KH. Shohibul Itmam
JEPARA | GISTARA. COM– Sejumlah bencana alam seperti banjir dan longsor yang terjadi di berbagai daerah dalam sebulan terakhir menjadi keprihatinan banyak pihak. Bencana tersebut umumnya dipicu oleh kerusakan lingkungan, penebangan hutan yang tidak sesuai regulasi, serta pendangkalan sungai dan saluran drainase yang belum tertangani secara optimal, terutama di musim hujan.
Secara nasional, banyak sungai dan drainase mengalami sedimentasi yang membutuhkan penanganan cepat dan serius. Lambannya respons dan mitigasi terhadap kondisi ini dinilai berpotensi meresahkan masyarakat, khususnya warga yang tinggal di wilayah rawan terdampak.
Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Jepara. Penanganan banjir, longsor, serta perbaikan saluran drainase di sejumlah titik vital dinilai masih berjalan lambat. Hal tersebut mendapat perhatian dari Wakatib Syuriah PWNU Jawa Tengah, KH. Shohibul Itmam.
BACA JUGA: Kolaborasi Lintas Instansi, PLN Kebut Pemulihan Kelistrikan Aceh
KH. Shohibul Itmam menyampaikan keprihatinannya terhadap sejumlah titik drainase di Jepara yang belum tertangani dengan baik. Salah satunya berada di Desa Petekeyan, Kecamatan Tahunan, tepatnya di belakang Pondok Pesantren An-Najah yang berdekatan dengan Jembatan Wudun di jalan paving desa setempat.
“Kondisi drainase di lokasi tersebut sangat memprihatinkan. Sudah lebih dari tiga tahun saluran air dibiarkan tersumbat. Padahal setiap tahun sudah ada kesadaran dari warga dan relawan yang peduli, namun tetap diperlukan mitigasi langsung dari pemerintah,” ujar KH. Shohibul Itmam usai menghadiri acara Maulid Nabi di Pondok Pesantren An-Najah. Selasa, (16/12/25).
Dosen UIN Sunan Kudus itu juga menekankan pentingnya kehadiran pemerintah daerah dalam melakukan evaluasi menyeluruh terhadap titik-titik rawan selama musim hujan. Menurutnya, beberapa infrastruktur seperti jembatan yang mengalami retak dan terancam roboh perlu mendapat perhatian serius akibat derasnya aliran air yang bercampur sampah dan lumpur hingga menggerus pondasi.
Melalui kondisi tersebut, KH. Shohibul Itmam berharap Pemerintah Kabupaten Jepara lebih aktif mendengarkan aspirasi masyarakat serta memperkuat kolaborasi dengan warga setempat. Upaya tersebut dinilai penting agar penanganan banjir dan perbaikan drainase di titik-titik prioritas dapat segera diselesaikan, sehingga tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar di kemudian hari.