untuk terus mendorong replikasi inovasi ini melalui gerakan pemberdayaan perempuan di berbagai wilayah.

Salah satu peserta memberikan respons saat sesi diskusi
Lebih lanjut Sumarwati menjelaskan metode penanganan sampah harus terintegrasi dan pengelolaannya harus penuh kesadaran dari hilir
“Kunci utama penanganan sampah bukanlah seberapa canggih teknologi di hilir, melainkan konsistensi perubahan perilaku masyarakat di hulu. Jika pemilahan sampah organik, anorganik, dan limbah berbahaya sudah selesai di tingkat dapur dan komunitas, persoalan lingkungan dan ancaman kesehatan dapat kita tekan secara signifikan.” Jelas Politisi asal Pekalongan ini.
Mendorong Perubahan Perilaku dan Inovasi Riset
Menyelaraskan langkah legislatif tersebut, Analis Kebijakan Ahli Muda BRIDA Jateng, Dr. Tri Susilowati, menyampaikan bahwa riset dan inovasi pengelolaan sampah harus dipastikan sampai pada tahap penerapan langsung oleh masyarakat (downstream application). Pengelolaan sampah yang terhenti di hilir tanpa pemilahan hanya akan memindahkan masalah dan berpotensi memicu persoalan lingkungan serta kesehatan yang lebih besar.
BACA JUGA: Ulil Albab Ajak Pramuka Melek Perda dan Berani Ambil Peran
Dari sudut pandang praktisi, Pengurus Bank Sampah Induk Sahabat Bumi Kabupaten Pekalongan, Tri Indah Mulyaningsih, menjelaskan bahwa limbah organik memegang porsi terbesar dan memiliki fleksibilitas pengolahan yang tinggi.
“Limbah organik bisa kita ubah menjadi pupuk kompos, cairan eco-enzyme yang kaya manfaat, hingga media budidaya maggot (larva lalat black soldier fly). Semua teknik ini relatif mudah dipelajari dan dipraktikkan langsung di tingkat rumah tangga,” terang Tri Indah.
Namun, ia menggarisbawahi bahwa tantangan mendasar dalam pengelolaan sampah bukanlah ketersediaan teknologi, melainkan konsistensi perubahan perilaku masyarakat. Tanpa adanya kesadaran untuk memilah sejak dari dapur dan komunitas, pengelolaan sampah hanya akan menjadi aktivitas memindahkan beban masalah dari satu tempat ke tempat lain.
Melalui pendekatan ekonomi sirkular yang didorong para pemangku kebijakan, pengolahan limbah tidak lagi dipandang sebagai sekadar urusan kebersihan, melainkan sebagai aktivitas produktif. Apabila rantai pemilahan, pengolahan, hingga pemasaran produk daur ulang berjalan secara terintegrasi, limbah yang semula dianggap tak bernilai berpotensi kuat menjadi sumber pendapatan baru sekaligus mengurangi beban pencemaran lingkungan secara berkelanjutan. (KA/Irfan Rosyadi)