JEPARA | GISTARA. COM -Suasana pagi yang cerah menyelimuti jamaah Masjid Raudlatul Falah Sekuro, Mlonggo, Jepara, yang berbondong-bondong mengikuti salat Subuh berjamaah, dilanjutkan dengan kegiatan rutin Ngaji Ahad Pagi. Jamaah tampak memenuhi serambi masjid dan mengikuti pengajian dengan khidmat. Kegiatan tersebut menghadirkan KH M. Nur Jalal Mujtaba, SQ, selaku Ketua Lazisnu PCNU Jepara, sebagai pembicara, Ahad (21/6/2026).
Dalam kesempatan tersebut, KH M. Nur Jalal Mujtaba menyampaikan materi bertema “Muhasabah Tahun Baru Islam dan Keutamaan Bulan Muharram”. Ia mengajak jamaah menjadikan Tahun Baru Hijriah bukan sekadar pergantian angka dalam kalender, melainkan sebagai momentum introspeksi dan perbaikan diri menuju kehidupan yang lebih baik.
Menurutnya, bulan Muharram atau yang dalam tradisi masyarakat Jawa dikenal dengan sebutan Suro merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah yang memiliki berbagai keutamaan. Momentum pergantian tahun, lanjutnya, hendaknya dijadikan sarana untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT maupun sesama manusia.
“Tahun Baru Islam bukan sekadar pergantian angka tahun, tetapi menjadi momentum hijrah menuju kehidupan yang lebih baik, dari keburukan menuju kebaikan, dari kelalaian menuju ketaatan kepada Allah SWT,” ungkapnya kepada jamaah masjid dengan penuh semangat.
BACA JUGA: Puing-Puing Kebakaran Sisakan Duka, BAZNAS Jepara Hadir Membawa Asa untuk Mbah Kandek
Ia menjelaskan bahwa hakikat hijrah yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW tidak hanya bermakna perpindahan tempat dari Makkah ke Madinah, tetapi juga perubahan sikap dan perilaku menuju jalan yang diridhai Allah SWT.
Dalam pengajiannya, KH M. Nur Jalal Mujtaba menekankan tiga hal penting yang dapat dijadikan pijakan muhasabah diri dalam menyambut Tahun Baru Islam, yakni memperbanyak ucapan Alhamdulillah, Istighfar, dan Bismillahirrahmanirrahim.
Beliau menjelaskan bahwa Alhamdulillah menjadi bentuk syukur atas segala nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada manusia, mulai dari kesehatan, kesempatan hidup, keluarga, hingga rezeki yang masih diberikan setiap hari.
“Alhamdulillah kita masih diberikan kesehatan, kesempatan hidup, dan rezeki. Jangan sampai kita lupa bersyukur atas nikmat yang Allah SWT berikan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa manusia sering kali lebih fokus pada hal yang belum dimiliki dibandingkan mensyukuri nikmat yang sudah ada. Padahal, menurutnya, Allah SWT telah menjanjikan tambahan nikmat bagi hamba yang bersyukur.
Selain rasa syukur, jamaah juga diajak memperbanyak istigfar sebagai sarana mengevaluasi diri atas berbagai kesalahan yang mungkin dilakukan selama satu tahun terakhir.
Menurutnya, istigfar merupakan bentuk kesadaran seorang hamba terhadap kelemahan dan kekhilafannya, baik kepada orang tua, keluarga, tetangga, maupun sesama manusia.
“Kita mungkin sering melakukan kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja. Karena itu, istigfar menjadi jalan untuk memohon ampunan kepada Allah SWT,” jelasnya.
Lebih lanjut, KH M. Nur Jalal Mujtaba menegaskan bahwa Bismillahirrahmanirrahim menjadi langkah awal untuk memulai kehidupan yang lebih baik pada tahun yang baru. Ia menyampaikan bahwa setiap amal yang dimulai dengan menyebut nama Allah diharapkan memperoleh keberkahan.
“Tahun baru bukan sekadar mengingat masa lalu, tetapi menjadi kesempatan untuk memulai langkah baru. Bismillah memperbaiki salat, Bismillah memperbaiki akhlak, dan Bismillah menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Allah SWT,” tuturnya.
Selain membahas muhasabah, ia juga menjelaskan sejarah penetapan kalender Hijriah pada masa Khalifah Umar bin Khattab, ketika administrasi pemerintahan membutuhkan sistem penanggalan yang jelas. Dari hasil musyawarah para sahabat, peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW ditetapkan sebagai awal perhitungan tahun Islam, dengan Muharram sebagai bulan pertama.
BACA JUGA: Jaga Warisan Budaya, Kentrung Jepara Kini Jadi Cabang Lomba FTBI
Pada bulan Muharram, lanjutnya, terdapat sejumlah amalan yang dianjurkan, seperti memperbanyak puasa sunah, khususnya puasa Tasu’a dan Asyura, salat malam, serta memperbanyak sedekah dan amal kebaikan.
“Puasa Asyura memiliki keutamaan besar. Rasulullah SAW berharap melalui puasa tersebut Allah SWT menghapus dosa-dosa kecil selama setahun yang lalu,” jelasnya.
Di akhir pengajian, KH M. Nur Jalal Mujtaba mengajak seluruh jamaah menjadikan Tahun Baru Islam sebagai momentum perubahan diri menuju kehidupan yang lebih baik.
“Mudah-mudahan tahun baru ini menjadi awal perubahan diri kita; yang dahulu malas salat menjadi rajin, yang dahulu sulit bersedekah menjadi ringan, dan yang dahulu jauh dari Allah SWT menjadi semakin dekat kepada-Nya,” pungkasnya.(KA)