Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
GISTARA TV
Thursday, October 8, 2026
Top News
Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah
Cuaca Terik, Penjual Es Teh di Jepara Berhamburan
Mengenal Nyai Hindun Anisah, Caleg DPR RI Dapil Demak, Kudus, dan...
Kolam Renang Cinta Candi Liyangan Temanggung Jawa Tengah Terbaru 2022
Fenomena Bodoh Deklarasi Kasyaf Lewat Foto
Ribuan Orang Hadiri Haul Mbah Sahil ke 18, Ini Biografinya
Sejarah Pantai Nampu Wonogiri Jawa Tengah Terbaru 2022
Peringati Hari Ibu, MIDEHA Festival Gelar Lomba Kolaborasi dengan Ibu
Tak Perlu ke Eropa, Main Salju Bisa di Dusun Semilir Bawen
Rancangan Dapil Pemilu 2024 di Jepara Tidak Berubah
Gistara
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Copyright 2021 - All Right Reserved
Opini

Menumbuhkan Disiplin Positif: Kunci Sukses Pendidikan yang Inklusif

by Redaksi 16/06/2024
Redaksi 16/06/2024 358 views
358

Oleh: Khasnah

Pendidikan, menurut Ki Hadjar Dewantara, adalah proses membimbing semua potensi yang dimiliki oleh anak, baik dalam kapasitas mereka sebagai individu maupun sebagai anggota aktif dalam masyarakat. Filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara adalah tentang pendidikan yang berorientasi humanis, yang menghormati hak kebebasan dan kemerdekaan anak-anak (Harry Yulianto, 2024).

Pendidikan bukan hanya pemberian pengetahuan akademis semata, tetapi juga tentang membentuk karakter dan membawa dampak positif dalam kehidupan siswa. Salah satu aspek yang krusial dalam menciptakan lingkungan belajar yang produktif dan menyenangkan adalah menumbuhkan disiplin positif di lingkungan sekolah.

Disiplin positif bukan sekadar mengatur perilaku siswa, melainkan juga berfokus pada pembentukan karakter siswa (Laesti Nurishlah, dkk., 2022). Disiplin positif merupakan tulang punggung dari lingkungan belajar yang efektif di sekolah.

Dibandingkan dengan pendekatan otoriter yang mengandalkan hukuman dan pengawasan ketat, disiplin positif mengedepankan pendekatan yang membangun, mendidik, dan memperkuat perilaku yang diinginkan.

Menumbuhkan kedisplinan belajar pada anak

Konsep Disiplin Positif
Istilah “disiplin” sering kali dikaitkan dengan penggunaan hukuman dan upaya untuk memaksa orang lain untuk patuh, namun sebenarnya konsep ini lebih luas dari sekadar itu.

Menurut pemikiran Ki Hajar Dewantara, di mana ada kebebasan, di situ juga harus ada disiplin yang kokoh. Disiplin tersebut tidak hanya bersifat “self discipline”, yaitu individu mengatur dirinya sendiri dengan sungguh-sungguh, tetapi juga mencakup kewajiban untuk tunduk pada disiplin yang diberlakukan oleh pihak lain jika individu tidak mampu melakukannya sendiri.

Aturan dan peraturan semacam itu, bagi Ki Hajar Dewantara, haruslah ada dalam konteks suasana yang merdeka. Disamping kebebasan individu dihargai dan dijaga, namun juga harus diikuti dengan tanggung jawab yang memadai terhadap diri sendiri dan masyarakat.

“Mardika iku jarwanya, nora mung lepasing pangreh, nging uga kuwat kuwasa amandiri priyangga,” ujar Ki hajar Dewantara.

Merdeka berarti tidak hanya menjadi bebas dari pengaruh atau kendali orang lain, tetapi juga memiliki kemandirian dan kemampuan untuk mengambil keputusan serta bertanggung jawab atas diri sendiri.

Kebebasan sejati tidak hanya tentang kebebasan eksternal dari pengaruh luar, tetapi juga tentang kebebasan internal yang melibatkan kemampuan untuk mengendalikan dan mengatur hidup dan tindakan sendiri.

Guru mendampingi belajar anak

Pernyataan ini menggambarkan pandangan filosofis tentang kebebasan yang lebih dari sekadar ketiadaan penghalang eksternal. Ki Hajar Dewantara menekankan pentingnya kemandirian pribadi dalam mengelola diri dan memutuskan arah hidupnya sendiri.

Dalam konteks pendidikan, konsep ini mendukung pendekatan yang memberdayakan siswa untuk menjadi individu yang mandiri, mampu berpikir kritis, dan bertanggung jawab atas pilihan yang diambil.

Implementasi di Sekolah
Penerapan disiplin positif di sekolah merupakan pendekatan yang mendasarkan diri pada pembinaan, pengajaran, dan penguatan perilaku yang diinginkan, bukan hanya menangani perilaku yang tidak diinginkan dengan hukuman.Metode ini mempromosikan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan mendukung bagi semua siswa.

Disiplin positif bertujuan untuk mengajarkan siswa tentang tanggung jawab pribadi, pengendalian diri, dan pengambilan keputusan yang bijaksana.

Guru dan staf sekolah berperan sebagai fasilitator dalam membimbing siswa untuk memahami konsekuensi dari tindakan mereka, serta memberikan dukungan dalam mengembangkan keterampilan sosial dan emosional.

Selain itu, disiplin positif menghargai keunikan setiap individu dan mempromosikan pembinaan hubungan yang positif antara siswa dan orang dewasa di sekolah. Efeknya, siswa merasa didengar, dihargai, dan didukung dalam mencapai potensi yang dimiliki.

Khasnah, Guru SDN 3 Tanjung, Jepara

DisiplinKi Hajar DewantaraPendidikan
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Redaksi

previous post
SLCN: Berikan Edukasi Ketidakpastian Iklim dan Cuaca
next post
Dalam Rangka Idul Adha, Relawan Mas Wiwit Serahkan 20 Ekor Sapi Untuk Masyarakat

You may also like

Kekerasan Pasca 30 September 1965 di Pedesaan

01/10/2026

Karnaval “Satanic” Pekalongan, Sisa Spiritual yang Rapuh

29/09/2026

Merawat Marwah NU Jepara dari Keteladanan KH Ahmad Fauzan

25/09/2026

Peran MUI dalam Penguatan Mutu Pendidikan Islam dan Kompetensi Digital

18/09/2026

Undang-Undang Pesantren Dan Orientasi Pendidikan Indonesia

05/09/2026

Ketua PBNU dan Imperatif “Tajalli” Melampaui Intelektualisme Menuju Kejernihan Hati

03/09/2026

Terkini

  • Perkuat Jejaring Akademik Internasional, Prodi PAI UNISNU Jepara Kolaborasi Riset dengan IIUM Malaysia

    07/10/2026
  • Pemkab Jepara Salurkan BLT DBHCHT ke 4.813 Butuh dan Petani Tembakau

    07/10/2026
  • Cetak Instruktur yang Berkualitas, PC PMII Jepara Gelar Pelatihan Instruktur Cabang

    06/10/2026
  • Bimwin bagi Calon Pengantin, Wujudkan Keluarga yang Harmonis dan Berkualitas 

    06/10/2026
  • Pemkab Jepara Dorong BUMDesa Masuk Rantai Pasok Ritel

    06/10/2026
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Sign In

Keep me signed in until I sign out

Forgot your password?

Do not have an account ? Register here

Password Recovery

A new password will be emailed to you.

Have received a new password? Login here

Register New Account

Have an account? Login here