Muhasabah Akhir Tahun Hijriah

K. Zaenal Arifin memberikan tausiyah dalam pengajian Ahad pagi

JEPARA | GISTARA. COM – Suasana khidmat menyelimuti jamaah Masjid Raudlatul Falah Sekuro pada Ahad pagi. Sejak subuh, jamaah berduyun-duyun memadati masjid untuk melaksanakan Salat Subuh berjamaah yang kemudian dilanjutkan dengan pengajian Ahad pagi, Ahad (14/6/2026).

Dalam tausiyahnya, K. Zaenal Arifin mengajak jamaah untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri menjelang berakhirnya tahun Hijriah. Menurutnya, momentum pergantian tahun dapat dianalogikan seperti seorang pedagang yang menghitung untung dan rugi setelah menjalankan usahanya selama satu tahun.

“Kita perlu menghitung kembali apa yang telah kita lakukan selama setahun ini. Sudah sejauh mana kita menjalankan kebajikan, amar makruf nahi mungkar, serta amal saleh lainnya,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa bertambahnya usia sejatinya menunjukkan berkurangnya kesempatan hidup yang dimiliki manusia. Oleh karena itu, setiap orang hendaknya terus memperbaiki diri dengan melakukan berbagai perbuatan positif.

BACA JUGA: Menjaga Marwah Pesantren di Tengah Kasus Kekerasan Seksual, Gus Sholah: Perkuat Nalar Kritis dan Perlindungan Santri

“Tambahnya umur berarti kesempatan hidup kita semakin berkurang. Karena itu, kita harus bermuhasabah dan memperbaiki diri dengan hal-hal yang positif,” tuturnya.

K. Zaenal Arifin juga mengingatkan pentingnya bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Ia mengutip makna firman Allah bahwa siapa yang bersyukur akan ditambah nikmatnya, sedangkan yang kufur nikmat akan mendapatkan azab.

“Siapa yang bersyukur kepada Allah SWT, sesungguhnya manfaat syukur itu kembali kepada dirinya sendiri,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa akhir tahun dapat menjadi pijakan untuk menilai kualitas diri. Menurutnya, seseorang yang kondisinya lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya termasuk orang yang beruntung. Sebaliknya, orang yang kualitas dirinya tetap sama tergolong tidak beruntung, sedangkan yang lebih buruk dari tahun sebelumnya termasuk orang yang merugi.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menjelaskan makna lafaz ihdinash shirathal mustaqim dalam Surah Al-Fatihah. Menurutnya, saat membaca ayat tersebut, umat Islam hendaknya memohon petunjuk kepada Allah SWT agar diberikan kebaikan dalam seluruh aspek kehidupan.

Ia kemudian memberikan perumpamaan dalam dunia perdagangan. Menurutnya, semakin besar modal dan usaha yang dilakukan, maka semakin besar pula hasil yang diperoleh.

“Seperti berdagang, jika modal dan ikhtiarnya besar, maka hasil yang diperoleh juga akan lebih besar,” katanya.

BACA JUGA: Menjaga Marwah Pesantren dari Kekerasan, Gus Sahil: Pelaku Harus Diproses sesuai Hukum yang berlaku

K. Zaenal Arifin menekankan bahwa setiap kebaikan memerlukan proses dan tahapan. Seseorang tidak bisa langsung menjadi baik tanpa membiasakan diri melakukan amal saleh.

“Sebagai contoh, dalam bersedekah jangan menunggu kaya. Sedekah harus dicoba dan dibiasakan. Dengan membiasakan perbuatan baik, insyaallah keikhlasan akan tumbuh dan menjadi kebiasaan,” jelasnya.

Di akhir tausiyah, ia mengibaratkan sedekah seperti tandon air yang terus diisi. Ketika saluran air terbuka, air akan terus mengalir dan tidak pernah benar-benar habis.

“Demikian pula dengan sedekah. Harta yang diinfakkan memang tampak berkurang secara materi, tetapi sejatinya akan terus mengalir pahalanya dan tidak akan habis di sisi Allah SWT,” pungkasnya. (KA/KM)

Related posts

Kiai Nurul Taufiq Ingatkan Pentingnya Ikhtiar dan Rahmat Allah SWT

Jelang Armuzna, 3 Juta Paket Makanan Siap Santap Disiapkan  Untuk Jemaah Haji Indonesia

Perjuangan  Nenek Jumariah Menuju Baitullah, Kini Jadi Ikon Haji 2026