Khoirul Muslimin Ajak Mahasiswa BCB UNISNU Cerdas Kelola Keuangan dan Berwirausaha

Khoirul Muslimin Wakil Dekan FDK Unisnu Jepara memberikan pembinaan pada mahasiswa penerima BCB

JEPARA | GISTARA.COM – Suasana khidmah dan penuh keakraban mewarnai pembinaan rutin mahasiswa penerima Beasiswa Cendekia BAZNAS (BCB) Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara di Kafe Monokopi Jepara. Dalam suasana santai, para mahasiswa diajak memperkuat literasi keuangan sekaligus menumbuhkan jiwa kewirausahaan yang kreatif, mandiri, disiplin, dan berlandaskan nilai-nilai Islam, Senin (19/10/2026).

Pembinaan bertema Literasi Keuangan dan Kewirausahaan tersebut disampaikan Khoirul Muslimin, Mentor BCB UNISNU Jepara yang juga Wakil Dekan Fakultas Komunikasi dan Desain (FKD) UNISNU Jepara. Materi tidak hanya membahas cara mengatur uang, tetapi juga menekankan pentingnya membangun pola pikir finansial yang sehat, merencanakan masa depan, serta mengembangkan usaha secara bertanggung jawab.

Di hadapan mahasiswa penerima beasiswa, Khoirul menegaskan bahwa kecakapan mengelola keuangan merupakan bekal penting untuk membangun kemandirian. Menurutnya, mahasiswa perlu membiasakan diri mengatur pemasukan, mengendalikan pengeluaran, menabung, dan merencanakan penggunaan uang secara terukur sejak dini.

“Jangan menunggu memiliki penghasilan besar untuk belajar mengelola keuangan. Justru ketika masih menjadi mahasiswa, kebiasaan mengatur uang harus mulai dibangun. Berapa pun pemasukan yang kita miliki, semuanya perlu direncanakan, dicatat, dan dievaluasi,” tegas Khoirul dalam pembinaannya.

BACA JUGA: Momentum Hari Santri 2026, Bupati Jepara Ajak Santri Kembangkan Ilmu Pengetahuan hingga Kewirausahaan

Ia menjelaskan, pengelolaan keuangan bukan sekadar persoalan banyak atau sedikitnya uang yang dimiliki. Lebih dari itu, kemampuan mengendalikan diri, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menentukan prioritas menjadi kunci agar kondisi keuangan tetap sehat.

“Sering kali persoalan keuangan bukan semata-mata karena pendapatan yang kurang, melainkan karena pengeluaran tidak terkendali. Karena itu, kita harus bisa membedakan mana kebutuhan yang harus dipenuhi dan mana keinginan yang masih bisa ditunda,” ujarnya.

Khoirul juga mengajak mahasiswa membiasakan pencatatan seluruh pemasukan dan pengeluaran harian. Kebiasaan sederhana tersebut dinilai dapat membantu mahasiswa mengetahui ke mana uang digunakan, mengidentifikasi pengeluaran yang tidak perlu, dan menyusun perencanaan keuangan yang lebih baik.

Menurutnya, disiplin finansial harus dibangun melalui tindakan nyata, bukan hanya niat. Mahasiswa perlu membiasakan diri menyisihkan sebagian pendapatan atau uang saku untuk tabungan dan kebutuhan masa depan.

Dalam materi pembinaannya, ia memperkenalkan pola anggaran 50/30/20 sebagai salah satu pendekatan praktis untuk mengatur keuangan.
Pola tersebut membagi anggaran menjadi 50 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk keinginan dan kebutuhan sosial, serta 20 persen untuk tabungan, dana darurat, dan kewajiban zakat apabila telah memenuhi ketentuan. Penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan keuangan masing-masing mahasiswa.

“Menabung jangan hanya mengandalkan uang sisa. Sisihkan terlebih dahulu sesuai kemampuan, kemudian atur pengeluaran berdasarkan anggaran yang sudah dibuat. Dengan cara itu, kita belajar disiplin dan tidak mudah mengikuti gaya hidup konsumtif,” jelasnya.

