JEPARA | GISTARA. COM – ” Sekompeten apapun gurunya, semanajerial apapun Kepala Madrasah/ Sekolah, dan sebagus apapun madrasah/ sekolah, serta sebagus apapun sistem pendidikannya, akan tetap kalah jika pendidikan pertama dari rumah tidak didapatkan oleh murid-murid kita dengan baik, karena ” Al Ummu Madrasatul Ula”, orang tua adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, ” demikian tegas H. Nur Khandir mengawali refleksi 69 tahun Yapi Nahdlatul Fata Petekeyan mengabdi.
Memasuki usia ke-69 tahun, Yayasan Pendidikan Islam (YAPI) Nahdlatul Fata Petekeyan menggelar acara Peringatan dan refleksi kolektif. Kegiatan ini menjadi ajang evaluasi mendalam terkait arah pengelolaan pendidikan, peran tenaga pendidik, hingga kesiapan alumni dalam menghadapi tantangan zaman.
Yayasan Pendidikan Islam Nahdlatul Fata Petekeyan yang telah memasuki tahun ke- 69 ini telah mengelola berbagai lembaga pendidikan dan badan usaha, yaitu KB- RA Unggulan Nahdlatul Fata, MI Nahdlatul Fata, MTS-MA NU Nahdlatul Fata, TPQ 1 Nahdlatul Fata, TPQ 2 Nahdlatul Fata, TPQ 3 Nahdlatul Fata. Pada Jenjang Madrasah Diniyyah mengelola Madin Awwaliyah Nahdlatul Fata dan Madin Wustho Nahdlatul Fata. Yapi Nahdlatul Fata juga mengelola Pondok Pesantren dan memiliki Badan Usaha, KSU Nafa Takaful.
Dalam narasinya, H. Nur Khandir Pembina Yapi Nahdlatul Fata refleksi menggarisbawahi bahwa kemajuan sebuah madrasah tidak bisa hanya bertumpu pada pihak sekolah. Peran orang tua di rumah merupakan fondasi paling strategis. Tanpa pengawasan dan pendidikan dasar yang kuat dari keluarga, kerja keras guru dan kepala madrasah di sekolah tidak akan memberikan hasil yang optimal.
BACA JUGA: PERSIMANU 2 Digelar, Pelajar Ma’arif NU Jepara Didorong Ukir Prestasi
Di sisi lain, H. Nur Khandir yang juga anggota Dewan Pendidikan Jepara mengatakan bahwa sosok pendidik dituntut untuk menjadi teladan nyata. Guru tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga harus tegas dalam membangun kedisiplinan—yakni menegakkan aturan secara tenang, logis, dan penuh rasa hormat. Pendekatan ini diharapkan dapat membentuk karakter siswa, menjaga kesehatan mental mereka, dan membuat setiap murid merasa dihargai.
Refleksi Harlah ke-69 yang dihadiri organ Yapi Nahdlatul Fata, Kepala Lembaga beserta jajarannya, Komite Madrasah, stakeholders Yapi Nahdlatul Fata, dan sejumlah undangan juga membawa pesan kuat bagi para alumni YAPI Nahdlatul Fata. Para lulusan diimbau untuk berani merancang masa depan sesuai minat (passion) serta memilih lingkungan kerja atau sosial yang mampu menghargai potensi mereka.

Pemberian beasiswa kepada guru di lingkungan Yapi Nahdlatul Fata Petekeyan
Para alumni diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat—seperti halnya padi yang berisi atau benda langit yang menerangi—dan bukan menjadi sosok pembawa masalah bagai ilalang. Untuk mencapai hal tersebut, menjaga adab, memelihara akhlak mulia, serta terus meng-upgrade kapasitas diri menjadi syarat utama agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Tokoh pendidikan H. Nur Khandir memberikan pandangan kritis terkait dinamika pengelolaan madrasah. Ia memaparkan beberapa faktor utama yang kerap membuat lembaga pendidikan stagnan, di antaranya:
Pertama, Kepemimpinan dan SDM. Kepemimpinan yang minim visi serta figur guru yang enggan belajar.
Kedua, Lingkungan dan Kultur Budaya sekolah yang toxic dan tertutup dari evaluasi berkala.
Ketiga, Pola Didik, orientasi yang melulu pada aspek akademik hingga mengesampingkan.
Keempat, Pembentukan karakter, kreativitas, dan kesehatan mental anak.
Kelima, Partisipasi, Rendahnya keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan.
BACA JUGA: PKB Jepara Konsolidasikan 16 DPAC, Bidik Kursi Pimpinan DPRD
Sebagai pembanding, H. Nur Khandir merumuskan indikator utama madrasah berprestasi dan modern, yang meliputi:
– Kedisiplinan tinggi dari seluruh pemangku kepentingan (*stakeholders*).
– Pembelajaran inovatif yang berpusat pada murid (student-centered).
– Kepemimpinan yang visioner, amanah, dan responsif.
– Sarana dan prasarana yang representatif serta kesejahteraan guru yang terjamin.
– Peningkatan prestasi akademik/non-akademik yang berimbas pada naiknya kepercayaan publik.
– Lingkungan belajar yang religius, bersih, aman, dan berkarakter.
Pada momen tersebut H. Nur Khandir me- Launching buku ke- 7 karyanya berjudul, ” Ma’arif NU Jepara, Kugapai dalam Kenangan.” dan penyerahan beasiswa S2 dari Yapi Nahdlatul Fata untuk guru- guru MI Nahdlatul Fata dan guru KB- RA Unggulan Nahdlatul Fata yang melanjutkan jenjang S2.
KH. Muharror Afif yang didaulat sebagai pembicara memberi dorongan moral kepada guru-guru Yayasan agar terus berkhidmah memberi manfaat kepada murid dan masyarakat karena amalnya akan abadi meskipun mereka telah wafat. ( KA/Sub)