Menjadi Pembelajar Sejati, di Tengah Gempuran AI

Ilustrasi Al

JEPARA | GISTARA. COM – Perkembangan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang semakin pesat membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan. Mulai dari dunia pendidikan, pekerjaan, hingga komunikasi, teknologi ini kini menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari aktivitas masyarakat sehari-hari.

Ahmad Ivan Abid Nugroho, seorang kolumnis, ia menyatakan Di balik berbagai kemudahan yang ditawarkan, muncul pula kekhawatiran tentang semakin besarnya ketergantungan manusia terhadap teknologi. AI kini mampu menyusun tulisan, menerjemahkan bahasa, menghasilkan gambar dan video, hingga membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang kompleks dalam hitungan detik.

Meski demikian, para tokoh pendidikan dan keagamaan mengingatkan bahwa secanggih apa pun teknologi yang diciptakan, AI tetaplah sebuah alat. Teknologi tidak dapat menggantikan kemampuan manusia dalam berpikir kritis, mengambil keputusan moral, maupun membangun empati dan hubungan sosial.

BACA JUGA: Diduga Penambangan Ilegal, Penggalian Tanah Urug di Ngabul Dihentikan

“Sejarah membuktikan bahwa kemajuan peradaban lahir dari budaya belajar yang kuat. Dunia Islam sendiri pernah melahirkan banyak ilmuwan besar yang memberikan kontribusi penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti Ibnu Sina di bidang kedokteran, Al-Khawarizmi dalam matematika, dan Ibnu Al-Haytam dalam ilmu optik,” tutur Ahmad Ivan Abid Nugroho, sebagaimana dilansir di nu online (19/6/26)

Karena itu, perkembangan AI seharusnya dipandang sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas diri, bukan alasan untuk berhenti belajar. Kemampuan teknologi dalam menyediakan informasi justru menuntut manusia untuk semakin cermat dalam memilah, memahami, dan memverifikasi setiap informasi yang diterima.

Tantangan lain yang muncul di era kecerdasan buatan adalah semakin maraknya penyebaran informasi palsu atau hoaks. Dengan bantuan teknologi, konten berupa tulisan, gambar, suara, hingga video dapat dibuat menyerupai kenyataan sehingga sulit dibedakan dari informasi asli.

Kondisi tersebut menuntut masyarakat untuk lebih kritis dan tidak mudah percaya terhadap setiap informasi yang beredar di media sosial maupun platform digital lainnya. Kebiasaan memeriksa sumber informasi dan melakukan verifikasi menjadi langkah penting agar tidak terjebak dalam penyebaran berita bohong.

BACA JUGA: Sambut 1 Muharam 1448 H Bersama Gandrung Nabi, Bupati Jepara Ajak Warga Perkuat Cinta Rasul dan Persatuan

Dalam bidang pendidikan dan keagamaan, teknologi juga dinilai tidak dapat menggantikan peran guru, dosen, ulama, maupun para pendidik. Selain menyampaikan ilmu, mereka berperan membentuk karakter, menanamkan nilai, serta memberikan keteladanan yang tidak bisa dilakukan oleh mesin.

Penggunaan AI secara bijak dinilai dapat menjadi sarana untuk meningkatkan produktivitas dan memperluas akses pengetahuan. Namun, manusia tetap harus menjadi pengendali teknologi, bukan sebaliknya.

Di tengah derasnya arus transformasi digital, generasi muda diharapkan mampu menguasai teknologi sekaligus menjaga nilai-nilai moral dan etika. Kecerdasan teknologi perlu diimbangi dengan kecerdasan berpikir, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual agar kemajuan yang dicapai benar-benar membawa manfaat bagi kehidupan.

“Perkembangan AI pada akhirnya menjadi pengingat bahwa manusia harus terus belajar, beradaptasi, dan mengembangkan potensi dirinya. Sebab, akal, hati, empati, dan tanggung jawab moral tetap menjadi keunggulan yang tidak dapat dimiliki oleh mesin secanggih apa pun,” pungkas Ahmad Ivan. (KA)

Related posts

Seru dan Edukatif, Ratusan Siswa MI Manbaul Falihin Ngabul Ikuti Persari

Saat Doa Mengalun dan Perpisahan Menyapa

Penuh Haru, MTs dan MA Hasyim Asy’ari Kalipucang Wetan Gelar Muwada’ah serta Pelepasan Siswa