Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
GISTARA TV
Thursday, October 8, 2026
Top News
Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah
Cuaca Terik, Penjual Es Teh di Jepara Berhamburan
Mengenal Nyai Hindun Anisah, Caleg DPR RI Dapil Demak, Kudus, dan...
Kolam Renang Cinta Candi Liyangan Temanggung Jawa Tengah Terbaru 2022
Fenomena Bodoh Deklarasi Kasyaf Lewat Foto
Ribuan Orang Hadiri Haul Mbah Sahil ke 18, Ini Biografinya
Sejarah Pantai Nampu Wonogiri Jawa Tengah Terbaru 2022
Peringati Hari Ibu, MIDEHA Festival Gelar Lomba Kolaborasi dengan Ibu
Tak Perlu ke Eropa, Main Salju Bisa di Dusun Semilir Bawen
Rancangan Dapil Pemilu 2024 di Jepara Tidak Berubah
Gistara
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Copyright 2021 - All Right Reserved
Opini

Gejala Autisme Politik Pilkada 2024

by Redaksi 24/06/2024
Redaksi 24/06/2024 222 views
222

Oleh: Agung K

Dalam konteks politik kontemporer di Indonesia, fenomena pemilihan figur non-politik seperti komedian Marshel Widianto sebagai calon Wakil Walikota di Kota Tangerang Selatan memunculkan kekhawatiran yang mendalam mengenai gejala autisme politik yang sedang melanda masyarakat.

Istilah “autisme politik” dalam diskursus ini merujuk pada ketidakmampuan sebagian masyarakat untuk memahami dan merespons dinamika politik yang kompleks dengan cara yang rasional dan berwawasan luas. Tendensi ini, secara tidak langsung, mengarah pada pengambilan keputusan yang dangkal dan kurang pertimbangan matang.

Masyarakat yang Plural dan Demokrasi yang Rentan

Demokrasi idealnya menuntut partisipasi aktif dan cerdas dari setiap warga negara. Namun, realitas menunjukkan bahwa masyarakat sering kali terjebak dalam populisme dangkal dan selebritas politik.

Pemilihan tokoh seperti Marshel Widianto—yang lebih dikenal sebagai komedian ketimbang sosok dengan kapabilitas politik—menjadi cerminan bagaimana masyarakat cenderung mengabaikan kriteria mendasar kepemimpinan yang sejati, seperti integritas, kompetensi, dan visi politik yang jelas.

BACA JUGA: Berantas Judi Online, Propam Polres Jepara Razia HP Setiap Anggota Polri

Kecenderungan ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di berbagai belahan dunia, figur-figur non-politik telah berhasil menarik simpati dan suara pemilih, sering kali melalui retorika populis dan karisma pribadi yang menawan. Akibatnya, proses demokrasi yang seharusnya menjadi ajang bagi pemilihan pemimpin berkualitas justru berubah menjadi panggung hiburan yang mengandalkan popularitas semata.

Tendensi Autisme Politik: Sebuah Anomali Demokratis

Istilah “autisme politik” dalam hal ini bukanlah untuk merendahkan kondisi neurologis yang serius, melainkan sebuah metafora untuk menggambarkan ketidakpedulian dan ketidakmampuan sebagian masyarakat dalam memahami dan terlibat secara rasional dalam politik.

Fenomena ini dapat dilihat sebagai anomali dalam proses demokrasi yang sehat, di mana pemilih lebih tertarik pada aspek-aspek superfisial dari pada substansi politik yang mendalam.

Marshel Widianto, sebagai seorang komedian, mungkin memiliki kemampuan untuk menghibur dan menarik perhatian publik. Namun, apakah kapabilitas ini cukup untuk memimpin sebuah daerah dengan tantangan politik, ekonomi, dan sosial yang kompleks? Jawabannya jelas tidak. Pemilihan semacam ini menunjukkan bahwa masyarakat terjebak dalam ilusi populisme, di mana humor dan popularitas lebih dihargai daripada kompetensi dan integritas.

