JEPARA | GISTARA. COM – Forum Kabupaten Jepara Sehat (FKJS) mulai memperkuat kelembagaan Kabupaten/Kota Sehat (KKS) hingga tingkat desa dan kelurahan sebagai langkah strategis menuju Swasti Saba Wistara pada 2027.
Upaya tersebut dilakukan melalui kunjungan langsung, edukasi, serta asesmen dokumen kelompok kerja (pokja) Desa Sehat untuk memastikan kelembagaan berjalan aktif dan memiliki program yang berkelanjutan.
Langkah jemput bola itu mulai dilaksanakan pada Selasa (20/10/2026), dengan menyasar tiga wilayah sebagai lokasi pembinaan awal, yakni Kelurahan Pengkol dan Desa Kuwasen di Kecamatan Jepara, serta Desa Ngetuk di Kecamatan Nalumsari. Melalui kegiatan tersebut, FKJS ingin memastikan bahwa penguatan Kabupaten Kota Sehat (KKS) didukung oleh kecamatan serta desa dan kelurahan.
BACA JUGA: Santri dan Subyek Pembangunan Jepara: Merajut Inovasi, Sains, dan Transformasi Ekonomi Menuju Indonesia Emas
Ketua FKJS Jepara dr. Dwi Susilowati, M.Kes., mengatakan, penguatan kelembagaan menjadi salah satu langkah penting dalam mempersiapkan daerah menghadapi penilaian KKS.
Menurut dia, keberadaan pokja di tingkat desa dan kelurahan perlu diikuti dengan aktivitas nyata, dukungan pemerintah setempat, serta pelaksanaan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Pada hari ini kami mulai tancap gas melakukan kunjungan, memberikan edukasi tentang Kabupaten Kota Sehat (KKS), sekaligus melakukan asesmen dokumen pada pokja Desa Sehat. Sebagai langkah awal, ada tiga desa dan kelurahan yang menjadi lokasi binaan,” ujar Dwi Susilowati, yang akrab disapa Dokter Susi.
BACA JUGA: Andalkan Potensi Kopi, Desa Dudakawu Masuk 25 Besar Program Desa BRILiaN
Ia menjelaskan, program pembinaan tersebut akan dilaksanakan secara berkelanjutan. FKJS juga telah membagi koordinator di setiap wilayah kawedanan untuk memperluas jangkauan pendampingan dan mempermudah koordinasi dengan pemerintah kecamatan maupun desa.
Dalam pelaksanaan pembinaan di Kelurahan Pengkol, FKJS menugaskan Retno Kusbandiyah, SKM., dr. Triyono Teguh Widodo, MM., dan Wahid Anwar, S.KM., M.KL., dengan pendampingan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Rukmawati.
Di Desa Kuwasen, tim terdiri atas dr. Dwi Susilowati, M.Kes., Sri Poeryanti Ulmin Harum, MK., dan Agus Nur Cahyono, S.KM., dengan pendamping Rini Indrawati, S.KM., M.KL., dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara. Sementara itu, pembinaan di Desa Ngetuk dilaksanakan oleh Drs. Zaenuri Toha dan Asrori, S.KM.
Anggota FKJS memberikan pembinaan di Kelurahan Pengkol Jepara
Anggota tim FKJS, Drs. Zaenuri Toha, menilai kunjungan langsung memberikan kesempatan bagi tim untuk melihat kondisi kelembagaan secara lebih nyata. Melalui asesmen, tim dapat mengetahui apakah pokja telah menjalankan tugas, bagaimana dukungan pemerintah desa, serta kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program.
“Dengan kegiatan seperti ini, kita bisa langsung melakukan asesmen terhadap pelaksanaan pokja Desa Sehat. Kita dapat melihat apakah kelembagaannya aktif, bagaimana dukungan pemerintah desa, serta menggali kendala dan program kerja yang sudah maupun akan dilaksanakan,” ujarnya.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat proses pembinaan lebih tepat sasaran. Hasil asesmen dapat menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan pendampingan, memperbaiki kekurangan administrasi, serta mendorong agar program kesehatan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat berjalan sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah.
