Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
GISTARA TV
Thursday, October 8, 2026
Top News
Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah
Cuaca Terik, Penjual Es Teh di Jepara Berhamburan
Mengenal Nyai Hindun Anisah, Caleg DPR RI Dapil Demak, Kudus, dan...
Kolam Renang Cinta Candi Liyangan Temanggung Jawa Tengah Terbaru 2022
Fenomena Bodoh Deklarasi Kasyaf Lewat Foto
Ribuan Orang Hadiri Haul Mbah Sahil ke 18, Ini Biografinya
Sejarah Pantai Nampu Wonogiri Jawa Tengah Terbaru 2022
Peringati Hari Ibu, MIDEHA Festival Gelar Lomba Kolaborasi dengan Ibu
Tak Perlu ke Eropa, Main Salju Bisa di Dusun Semilir Bawen
Rancangan Dapil Pemilu 2024 di Jepara Tidak Berubah
Gistara
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Copyright 2021 - All Right Reserved
Opini

Tongtek Sahur, dari Tradisi Religius ke Model Pengawasan Sosial

by Redaksi 03/03/2025
Redaksi 03/03/2025 1.3K views
1.3K

Oleh: Muh Khamdan

Tongtek, tradisi membangunkan warga untuk sahur dengan tabuhan kentongan atau alat musik lainnya, merupakan bagian dari budaya Islam Nusantara yang telah berlangsung turun-temurun. Tradisi ini tidak hanya sekadar membangun kebersamaan dalam bulan Ramadan, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai gotong royong dan solidaritas sosial yang khas dalam masyarakat Muslim di Indonesia.

Di tengah perkembangan sosial, tongtek semestinya tidak hanya berfungsi sebagai pengingat sahur, tetapi juga sebagai mekanisme pengawasan keamanan lingkungan. Dengan adanya kelompok yang berkeliling kampung di malam hari, potensi untuk mendeteksi gangguan keamanan seperti pencurian atau tindakan kriminal lainnya menjadi lebih besar.

Sayangnya dalam praktiknya, tradisi tongtek justru sering menjadi pemicu konflik sosial. Sekelompok remaja yang memainkan tongtek tidak jarang terlibat perkelahian karena perbedaan kampung atau komunitas. Alih-alih menjaga harmoni sosial, kegiatan yang seharusnya bersifat religius ini malah menjadi ajang persaingan dan konfrontasi antar kelompok.

BACA JUGA: Intip Aksi Polwan Cantik Polres Jepara Saat Pengaturan Lalu Lintas

Perkelahian yang terjadi dalam tradisi tongtek bukan sekadar aksi spontan, tetapi lebih merupakan bagian dari ekspresi eksistensi remaja dalam lingkungan sosialnya. Dalam banyak kasus, gengsi antar kampung menjadi pemicu utama, di mana setiap kelompok ingin menunjukkan dominasi atau keunggulan mereka dalam memainkan tongtek atau menguasai wilayah tertentu.

Minimnya pengawasan dari tokoh masyarakat dan orang tua turut memperburuk situasi. Seharusnya, tradisi tongtek dikawal oleh orang dewasa atau pemuda yang memiliki kedewasaan sosial sehingga dapat mencegah gesekan yang berpotensi merusak harmoni Ramadan.

Jika dikelola dengan baik, tongtek dapat dijadikan sebagai model pengawasan lingkungan yang efektif. Misalnya, dengan membentuk kelompok ronda Ramadan yang beranggotakan pemuda setempat, dibekali dengan pemahaman akan pentingnya keamanan sosial, serta bekerja sama dengan pihak keamanan desa atau kelurahan.

Ilusrtrasi tongtek

Kunci utama dalam mengubah tongtek dari sumber konflik menjadi mekanisme kontrol sosial adalah membangun kesadaran kolektif bahwa Ramadan adalah momentum untuk meningkatkan kualitas kebersamaan, bukan untuk mempertajam rivalitas. Kesadaran ini bisa ditanamkan melalui edukasi di masjid-masjid, pesantren, dan sekolah.

