Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
GISTARA TV
Thursday, October 15, 2026
Top News
Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah
Cuaca Terik, Penjual Es Teh di Jepara Berhamburan
Mengenal Nyai Hindun Anisah, Caleg DPR RI Dapil Demak, Kudus, dan...
Kolam Renang Cinta Candi Liyangan Temanggung Jawa Tengah Terbaru 2022
Fenomena Bodoh Deklarasi Kasyaf Lewat Foto
Ribuan Orang Hadiri Haul Mbah Sahil ke 18, Ini Biografinya
Sejarah Pantai Nampu Wonogiri Jawa Tengah Terbaru 2022
Peringati Hari Ibu, MIDEHA Festival Gelar Lomba Kolaborasi dengan Ibu
Tak Perlu ke Eropa, Main Salju Bisa di Dusun Semilir Bawen
Rancangan Dapil Pemilu 2024 di Jepara Tidak Berubah
Gistara
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Copyright 2021 - All Right Reserved
Opini

To’dok Telok Kemujan Karimunjawa : Memupuk Kebersamaan di Tengah Badai

by Redaksi 02/09/2025
Redaksi 02/09/2025 303 views
303

Oleh: Muhammad Ali Burhan

Di tengah riuhnya kehidupan modern yang serba cepat, acak dan kacau, masyarakat Kemujan di Karimunjawa masih memegang erat sebuah tradisi kuno yang sarat makna: To’dok Telok.

Lebih dari sekadar perayaan Maulid Nabi, tradisi ini adalah sebuah manifestasi hidup dari nilai-nilai luhur yang sesungguhnya sedang sangat dibutuhkan, terutama ketika kita melihat kondisi yang terjadi di beberapa tempat di Indonesia, termasuk di Jepara.

Di saat kekerasan dan konflik mencuat, To’dok Telok perlu dihadirkan sebagai pengingat bangsa Indonesia akan pentingnya toleransi, keharmonisan, dan kebersamaan.
Tradisi ini berakar dari budaya Suku Bugis, namun telah melebur sempurna menjadi milik semua suku yang mendiami Kemujan, baik Suku Jawa, Madura, Bajo maupun Mandar.

BACA JUGA: Tumbuhkan Kepedulian Sosial, Bupati Jepara Dukung PPS Baznas Jepara 2025

Melalui To’dok Telok, mereka merayakan kelahiran Nabi Muhammad, sebagai simbol cinta, persatuan dan kasih sayang. Prosesi pembuatan telur hias yang ditancapkan pada wadah khusus menjadi ajang gotong royong yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat.

Di sana, tidak ada perbedaan status sosial, suku, atau bahkan latar belakang. Semua bersatu dalam satu tujuan: mengekspresikan cinta yang tulus kepada Rasulullah.

Sederhananya, To’dok Telok mengajarkan bahwa cinta dan kebersamaan dapat diwujudkan melalui hal-hal yang sederhana, tanpa perlu perantara yang rumit.

Masyarakat Kemujan tidak membutuhkan tokoh yang disucikan untuk menyampaikan persembahan cinta mereka kepada  Sang Nabi. Mereka melakukannya secara langsung, dari hati ke hati, dan dalam kebersamaan. Ini adalah refleksi dari spiritualitas yang otentik dan membumi, di mana ajaran agama menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan keharmonisan sosial.

BACA JUGA: Mengisi Kemerdekaan dengan Kepedulian, YBM PLN UIK Tanjung Jati B Santuni Guru Ngaji

Satu hal yang mulai tercerabut dari akar berkebangsaan kita.
Kontras dengan kebersamaan, keindahan dan ketenangan yang tercermin dalam tradisi To’dok Telok, kondisi di Jepara, Sabtu malam Ahad, 30/31 Agustus 2025, justru menunjukkan sisi lain dari masyarakat Jepara.

Serangan massa terhadap kantor Polres dan DPRD, penjarahan, dan pembakaran adalah cerminan dari kemarahan yang meluap dan ketidakmampuan untuk menyelesaikan masalah secara bijak dan damai.

