Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
GISTARA TV
Friday, September 11, 2026
Top News
Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah
Cuaca Terik, Penjual Es Teh di Jepara Berhamburan
Mengenal Nyai Hindun Anisah, Caleg DPR RI Dapil Demak, Kudus, dan...
Kolam Renang Cinta Candi Liyangan Temanggung Jawa Tengah Terbaru 2022
Fenomena Bodoh Deklarasi Kasyaf Lewat Foto
Ribuan Orang Hadiri Haul Mbah Sahil ke 18, Ini Biografinya
Peringati Hari Ibu, MIDEHA Festival Gelar Lomba Kolaborasi dengan Ibu
Sejarah Pantai Nampu Wonogiri Jawa Tengah Terbaru 2022
Tak Perlu ke Eropa, Main Salju Bisa di Dusun Semilir Bawen
Rancangan Dapil Pemilu 2024 di Jepara Tidak Berubah
Gistara
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Copyright 2021 - All Right Reserved
Opini

Sungai yang Ditinggalkan, Kota yang Tenggelam: Pelajaran Pahit dari Banjir Jepara

by Redaksi 20/01/2026
Redaksi 20/01/2026 399 views
399

Oleh: Dr. Muh Khamdan

Banjir yang mengepung Kabupaten Jepara sepanjang Januari 2026, bukan sekadar peristiwa alam musiman, melainkan akumulasi panjang dari krisis hidrometeorologi dan degradasi sosial-ekologis. Bencana ini juga sebagai cermin rapuhnya relasi manusia, ruang hidup, dan tata kelola lingkungan di Jepara.

Bencana bermula dari kawasan lereng utara Gunung Muria, dengan titik terparah di Tempur, Kecamatan Keling. Curah hujan tinggi yang berlangsung berhari-hari memicu limpasan permukaan ekstrem, diperparah oleh kemiringan lereng dan struktur tanah yang telah kehilangan daya ikat alaminya. Longsor pun tak terhindarkan, memutus akses, merusak rumah warga, dan menutup alur sungai kecil di hulu.

Dari perspektif hidrometrologi, kawasan hulu Muria kini berfungsi seperti corong air raksasa. Vegetasi penutup yang menipis menyebabkan infiltrasi menurun drastis, sementara aliran permukaan meningkat tajam. Air hujan tidak lagi diserap tanah, melainkan langsung meluncur membawa sedimen menuju wilayah hilir.

Dampaknya menjalar ke seluruh Daerah Aliran Sungai (DAS) di lereng selatan Muria, dari Nalumsari, Mayong, Welahan, Pecangaan, hingga Kedung dan Tahunan. Bahkan wilayah pesisir seperti Mlonggo ikut terendam. Ini menunjukkan bahwa banjir Jepara bersifat sistemik, bukan kejadian lokal terisolasi, melainkan kegagalan fungsi DAS secara menyeluruh.

BACA JUGA: Longsor Isolir Desa Tempur, Pemkab Gercep Buka Akses

Longsor sejumlah wilayah di Batealit dan Pakis Aji mempertegas fakta bahwa stabilitas lereng telah berada di titik kritis. Tanah permukaan yang gembur, dipicu hujan intens dan hilangnya vegetasi penguat, mudah runtuh. Dalam sosiologi kebencanaan, kondisi ini disebut sebagai produced vulnerability atau kerentanan yang diciptakan oleh aktivitas manusia sendiri.

Hingga 20 Januari 2026, genangan masih bertahan di Tahunan dan Mlonggo. Air yang mengendap berwarna keruh pekat, menandakan tingginya sedimentasi terlarut. Ini bukan sekadar air banjir, tetapi “air lumpur” hasil erosi masif dari hulu. Indikasinya jelas, kualitas vegetasi penutup tanah di Jepara semakin memburuk.

Pendangkalan sungai memperparah keadaan. Banyak alur sungai kehilangan kapasitas tampung alaminya karena sedimentasi dan sampah. Ironisnya, sungai-sungai tersebut dibiarkan tanpa perawatan, seolah hanya menjadi saluran pembuangan, bukan infrastruktur ekologis yang vital bagi keselamatan wilayah.

Lebih memprihatinkan lagi, sungai di Jepara kerap diperlakukan sebagai muara saluran pinggir jalan yang menampung limbah dapur dan rumah tangga. Fungsi ekologis sungai sebagai pengatur siklus hidrologi, habitat perikanan, dan penyangga bencana, hampir sepenuhnya terabaikan.