Pemerintah daerah dan tokoh masyarakat memiliki peran strategis dalam menata kembali tradisi tongtek agar tetap sejalan dengan nilai-nilai ketertiban umum. Pembuatan regulasi sederhana, seperti larangan membawa senjata tajam atau batasan waktu bermain tongtek, dapat menjadi solusi untuk menghindari konflik.

Sebagai bentuk pelestarian budaya, tongtek dapat dikemas dalam bentuk festival atau kompetisi antarkampung dengan aturan yang jelas. Hal ini tidak hanya mengurangi potensi gesekan, tetapi juga menjadi ajang kreativitas bagi para pemuda dalam memainkan musik tradisional.

BACA JUGA: Agus Sutisna: Program MBG Jangan Kesampingkan Urusan Wajib Dasar Lainnya

Tongtek juga dapat dikolaborasikan dengan program keamanan desa atau sistem siskamling. Pemuda yang berpartisipasi dalam tongtek bisa diberikan tanggung jawab tambahan sebagai pengawas lingkungan, yang bertugas melaporkan aktivitas mencurigakan selama berkeliling kampung.

Salah satu penyebab konflik dalam tongtek adalah durasi dan intensitas permainan yang berlebihan. Menetapkan waktu tertentu, misalnya hanya satu jam sebelum waktu sahur, serta membatasi level kebisingan, dapat membantu menjaga keseimbangan antara tradisi dan ketertiban umum.

Lebih dari sekadar ritual sosial, tongtek harus dikembalikan pada esensi religiusnya. Nilai-nilai Islam seperti ukhuwah (persaudaraan) dan tasamuh (toleransi) harus menjadi pondasi utama dalam menjalankan tradisi ini agar tidak menyimpang dari tujuan awalnya.

Tongtek sehat adalah tongtek yang mampu menjadi media kebersamaan tanpa menimbulkan gesekan sosial. Dengan pengelolaan yang tepat, tradisi ini tidak hanya menjaga semangat Ramadan, tetapi juga berkontribusi pada stabilitas keamanan lingkungan. Kini, saatnya masyarakat, pemerintah, dan para pemuda bekerja sama untuk merevitalisasi tongtek sebagai sarana kontrol sosial yang positif.

Dr. Muh Khamdan, Doktor Studi Agama dan Perdamaian UIN Jakarta; Analis Kebijakan Publik

HarmoniTongtekTradisi
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Redaksi

previous post
Polres Jepara Kerahkan Ratusan Personil dalam Pengamanan Lalu-Lintas di Simpang hingga Pusat Takjil
next post
9.177 Kepala Keluarga Nelayan Terima Bantuan Beras

You may also like

Kekerasan Pasca 30 September 1965 di Pedesaan

01/10/2026

Karnaval “Satanic” Pekalongan, Sisa Spiritual yang Rapuh

29/09/2026

Merawat Marwah NU Jepara dari Keteladanan KH Ahmad Fauzan

25/09/2026

Peran MUI dalam Penguatan Mutu Pendidikan Islam dan Kompetensi Digital

18/09/2026

Undang-Undang Pesantren Dan Orientasi Pendidikan Indonesia

05/09/2026

Ketua PBNU dan Imperatif “Tajalli” Melampaui Intelektualisme Menuju Kejernihan Hati

03/09/2026

Terkini

  • Perkuat Jejaring Akademik Internasional, Prodi PAI UNISNU Jepara Kolaborasi Riset dengan IIUM Malaysia

    07/10/2026
  • Pemkab Jepara Salurkan BLT DBHCHT ke 4.813 Butuh dan Petani Tembakau

    07/10/2026
  • Cetak Instruktur yang Berkualitas, PC PMII Jepara Gelar Pelatihan Instruktur Cabang

    06/10/2026
  • Bimwin bagi Calon Pengantin, Wujudkan Keluarga yang Harmonis dan Berkualitas 

    06/10/2026
  • Pemkab Jepara Dorong BUMDesa Masuk Rantai Pasok Ritel

    06/10/2026
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Sign In

Keep me signed in until I sign out

Forgot your password?

Do not have an account ? Register here

Password Recovery

A new password will be emailed to you.

Have received a new password? Login here

Register New Account

Have an account? Login here