Peristiwa ini tidak hanya merusak fasilitas publik, tetapi juga merusak tatanan sosial yang telah lama terbangun. Warga merasa ketakutan dan tidak aman, sebuah kondisi yang jauh dari semangat toleransi dan kebersamaan.

To’dok Telok dapat menjadi inspirasi berharga bagi Jepara dan seluruh masyarakat Indonesia. Tradisi ini mengajarkan bahwa meskipun ada perbedaan, kita bisa bersatu dalam satu tujuan mulia.

Para pemimpin dan rakyat Jepara bisa belajar dari masyarakat Kemujan, bahwa menyelesaikan masalah tidak harus dengan kekerasan.

BACA JUGA: Kapolres Jepara Pimpin Apel Renungan Suci

Sebaliknya, pendekatan yang mengedepankan cinta, musyawarah, dialog, dan gotong royong, seperti yang terlihat dalam prosesi To’dok Telok, akan lebih efektif dalam menciptakan solusi yang langgeng.

Cinta kepada Nabi Muhammad, yang menjadi inti dari tradisi ini, adalah cinta yang mengajarkan kedamaian, kesabaran, dan pengampunan. Nilai-nilai ini sangat relevan untuk dipraktikkan saat ini.

Alih-alih melampiaskan amarah dengan merusak, masyarakat dan pemimpin dapat mencontoh cara masyarakat Kemujan mengekspresikan cinta mereka: dengan keindahan, ketenangan, dan persatuan.

Sebagai sebuah kebudayaan, To’dok Telok adalah pengingat bahwa kekuatan terbesar sebuah komunitas terletak pada kemampuannya untuk bersatu, menghargai perbedaan, dan merayakan kebersamaan.

Ia adalah cahaya di tengah kegelapan, simbol harapan bahwa konflik dapat diselesaikan dengan cara-cara yang damai.

Menerapkan semangat To’dok Telok dalam kehidupan sehari-hari, baik di tingkat individu maupun komunitas, akan membantu membangun kembali kepercayaan yang terkikis dan menciptakan masyarakat yang lebih toleran, harmonis, dan aman.

Muhammad Ali Burhan, Pengurus PC Lesbumi NU Jepara

KarimunjawaKemujanTo'dok telok
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Redaksi

previous post
Aparat Gabungan Patroli Skala Besar di Jepara, Pastikan Situasi Aman dan Kondusif
next post
Kisah Lintas Agama Inspirasi ASN Bawaslu dalam Peningkatan Pelayanan Publik

You may also like

Kekerasan Pasca 30 September 1965 di Pedesaan

01/10/2026

Karnaval “Satanic” Pekalongan, Sisa Spiritual yang Rapuh

29/09/2026

Merawat Marwah NU Jepara dari Keteladanan KH Ahmad Fauzan

25/09/2026

Peran MUI dalam Penguatan Mutu Pendidikan Islam dan Kompetensi Digital

18/09/2026

Undang-Undang Pesantren Dan Orientasi Pendidikan Indonesia

05/09/2026

Ketua PBNU dan Imperatif “Tajalli” Melampaui Intelektualisme Menuju Kejernihan Hati

03/09/2026

Terkini

  • Dr Haryanto Ungkap Rahasia Manajemen Pembelajaran dalam Surat Al-Alaq

    14/10/2026
  • BPS Jepara Ingatkan, Jangan Keliru Membaca Angka Ekonomi

    14/10/2026
  • Kejar Swastisaba Wistara 2027, FKJS Jepara Perkuat Kelembagaan hingga Desa

    14/10/2026
  • Lantik PRNU Tanjung 2, Rais Syuriyah PCNU Jepara Ingatkan Dua Kriteria Pemimpin

    14/10/2026
  • LPTQ Jepara Siapkan MTQ,  Pembinaan Kader dan Syiar AI-Qur’an Jadi Prioritas

    13/10/2026
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Sign In

Keep me signed in until I sign out

Forgot your password?

Do not have an account ? Register here

Password Recovery

A new password will be emailed to you.

Have received a new password? Login here

Register New Account

Have an account? Login here