Ia turut mengingatkan pentingnya menghindari utang konsumtif dan mempertimbangkan kemampuan membayar sebelum mengambil kewajiban finansial. Mahasiswa harus memahami bahwa keputusan keuangan hari ini dapat memengaruhi kondisi ekonomi pada masa mendatang.

Keuangan Sehat Berawal dari Amanah

Dalam perspektif Islam, Khoirul menekankan bahwa harta merupakan amanah dari Allah SWT yang harus diperoleh dan dikelola secara bertanggung jawab. Oleh karena itu, literasi keuangan tidak cukup hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga harus memperhatikan kehalalan sumber pendapatan, kejujuran dalam pengelolaan, serta kemanfaatannya bagi sesama.

“Harta bukan sekadar sesuatu yang kita kumpulkan untuk kepentingan pribadi. Ada tanggung jawab di dalamnya. Kita harus memastikan cara memperolehnya halal, mengelolanya secara adil dan jujur, serta memanfaatkannya untuk kebaikan,” ungkapnya.

Penegasan tersebut menjadi landasan bagi mahasiswa untuk membangun kebiasaan finansial yang tidak hanya cerdas secara ekonomi, tetapi juga memiliki nilai ibadah. Menurut Khoirul, kebiasaan menabung, menghindari pemborosan, menunaikan zakat apabila telah memenuhi syarat, serta membiasakan infak sesuai kemampuan merupakan bagian dari tanggung jawab dalam mengelola harta.

Ia juga mengingatkan bahwa mahasiswa penerima beasiswa perlu menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap amanah yang diterima. Beasiswa hendaknya dimanfaatkan secara tepat untuk mendukung pendidikan, pengembangan kompetensi, dan persiapan masa depan.

“Beasiswa harus menjadi sarana untuk bertumbuh. Mahasiswa perlu belajar bertanggung jawab, mengatur kebutuhan pendidikan, mengembangkan kapasitas diri, dan menyiapkan masa depan. Jangan sampai kesempatan yang baik ini tidak diiringi dengan kedisiplinan dan perencanaan,” pesannya.
Mahasiswa Perlu Berani Berwirausaha

Selain literasi keuangan pribadi, pembinaan tersebut menyoroti pentingnya kewirausahaan sebagai jalan membangun kemandirian. Khoirul mendorong mahasiswa agar tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan setelah lulus, tetapi juga berani melihat peluang usaha dari keahlian, potensi lingkungan, dan kebutuhan pasar.

BACA JUGA: Perkuat Konektivitas antar  Kawasan, Ruas Jalan  Keling-Bumiharjo Dimuluskan

Menurutnya, kewirausahaan tidak selalu harus dimulai dengan modal besar. Mahasiswa dapat mengawali usaha dari ide sederhana, keterampilan yang dimiliki, atau produk dan jasa yang dibutuhkan masyarakat. Hal terpenting adalah keberanian memulai yang disertai perencanaan, ketekunan, dan kemauan untuk terus belajar.

“Jangan menunggu semuanya sempurna untuk memulai. Kenali kemampuan diri, lihat peluang di sekitar, kemudian susun rencana usaha yang realistis. Usaha yang baik dibangun melalui proses, kedisiplinan, kreativitas, dan keberanian untuk terus memperbaiki diri,” tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa sebelum menjalankan usaha, mahasiswa perlu menganalisis pasar, menentukan model bisnis, menghitung modal awal, memperkirakan biaya operasional, serta merancang harga dan promosi. Perencanaan tersebut penting agar usaha tidak sekadar berjalan, tetapi memiliki arah dan peluang untuk berkembang.

Khoirul juga menekankan pentingnya memisahkan keuangan pribadi dan keuangan usaha. Pencampuran kedua jenis keuangan itu, menurutnya, dapat menyebabkan pelaku usaha kesulitan mengetahui kondisi kas, menghitung keuntungan, dan menentukan kebutuhan modal berikutnya.

