SEMARANG | GISTARA.COM – Penguatan kesadaran bela negara kini tidak lagi dimaknai semata dalam bingkai pertahanan militer. Di lingkungan Kementerian Kesehatan, konsep itu mulai diterjemahkan sebagai kewaspadaan dini dan kesiapsiagaan nasional dalam menjaga kedaulatan kesehatan publik. Perspektif inilah yang menjadi benang merah penguatan bela negara bagi tenaga medis dalam Pelatihan Dasar (Latsar) kelompok 206, Senin, 26 Januari 2026.
Penguatan tersebut disampaikan oleh Dr. Muh Khamdan, Widyaiswara Balai Pelatihan Hukum (Bapelkum) Semarang, dalam agenda satu Pelatihan Dasar bagi aparatur sipil negara di lingkungan Kementerian Kesehatan. Kegiatan ini menjadi bentuk sinergi antarkementerian, antara Balai Pelatihan Hukum Semarang, unit kerja di bawah Kementerian Hukum dengan Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Semarang yang berada di bawah Kementerian Kesehatan.
Dalam paparannya, Khamdan menekankan bahwa bela negara bagi tenaga kesehatan adalah kesadaran profesional yang berkelindan dengan tanggung jawab kebangsaan. “Tenaga medis berada di garis depan dalam menjaga keberlangsungan hidup bangsa. Ketika sistem kesehatan goyah, kedaulatan negara ikut terancam,” ujarnya dalam pemaparan daring dari ruang Widyaiswara Bapelkum Semarang.
BACA JUGA: Wujudkan Pemerintahan yang Akuntabel, Bupati Jepara dan Perangkat Daerah Tandatangani Perjanjian Kinerja Tahun 2026
Pelatihan yang digelar secara daring ini diikuti 20 peserta dari berbagai institusi layanan kesehatan pemerintah. Mereka berasal dari RSUP Kariadi, RSUP Surabaya, RSUP Ngoerah Bali, RSUP Harapan Kita Jakarta, Politeknik Kesehatan Tanjungpinang, serta BPAFK Medan. Kegiatan diawali dengan sesi berbagi pengetahuan dari para peserta. Mereka memaparkan praktik dan tantangan implementasi komitmen bela negara di unit kerja masing-masing, terutama dalam konteks pelayanan kesehatan publik.
Diskusi ini menjadi ruang refleksi bersama tentang posisi strategis tenaga medis sebagai aparatur negara sekaligus pelayan masyarakat.
Lima nilai dasar bela negara menjadi pijakan utama diskursus, mencakup cinta tanah air, sadar berbangsa dan bernegara, setia pada Pancasila, rela berkorban, serta memiliki kemampuan awal bela negara. Dalam konteks kesehatan, nilai-nilai tersebut diterjemahkan ke dalam upaya menjaga kedaulatan kesehatan nasional melalui promosi hidup sehat dan hidup bersih di tengah masyarakat.
Menurut Khamdan, pembudayaan nilai Pancasila di sektor kesehatan tidak dapat berhenti pada tataran normatif. Ia harus hadir dalam kebijakan layanan, etika profesi, hingga pola komunikasi tenaga medis dengan pasien. “Ketika tenaga kesehatan menegakkan disiplin layanan dan keadilan akses, di situlah Pancasila bekerja secara nyata,” kata dia.
Pelatihan ini juga menekankan pentingnya kewaspadaan dini sebagai bagian dari bela negara nonmiliter. Pandemi, krisis obat, hingga disrupsi teknologi kesehatan dipandang sebagai bentuk ancaman baru yang menuntut kesiapsiagaan aparatur negara, khususnya di sektor kesehatan.
Sebagai tindak lanjut, setiap peserta diminta merancang rencana aksi bela negara di instansinya masing-masing. Rencana tersebut disusun berbasis lima nilai dasar bela negara dan disesuaikan dengan karakter tugas serta fungsi unit kerja peserta, mulai dari rumah sakit rujukan nasional hingga institusi pendidikan kesehatan.
Rencana aksi itu tidak berhenti di atas kertas. Peserta diwajibkan memvisualisasikan komitmen tersebut dalam bentuk video kebangsaan atau dokumentasi pelaksanaan nilai bela negara yang dijalankan selama satu bulan ke depan sebagai bagian dari proses habituasi.
Pendekatan ini, dimaksudkan untuk memastikan bahwa nilai bela negara tidak berhenti sebagai slogan pelatihan. Ia diharapkan tumbuh menjadi kebiasaan kerja dan etos pelayanan publik di lingkungan kesehatan pemerintah.
Di tengah tantangan kesehatan global yang kian kompleks, penguatan kesadaran bela negara bagi tenaga medis menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan warga adalah bagian tak terpisahkan dari menjaga negara. Dari ruang perawatan hingga ruang kebijakan, Pancasila dan bela negara menemukan relevansinya dalam kerja-kerja sunyi para tenaga kesehatan. (AD)