Oleh: Eky Putri Febriyani
Ledakan kembang api di malam pergantian tahun kini tidak hanya menerangi langit, tetapi juga membanjiri lini masa media sosial (medsos). Perayaan tahun baru yang dahulu identik dengan kebersamaan, refleksi, dan harapan baru, perlahan bergeser menjadi ajang pembuktian eksistensi digital.
Hitung mundur, konser, dan pesta publik tidak lagi berhenti sebagai pengalaman personal, melainkan berubah menjadi konten yang harus dibagikan agar kehadiran sosial diakui.
Perubahan ini mencerminkan fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yaitu kecemasan tertinggal dari pengalaman sosial yang dianggap penting. Di era media sosial, FOMO tidak lagi sekadar persoalan psikologis individu, melainkan gejala kultural yang diproduksi secara sistemik.
BACA JUGA: Jelang Nataru, UMKM Mitra Binaan PLN UIK Tanjung Jati B Borong Juara Lomba Produk Kopi Olahan Petani Kabupaten Jepara
Malam tahun baru menjadi momentum puncak, ketika media sosial menghadirkan standar perayaan yang seragam: ramai, meriah, dan layak ditampilkan. Siapa yang tidak hadir atau tidak membagikannya berisiko merasa tersisih.
Riset Przybylski dkk. (2013) menunjukkan bahwa intensitas penggunaan media sosial berkorelasi dengan meningkatnya FOMO dan menurunnya kepuasan hidup akibat perbandingan sosial yang terus-menerus.
Dalam konteks pergantian tahun, individu tidak hanya merayakan momen, tetapi juga mengelola citra diri. Perayaan bergeser dari pengalaman menjadi representasi. Yang penting bukan lagi apa yang dirasakan, melainkan apa yang terlihat.
Media sosial berperan besar dalam perubahan makna ini. Guy Debord menyebut kondisi ini sebagai society of the spectacle, ketika pengalaman sosial berubah menjadi tontonan dan nilai individu diukur dari apa yang tampak.
BACA JUGA: Punya Wisata dari Bahari hingga Religi, Kecamatan Tahunan Digagas Jadi Wisata Terintegrasi
Pada malam tahun baru, logika ini bekerja dengan jelas. Lini masa dipenuhi unggahan kembang api, konser, dan hitung mundur massal. Sebaliknya, mereka yang merayakan secara sederhana, memilih diam di rumah, atau tidak merayakan sama sekali, kerap merasa “tidak ikut apa-apa”, meski secara faktual tidak kehilangan apa pun.
Fenomena ini terlihat nyata di lapangan. Tidak sedikit orang yang keluar rumah hanya untuk merekam kembang api, bukan untuk menikmatinya. Ada pula yang mengunggah ulang dokumentasi tahun sebelumnya agar tetap tampak hadir secara digital.

Eky Putri Febriyani
Dalam kondisi ini, absensi dari unggahan kerap disalahartikan sebagai absensi sosial. Media sosial menciptakan ilusi bahwa semua orang merayakan dengan cara yang sama, padahal realitas sosial jauh lebih beragam.
Dari sini tampak bahwa FOMO bekerja secara struktural. Ia bukan sekadar masalah individu yang kurang bersyukur atau terlalu sensitif, melainkan hasil dari ekosistem komunikasi digital yang mendorong visibilitas, perbandingan, dan validasi sebagai ukuran partisipasi sosial.
Akibatnya, makna perayaan mengalami penyempitan simbolik. Tahun baru tidak lagi dipahami sebagai momen refleksi, tetapi sebagai ajang tampil. Pengalaman personal kehilangan nilai ketika tidak diakui secara publik.
BACA JUGA: Gubernur Jateng Minta Kader PMII Kawal Program Pemerintah
Menghadapi fenomena FOMO di malam pergantian tahun, diperlukan kesadaran kolektif untuk menata ulang cara memaknai perayaan.
Pada level individu, penting untuk mulai bersikap lebih reflektif terhadap penggunaan media sosial. Tidak setiap momen perlu dibagikan, dan tidak setiap perayaan harus ditampilkan. Mengurangi dorongan untuk terus terlihat hadir secara digital dapat menjadi langkah kecil untuk mengembalikan perayaan sebagai pengalaman yang benar-benar dinikmati, bukan sekadar dikonsumsi secara visual.
Pada level sosial, keluarga dan komunitas perlu membuka ruang bagi keberagaman cara merayakan tahun baru. Perayaan yang sederhana, hening, atau bahkan tanpa perayaan sama sekali seharusnya tidak dianggap sebagai ketidakhadiran sosial.
Dengan demikian, tekanan simbolik untuk selalu tampil dapat dikurangi, terutama bagi generasi muda yang rentan terhadap perbandingan sosial di media digital.
Sementara itu, media sosial sebagai ekosistem komunikasi juga perlu dipahami secara lebih kritis. Literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan platform, tetapi juga kemampuan untuk menyadari dampak psikologis dan kultural dari budaya visibilitas yang terus-menerus. Kesadaran ini penting agar media sosial kembali menjadi ruang berbagi, bukan arena kompetisi simbolik.
Harapannya, perayaan tahun baru ke depan tidak lagi diukur dari seberapa ramai unggahan di lini masa, melainkan dari seberapa bermakna pengalaman yang dijalani.
Eky Putri Febriyani, Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam UNISNU Jepara