Padahal, kearifan lokal leluhur Jawa telah lama menempatkan sungai sebagai pusat kehidupan. Sungai dijaga, ditanami bambu, dijadikan tempat mandi, tempat bersuci dan menyucikan, sehingga terus dipelihara sebagai ruang bersama. Ketika nilai-nilai ini ditinggalkan, atau tergerus paradigma modern tentang konsepsi air bersih jalur PDAM, maka sungai kehilangan “jiwa sosialnya” dan berubah menjadi sumber risiko.

BACA JUGA: Polisi Sigap Bersihkan Material Longsor di Keling Jepara

Ketiadaan vegetasi penguat tebing, seperti bambu dan tanaman berakar dalam lainnya, membuat tanah mudah tergerus. Secara ilmiah, akar tanaman berfungsi meningkatkan kohesi tanah dan mengurangi kecepatan aliran air permukaan. Ketika vegetasi ini hilang, longsor hanyalah soal waktu.

Eksploitasi tanah melalui aktivitas galian di Sumberrejo, Bungu, Pancur, dan Nalumsari semakin mempercepat degradasi. Galian terbuka menciptakan luka permanen pada lanskap, mengubah arah aliran air, dan meningkatkan beban sedimen ke sungai-sungai utama.

Dalam konteks penanganan bencana, faktor ekologis ini berkorelasi langsung dengan kompleksitas respons darurat. Distribusi bantuan terhambat oleh akses yang terputus, pengerahan relawan terganggu oleh medan berbahaya, dan alat berat sulit masuk ke lokasi terdampak.

Lebih jauh, lemahnya integrasi pra dan pascabencana tampak dari koordinasi kebijakan administrasi. Tanpa basis data risiko yang kuat dan perencanaan tata ruang berbasis DAS, respons pemerintah cenderung reaktif, bukan preventif.

Bencana Jepara seharusnya menjadi pelajaran kolektif. Integrasi antara pemerintah lokal, pemerintah pusat, masyarakat sipil, akademisi, dan sektor usaha mutlak diperlukan. Pengelolaan DAS, rehabilitasi vegetasi, penertiban galian, dan revitalisasi sungai harus menjadi agenda bersama, bukan proyek sektoral.

Pada akhirnya, banjir dan longsor di Jepara Januari 2026 mengingatkan kita bahwa bencana bukan takdir semata. Ia adalah hasil dari pilihan-pilihan sosial, ekonomi, dan ekologis yang kita buat.

Jika Jepara ingin keluar dari lingkaran bencana, maka membangun kembali relasi harmonis antara manusia dan alam bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Bencana adalah pesan damai untuk menghentikan kerakusan atas alam.

Dr. Muh Khamdan, Analis Kebijakan Publik; Doktor Studi Perdamaian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BanjirJeparaLongsor
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Redaksi

previous post
MDSM di MA NU Nahdlatul Fata Petekeyan, Mahasiswa Unisnu Jepara Dituntut Kreatif
next post
FKD UNISNU Jepara Gandeng Universitas Udayana, Perkuat Kerja Sama Akademik

You may also like

Undang-Undang Pesantren Dan Orientasi Pendidikan Indonesia

05/09/2026

Ketua PBNU dan Imperatif “Tajalli” Melampaui Intelektualisme Menuju Kejernihan Hati

03/09/2026

Kembalinya Trah Tebuireng, Gus Kikin dan Perebutan Makna Identitas NU

01/09/2026

Muktamar NU ke-35, Asap yang Padam di Ruang Sidang

29/08/2026

Hari Keempat Muktamar NU ke-35: Kematangan Peserta Memilih AHWA

29/08/2026

Mengamankan Pemilih AHWA pada Muktamar NU ke-35 Jombang

21/08/2026

Terkini

  • Sediakan Akses Air Bersih, Pusterad dan Kodim Jepara Bersama Pemkab Jepara Survei Titik Sumur Bor 

    10/09/2026
  • Komisi Pendidikan Pesantren dan Kaderisasi Ulama MUI Jawa Tengah Monitor Perkembangan Pesantren Karimunjawa

    10/09/2026
  • Utamakan Kenyamanan Wisatawan, Pelabuhan Karimunjawa Bakal Diperbaiki

    10/09/2026
  • Jelang Pelaksanaan Persimanu 2, Panitia Gelar Rakor Lintas Sektor

    09/09/2026
  • Kafilah Jepara Resmi Dilepas ke MTQ Nasional,  Pemkab Siapkan Reward bagi Peraih Juara

    09/09/2026
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Sign In

Keep me signed in until I sign out

Forgot your password?

Do not have an account ? Register here

Password Recovery

A new password will be emailed to you.

Have received a new password? Login here

Register New Account

Have an account? Login here