Urgensi Pendidikan Politik

Untuk mengatasi gejala autisme politik, pendidikan politik yang komprehensif dan mendalam menjadi urgensi. Masyarakat harus dibekali dengan pengetahuan yang memadai mengenai bagaimana memilih pemimpin yang tepat berdasarkan kriteria yang rasional dan objektif.

Pendidikan ini tidak hanya harus terjadi di bangku sekolah, tetapi juga melalui media massa dan diskursus publik yang konstruktif.

BACA JUGA: Mengenal Briptu Evana Rahmawati, Polwan Berprestasi Asal Jepara yang Mengharumkan Nama Indonesia

Penting bagi setiap warga negara, terutama kaum intelektual dan akademisi, untuk berperan aktif dalam mendorong kesadaran politik yang lebih tinggi. Mahasiswa, sebagai calon-calon pemimpin masa depan, dan para akademisi, sebagai penjaga gawang intelektualitas, memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi agen perubahan dalam konteks ini.

Mereka harus menjadi teladan dalam menunjukkan bahwa politik bukanlah sekadar ajang popularitas, tetapi sebuah arena bagi pemilihan pemimpin yang mampu membawa perubahan nyata dan berarti bagi masyarakat.

Memilih komedian seperti Marshel Widianto sebagai Calon Wakil Walikota merupakan indikasi dari gejala autisme politik yang mengkhawatirkan. Hal ini mencerminkan tendensi masyarakat untuk mengabaikan esensi kepemimpinan yang sejati.

Oleh karena itu, pendidikan politik yang mendalam dan komprehensif menjadi sangat penting untuk menciptakan masyarakat yang lebih rasional dan berwawasan dalam memilih pemimpin. Hanya dengan demikian, demokrasi dapat berfungsi secara optimal dan menghasilkan pemimpin yang benar-benar berkualitas.

Agung K, pegiat media, tinggal di Jepara

Autisme politikPilkada 2024Popularitas
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Redaksi

previous post
Bripka Ratih Candra Ayu, Polwan Pertama Peraih Gelar Doktor di Polres Jepara
next post
Sekda Jepara Ajak Petinggi, Camat dan Ormas Percepat Penanganan Anak Tidak Sekolah

You may also like

Kekerasan Pasca 30 September 1965 di Pedesaan

01/10/2026

Karnaval “Satanic” Pekalongan, Sisa Spiritual yang Rapuh

29/09/2026

Merawat Marwah NU Jepara dari Keteladanan KH Ahmad Fauzan

25/09/2026

Peran MUI dalam Penguatan Mutu Pendidikan Islam dan Kompetensi Digital

18/09/2026

Undang-Undang Pesantren Dan Orientasi Pendidikan Indonesia

05/09/2026

Ketua PBNU dan Imperatif “Tajalli” Melampaui Intelektualisme Menuju Kejernihan Hati

03/09/2026

Terkini

  • Perkuat Jejaring Akademik Internasional, Prodi PAI UNISNU Jepara Kolaborasi Riset dengan IIUM Malaysia

    07/10/2026
  • Pemkab Jepara Salurkan BLT DBHCHT ke 4.813 Butuh dan Petani Tembakau

    07/10/2026
  • Cetak Instruktur yang Berkualitas, PC PMII Jepara Gelar Pelatihan Instruktur Cabang

    06/10/2026
  • Bimwin bagi Calon Pengantin, Wujudkan Keluarga yang Harmonis dan Berkualitas 

    06/10/2026
  • Pemkab Jepara Dorong BUMDesa Masuk Rantai Pasok Ritel

    06/10/2026
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Sign In

Keep me signed in until I sign out

Forgot your password?

Do not have an account ? Register here

Password Recovery

A new password will be emailed to you.

Have received a new password? Login here

Register New Account

Have an account? Login here