Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
GISTARA TV
Friday, October 9, 2026
Top News
Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah
Cuaca Terik, Penjual Es Teh di Jepara Berhamburan
Mengenal Nyai Hindun Anisah, Caleg DPR RI Dapil Demak, Kudus, dan...
Kolam Renang Cinta Candi Liyangan Temanggung Jawa Tengah Terbaru 2022
Fenomena Bodoh Deklarasi Kasyaf Lewat Foto
Ribuan Orang Hadiri Haul Mbah Sahil ke 18, Ini Biografinya
Sejarah Pantai Nampu Wonogiri Jawa Tengah Terbaru 2022
Peringati Hari Ibu, MIDEHA Festival Gelar Lomba Kolaborasi dengan Ibu
Tak Perlu ke Eropa, Main Salju Bisa di Dusun Semilir Bawen
Rancangan Dapil Pemilu 2024 di Jepara Tidak Berubah
Gistara
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Copyright 2021 - All Right Reserved
Opini

Manusia dan Waktu

by Kunjari Ali 01/01/2024
Kunjari Ali 01/01/2024 833 views
833

Oleh : M. Dalhar

Tahun 2024 telah tiba. Waktu terus berjalan. Manusia dengan kemampuannya menciptakan momentum, sehingga pergantian tahun menjadi sesuatu yang berarti. Manusia berkumpul, kembang api, makan bersama, dan seremoni lainnya menjadi penanda yang menciptakan kesan tertentu.

Secara kasat mata, antara hari ini dan kemarin atau hari esok hampir tidak ada beda. Matahari terbit dari timur, hujan turun, dan arah jarum jam terus berputar. Dari detik menjadi menit, jam, hari, pekan, bulan, dan tahun. Begitu seterusnya dan berulang.

Lantas apa bedanya. Yang membedakan adalah momentum atau peristiwa yang terjadi pada setiap waktu yang dilewati manusia sebagai subyek kehidupan ini.

Setiap saat ada begitu banyak hal yang dijumpai oleh manusia. Peluang, harapan, tantangan, bahagia, sedih, silih berganti. Setiap peristiwa yang terjadi tidak dapat dipisahkan dari waktu sebagai kuota atau batas yang dimiliki.

BACA JUGA : Mantingan Sebagai Ruang Intelektual Studi Sejarah

Selain waktu, ada juga ruang yang menyebabkan terjadinya peristiwa. Perbedaan antara keduanya (ruang-waktu) akan menciptakan bermacam peristiwa dan penafsiran pula.

Dengan durasi waktu yang sama yakni 24 jam dalam sehari, setiap orang dapat memiliki kesibukan, peluang, atau persoalan yang berbeda-beda.

Perbedaan yang dimiliki karena adanya kesempatan yang berbeda-beda pula. Perbedaan ini dipengaruhi banyak hal. Singkatnya, nasib atau takdir seseorang tidak dapat dipisahkan dengan waktu sebagai sesuatu yang melekat. Adapun ruang yang menimbulkan kesempatan bagi setiap orang tidak sama.

Dalam kesehariannya, manusia tidak dapat dipisahkan dari waktu. Masuk sekolah, kantor, shalat, hari kelahiran, jadwal keberangkatan, deadline tugas, kelahiran, kematian, dan masih banyak lainnya. Akan tetapi, hanya sebagian manusia yang memahami pentingnya waktu.

BACA JUGA : Ratu Kalinyamat  dan Pusat  Studi Tokoh Jepara

Waktu adalah modal utama dalam kehidupan ini. Tanpa waktu manusia tidak ada di dunia ini. Ibaratnya seperti kuota yang unlimited, akan digunakan untuk apa saja boleh, asalkan tahu konsekuensinya. Dengan karunia akal sehat, seharusnya manusia dapat memanfaatkan modal utama yang dimiliki tersebut.

