Peringatan Hari Santri tahun ini mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Di Kabupaten Jepara, momentum ini merefleksikan sebuah panggilan sejarah yang mendesak, santri tidak boleh lagi hanya diposisikan sebagai obyek sejarah atau penonton pembangunan, melainkan harus bertransformasi menjadi subyek utama pembangunan.
Jepara dengan kekayaan kultural dan sumber daya alamnya memerlukan sentuhan intelektual santri yang inovatif, inspiratif, dan siap memimpin masa depan daerah.
BACA JUGA: Andalkan Potensi Kopi, Desa Dudakawu Masuk 25 Besar Program Desa BRILiaN
Menembus Batas: Agama, Bisnis, dan Sains dalam Satu Napas
Selama ini, dikotomi antara ilmu agama (ukhrawi) dan ilmu duniawi (pembangunan ekonomi, sains, serta teknologi) kerap menjadi tembok pembatas. Melalui pendekatan “Teologi Pembebasan” dan “Islam Transformatif'”, pemikiran keagamaan dirombak dari sekadar ritualistik-konsumtif menjadi gerakan profetik yang membebaskan masyarakat dari belenggu kemiskinan, ketertinggalan, dan strukturalisme yang merugikan.
Islam transformatif mengajarkan bahwa tauhid tidak berhenti pada pengakuan keesaan Tuhan, melainkan bermanifestasi dalam kerja-kerja emansipatoris konkret.
Santri Jepara dipanggil untuk membuktikan bahwa nilai-nilai profetik mampu berpadu selaras dengan rasionalitas sains, kecanggihan teknologi, serta kelihaian ekonomi bisnis modern.
BACA JUGA: Perkuat Konektivitas antar Kawasan, Ruas Jalan Keling-Bumiharjo Dimuluskan
Menggerakkan UMKM di Semua Lini
Jepara bukan sekadar kota tua dengan jejak sejarah Ratu Kalinyamat dan Kartini, tetapi juga raksasa ekonomi kerakyatan. Potensi daerah ini membentang luas di berbagai sektor:
Pertama, Meubel dan ukiran kayu, sebagai identitas global, industri ukir legendaris Jepara memerlukan sentuhan inovasi digital, e-commerce, dan manajemen bisnis modern agar produk lokal mampu menembus pasar internasional secara berkelanjutan.
Kedua, Pertanian dan Kelautan, Garis pantai yang panjang serta lahan subur menyimpan potensi ketahanan pangan dan maritim yang masif. Santri dapat masuk melalui modernisasi agrikultur dan teknologi perikanan tangkap maupun budidaya.
Ketiga, Sektor kreatif lainnya, Penguatan UMKM di semua lini menjadi kunci kemandirian ekonomi umat.
Dengan teologi pembebasan, pemberdayaan UMKM ini dilihat bukan sekadar mencari profit semata, melainkan sebagai instrumen i’marul ardhi (memakmurkan bumi) dan redistribusi keadilan sosial bagi kaum dhuafa serta buruh pengrajin yang termarjinalkan.
BACA JUGA: BPS Jepara Ingatkan, Jangan Keliru Membaca Angka Ekonomi
Pemimpin Masa Depan yang Inspiratif dan Adaptif
Jepara masa depan membutuhkan kepemimpinan yang berakar pada nilai-nilai pesantren; kejujuran, kemandirian, dan khidmah kepada umat, namun luwes menghadapi disrupsi zaman.
Santri inovatif adalah mereka yang akrab dengan algoritma, cerdas membaca pasar global, namun tetap berhati nurani lembut ala kiai pesantren.
Mari jadikan Hari Santri 2026 momentum kebangkitan kolektif. Dari Jepara, santri menggebrak nusantara: mengawinkan iman dan amal saleh, membumikan sains, serta memimpin kemajuan ekonomi demi terwujudnya masyarakat yang adil, makmur, dan diridhai Allah SWT.
H. Nur Hidayat, Ketua Komisi C DPRD Jepara