“Uang usaha bukan uang pribadi yang bisa digunakan sesuka hati. Kas usaha harus digunakan untuk kebutuhan operasional, membeli bahan, promosi, dan pengembangan usaha. Jika keuangan pribadi dan usaha dicampur, kita akan kesulitan mengetahui apakah usaha benar-benar menghasilkan keuntungan,” jelasnya.

Karena itu, ia mendorong mahasiswa yang mulai merintis usaha untuk membuat pencatatan transaksi secara rutin, mengevaluasi arus kas, dan menghitung laba-rugi. Kebiasaan tersebut dapat diterapkan sejak usaha masih berskala kecil agar pengelolaan keuangan menjadi lebih tertib ketika usaha berkembang.

Teknologi Digital dan Etika Bisnis

Dalam perkembangan ekonomi digital, Khoirul mengingatkan mahasiswa agar memanfaatkan teknologi untuk mendukung efisiensi dan transparansi usaha. Pencatatan keuangan dapat dibantu dengan aplikasi pembukuan, seperti Excel, BukuKas, QuickBooks, atau aplikasi sejenis. Sementara itu, pembayaran digital dapat membantu pencatatan transaksi dan memudahkan pemantauan arus kas.

Namun, pemanfaatan teknologi harus disertai tanggung jawab dalam menjaga keamanan akun serta kerahasiaan data pelanggan. Menurutnya, kepercayaan merupakan modal penting dalam membangun usaha yang berkelanjutan.

“Teknologi harus dimanfaatkan untuk mempermudah pekerjaan, bukan membuat kita mengabaikan tanggung jawab. Catatan transaksi harus tertib, data pelanggan harus dijaga, dan setiap aktivitas usaha harus dilakukan secara jujur serta amanah,” tandasnya.

BACA JUGA: Jelang Pilpet, Pemkab Jepara Petakan Kerawanan

Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah menaikkan gaya hidup ketika memperoleh pendapatan lebih besar. Bagi mahasiswa yang memiliki penghasilan tidak tetap dari proyek atau pekerjaan lepas, perencanaan keuangan perlu dilakukan lebih cermat, termasuk menyiapkan cadangan biaya hidup untuk bulan berikutnya sebelum menggunakan uang untuk keperluan lain.

Dalam pembinaan tersebut, kewirausahaan juga ditekankan sebagai proses yang membutuhkan kreativitas, inovasi, kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab sosial, etika, dan sikap pantang menyerah. Keberhasilan usaha tidak hanya diukur dari besarnya keuntungan, tetapi juga dari proses yang jujur, kualitas produk, serta manfaat yang diberikan kepada masyarakat.

Menutup materi, Khoirul mengajak mahasiswa menjadikan pembinaan rutin BCB sebagai ruang belajar untuk membentuk karakter dan mempersiapkan masa depan. Ia menegaskan bahwa perubahan kondisi keuangan dan keberhasilan usaha perlu dimulai dari perubahan pola pikir serta kebiasaan sehari-hari.

“Mulailah dari hal sederhana: catat pengeluaran, susun anggaran, sisihkan tabungan, dan berani mengembangkan ide usaha yang halal. Lakukan secara konsisten. Kemandirian finansial tidak dibangun dalam satu malam, tetapi melalui kebiasaan baik yang dijalankan terus-menerus,” pungkasnya.

Melalui pembinaan ini, mahasiswa penerima Beasiswa Cendekia BAZNAS UNISNU Jepara diharapkan semakin cakap mengelola keuangan, mampu membaca peluang usaha, serta memiliki mentalitas wirausaha yang mandiri dan berintegritas. Dengan demikian, beasiswa tidak hanya mendukung keberlanjutan pendidikan, tetapi juga menjadi bagian dari proses membentuk generasi muda yang produktif, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi masyarakat. (AD)

Related posts

HSN MWC NU Tahunan, Santri Didorong Kuasai Teknologi dan Jadi Pelopor Perdamaian

Dari UNISNU Jepara untuk Indonesia, Ratusan Pendidik dan Pelajar Adu Inovasi dalam Lomba Esai Nasional Hari Santri

Gelorakan Semangat Resolusi Jihad, 2.000 Peserta Hadiri Apel Hari Santri di Mlonggo