Sesuatu yang sudah terlewati, apapun itu yang terjadi, adalah sesuatu yang hakikatnya tidak dapat kembali. Jika ada peristiwa yang hampir sama, sebenarnya itu adalah peristiwa lain yang berbeda. Hanya saja polanya sama. Orang Jawa sering membuat kiasan sing wis yo wis. “Yang sudah ya sudah.”

Apa yang dapat dilakukan dari sesuatu yang sudah terlewati, tidak ada pilihan yang lain kecuali belajar. Mengambil pesan penting. Apa yang terjadi sudah tidak dapat diubah. Masa lalu adalah milik sejarah. Yang dapat diubah bukan peristiwanya, akan tetapi persepsi kita atas peristiwa yang telah berlalu itu.

Bagaimana menjadikan kesalahan di masa lampau bukan sebagai sesuatu yang membelenggu, tetapi menjadi sebuah pembelajaran agar tidak terulang kembali.

BACA JUGA : Maulid Nabi dan Solidaritas Kebangsaan

Dari apa yang telah dilakukan manusia pasti menyisakan jejak. Terlebih lagi pada era sekarang begitu mudahnya seseorang mendokumentasikan setiap peristiwa yang dilakukan. Dari jejak-jejak itulah yang dapat digunakan untuk menyusun puzzle perjalanan hidup. Dari perjalanan hidup, jika ditelaah, akan menghasilkan begitu banyak pembelajaran.

Selama satu tahun yang lalu, pada 2023, apa yang sudah kita lakukan. Selama 360 hari suka duka telah terlewati. Dengan tujuan yang berbeda-beda, setiap orang memiliki aktivitas yang berbeda pula. Kita tidak dapat lagi masuk ke lorong 2023 kecuali hanya jejak-jejaknya saja. Sudah saatnya kita memasuki realitas 2024 dengan segala dinamika yang ada bersamanya.

Bersyukur atas karunia waktu adalah sesuatu yang mutlak harus dilakukan. Salah satu bersyukur atas anugerah waktu adalah dengan mempergunakannya dengan baik. Tidak harus muluk-muluk, semua dapat dimulai dari diri sendiri.

M. Dalhar, Pegiat Sosial-Budaya di Jepara

 

24 JamM.DalharWaktu
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Kunjari Ali

previous post
Tangani Dampak Sosial Pasca Penutupan Tambak Udang di Karimunjawa, Pemkab Kucurkan  Bantuan pada Warga
next post
75 Pohon di Pantai Bandengan Tumbang, Cek Kondisinya

You may also like

Kekerasan Pasca 30 September 1965 di Pedesaan

01/10/2026

Karnaval “Satanic” Pekalongan, Sisa Spiritual yang Rapuh

29/09/2026

Merawat Marwah NU Jepara dari Keteladanan KH Ahmad Fauzan

25/09/2026

Peran MUI dalam Penguatan Mutu Pendidikan Islam dan Kompetensi Digital

18/09/2026

Undang-Undang Pesantren Dan Orientasi Pendidikan Indonesia

05/09/2026

Ketua PBNU dan Imperatif “Tajalli” Melampaui Intelektualisme Menuju Kejernihan Hati

03/09/2026

Terkini

  • DPC PKB Jepara 2026-2031 Dikukuhkan, Targetkan Tambah Kursi DPRD

    09/10/2026
  • Wakil Bupati Jepara M. Ibnu Hajar Monitoring Ujicoba MBG Prasmanan, Soroti Kebersihan dan Keamanan Pangan

    08/10/2026
  • Dosen PAI FTIK UNISNU Jepara Go International, Berbagi Ilmu Pendidikan hingga Malaysia

    08/10/2026
  • TBM dan KB Isykarima Banjaragung Gelar Parenting Education, Kaji Pola Asuh Disiplin Positif

    08/10/2026
  • Festival Literasi Jepara 2026: Literasi Menyala, Jepara Punya Cerita

    08/10/2026
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Sign In

Keep me signed in until I sign out

Forgot your password?

Do not have an account ? Register here

Password Recovery

A new password will be emailed to you.

Have received a new password? Login here

Register New Account

Have an account? Login here