Dinamika muktamar Jombang sangat memprihatinkan diwarnai berbagai isu dan praktik yang kontroversial. Hari keempat Muktamar NU menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan forum permusyawaratan tertinggi organisasi.
Setelah melewati rangkaian pembahasan, perdebatan, serta pertukaran pandangan pada hari-hari sebelumnya hingga penerimaan laporan pertanggungjawaban (LPJ) periode kepemimpinan KH. Yahya Kholil Staquf (Gus Yahya), suasana muktamar mulai memasuki tahap yang semakin menentukan yaitu mematangkan pilihan terhadap mekanisme dan figur Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
AHWA bukan sekadar mekanisme pemilihan. Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, AHWA memiliki makna penting sebagai representasi para ulama yang dinilai memiliki kapasitas keilmuan, keteladanan, serta kemampuan membaca kebutuhan organisasi dan umat. Karena itu, proses menuju pemilihan AHWA tidak semestinya dipandang sebagai pertarungan kepentingan, melainkan sebagai ikhtiar menemukan jalan terbaik bagi keberlanjutan jam’iyah. Sempat beredar informasi supaya kyai yang belum memenuhi kriteria supaya tau diri dan mundur dari posisi AHWA jika diusulkan.
Pada hari keempat, dinamika muktamar menunjukkan adanya proses pendewasaan dalam menyikapi perbedaan. Berbagai pandangan yang muncul tidak hanya berkaitan dengan siapa yang akan dipilih, tetapi juga menyentuh pertanyaan yang lebih mendasar: seperti apa kepemimpinan NU yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan zaman.
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena NU tidak berdiri hanya untuk mengelola organisasi. NU memiliki tanggung jawab keumatan yang luas, mulai dari penguatan tradisi keislaman, pendidikan, sosial, ekonomi, hingga kontribusi terhadap kehidupan kebangsaan.
BACA JUGA: Heboh Pulau Menjangan Kecil Dikabarkan Dijual Rp500 Miliar, Bupati Jepara Tegaskan itu Hoaks
Dalam konteks itulah, AHWA diharapkan menjadi ruang untuk menghadirkan keputusan yang tidak semata-mata lahir dari kalkulasi suara, tetapi juga dari pertimbangan kebijaksanaan para ulama dalam menghadirkan NU di era digital dan global.
Hari keempat juga dapat dibaca sebagai momentum untuk mengurangi ketegangan yang mungkin muncul dalam dinamika muktamar. Perbedaan pilihan adalah sesuatu yang wajar dalam forum sebesar NU. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana perbedaan tersebut tetap berada dalam koridor adab, persaudaraan, dan kepentingan organisasi.
Prioritaskan Nilai Keislaman dan Keulamaan
Semangat musyawarah menjunjung tinggi nilai keislaman dan keulamaan menjadi kunci. Tradisi NU sejak lama menempatkan musyawarah sebagai bagian penting dalam mengambil keputusan. Karena itu, kematangan memilih AHWA harus dibangun melalui proses yang jernih, terbuka, dan penuh penghormatan terhadap otoritas keulamaan.
Para peserta muktamar memiliki tanggung jawab sejarah. Keputusan yang diambil hari ini bukan hanya menentukan arah kepengurusan untuk satu periode, tetapi juga akan menjadi bagian dari perjalanan panjang NU sebagai organisasi yang memiliki akar kuat di tengah masyarakat. Pemilihan AHWA tidak boleh ada jual beli ulama baik dari level PWNU maupun PCNU.
AHWA, dengan demikian, idealnya diisi oleh figur-figur yang bukan hanya memiliki kapasitas keilmuan, tetapi juga keluasan pandangan, integritas, keteguhan moral, dan kemampuan menjaga keseimbangan antara tradisi dan kebutuhan zaman.
Kematangan memilih AHWA pada akhirnya bukan sekadar tentang mencapai kesepakatan nama. Lebih dari itu, kematangan tersebut tercermin dari kemampuan seluruh elemen muktamar menempatkan kepentingan jam’iyah di atas kepentingan kelompok dan pribadi.
BACA JUGA: BAZNAS Kabupaten Jepara Mengucapkan Dirgahayu RI ke-81
Hari keempat menjadi penanda bahwa muktamar sedang bergerak menuju salah satu titik pentingnya. Semakin dekat dengan keputusan, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga ketenangan dan kejernihan berpikir.
NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu merawat kebersamaan, menjaga marwah ulama, sekaligus menjawab persoalan umat yang terus berkembang. Karena itu, proses memilih AHWA seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat kembali nilai dasar NU: musyawarah, tawassuth, tawazun, tasamuh, dan ukhuwah.
Pada akhirnya, siapa pun yang terpilih dan bagaimana pun hasil keputusan muktamar, seluruh proses hendaknya bermuara pada satu tujuan: menjaga NU tetap menjadi rumah besar bagi umat, tempat bertemunya tradisi keilmuan, kebijaksanaan ulama, dan kebutuhan masyarakat.
Hari keempat bukan sekadar hitungan waktu dalam rangkaian muktamar melainkan sebagai fase pilihan yang dimatangkan, perbedaan mulai dikelola dengan lebih dewasa, dan harapan terhadap masa depan NU semakin diletakkan di atas meja musyawarah.
Dari sanalah kematangan memilih AHWA menemukan maknanya: bukan sekadar memilih siapa yang akan duduk dalam sebuah forum, melainkan memilih arah kebijaksanaan yang diharapkan mampu membawa NU melangkah lebih jauh menuju kemaslahatan ummat.(KA)