BACA JUGA: Jelang Pilpet, Pemkab Jepara Petakan Kerawanan
Pandangan serupa disampaikan anggota FKJS, Sri Poeryanti Ulmin Harum, MK. Menurut dia, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk memberikan dukungan sekaligus memperkuat peran pokja Desa Sehat sebagai salah satu pilar penyelenggaraan Kabupaten/Kota Sehat.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap pokja Desa Sehat semakin kuat, aktif, dan mampu menjalankan perannya. Kelembagaan di tingkat desa menjadi bagian penting dalam membangun Kabupaten/Kota Sehat karena pelaksanaan program harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” katanya.
Kabupaten Kota Sehat (KKS) merupakan kondisi wilayah yang bersih, nyaman, aman, dan sehat untuk dihuni masyarakat. Pencapaiannya membutuhkan keterlibatan lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, perangkat kecamatan, pemerintah desa dan kelurahan, fasilitas pelayanan kesehatan, hingga masyarakat.
Dalam konteks tersebut, kelembagaan berperan sebagai penggerak koordinasi, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program. Pokja yang aktif di tingkat desa dan kelurahan diharapkan mampu mengidentifikasi persoalan setempat sekaligus mengembangkan kegiatan yang menjawab kebutuhan warga.
FKJS Jepara menargetkan pemenuhan aspek kelembagaan secara maksimal di seluruh tingkatan. Target internal yang menjadi perhatian adalah pemenuhan minimal 80 persen pada setiap tingkatan, dengan harapan dapat ditingkatkan hingga 100 persen. Capaian tersebut perlu dibuktikan melalui dokumen dan pelaksanaan kegiatan yang sesuai dengan indikator serta ketentuan penilaian KKS.
Penghargaan Swasti Saba diberikan kepada kabupaten atau kota berdasarkan capaian penyelenggaraan KKS. Tingkatan penghargaan meliputi Padapa, Wiwerda, dan Wistara. Bagi FKJS Jepara, Wistara menjadi sasaran yang ingin diperjuangkan melalui pembenahan kelembagaan dan penguatan program secara bertahap.
“Alhamdulillah, peserta dari desa dan kelurahan mengikuti kegiatan dengan semangat. Kami ingin semangat ini terus terjaga, kemudian diterjemahkan menjadi kegiatan nyata dan dokumen yang tertata. Cita-cita kami adalah meraih Swasti Saba Wistara pada 2027,” kata dr. Susi.
BACA JUGA: Bupati Jepara Prioritaskan Perbaikan Jalan dan Akses Wisata Kemujan
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara H. Diyar Susanto, S.H., M.H., mendukung penguatan kelembagaan KKS sebagai bagian dari upaya membangun lingkungan yang sehat dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Menurut dia, penyelenggaraan Kabupaten/Kota Sehat tidak dapat hanya dibebankan kepada sektor kesehatan, tetapi harus menjadi acuan bersama bagi seluruh sektor pembangunan.
“Prinsip Kabupaten/Kota Sehat perlu dijadikan acuan oleh seluruh sektor pembangunan agar tercipta lingkungan yang mendukung kesehatan masyarakat. Upaya ini penting untuk mengoptimalkan pelayanan kesehatan, terutama melalui pendekatan promotif dan preventif,” ujar Diyar.
Pendekatan promotif dan preventif menekankan pentingnya menjaga kesehatan serta mencegah timbulnya penyakit melalui lingkungan yang mendukung, perilaku hidup bersih dan sehat, serta keterlibatan aktif masyarakat. Karena itu, keberadaan pokja Desa Sehat diharapkan dapat menjadi wadah koordinasi yang mendorong perubahan nyata di tingkat lokal.
Melalui pembinaan langsung dan pemetaan kendala di setiap wilayah, FKJS Jepara berharap penguatan kelembagaan dapat berlangsung lebih terarah. Pendampingan selanjutnya akan menjadi bagian penting untuk memastikan setiap pokja memiliki program kerja, menjalankan kegiatan secara konsisten, serta mampu menunjukkan hasil yang dapat dirasakan oleh masyarakat. (KA)