JEPARA | GISTARA. COM – Suasana pagi yang sejuk tidak menyurutkan semangat jamaah untuk menghadiri Kajian Ahad Pagi usai salat Subuh di Masjid Jami’ Raudlatul Falah, Desa Sekuro, Kecamatan Mlonggo. Dengan penuh kekhidmatan, jamaah mengikuti tausiah yang disampaikan Ustaz Nurul Taufiq.
Dalam kajiannya, ia mengajak jamaah meneladani lima sifat utama yang menjadi tanda kemuliaan seorang mukmin, yakni zuhud, cerdas, dermawan, indah akhlaknya, dan memiliki kewibawaan. Kajian tersebut berlangsung pada Ahad (2/8/2026).
Mengawali kajiannya, Ustaz Nurul Taufiq menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki lima sifat tersebut akan lebih mudah meraih kemuliaan di sisi Allah SWT sekaligus menghadirkan manfaat bagi sesama. Menurutnya, kelima sifat itu tidak hanya menjadi ukuran kualitas ibadah, tetapi juga tercermin dalam perilaku sehari-hari.
BACA JUGA: Ribuan Warga Serbu Kartini Night Jepara, Siap Dijadikan Agenda Bulanan
Sifat pertama, Ustaz Nurul Taufiq mengutip penjelasan dalam kitab Kifāyatul Atqiyā’ mengenai makna zuhud. Menurutnya, zuhud bukan berarti meninggalkan dunia atau tidak memiliki harta, melainkan tidak menggantungkan hati kepada kenikmatan dunia serta tidak menjadikan harta sebagai sandaran utama dalam kehidupan. Seorang yang zuhud tetap boleh bekerja, memiliki kekayaan, dan memanfaatkan nikmat dunia, tetapi hatinya tetap bergantung kepada Allah SWT, bukan kepada harta yang dimilikinya.
“Zuhud itu bukan tidak punya harta, tetapi tidak bergantung kepada harta. Dunia berada di tangan, bukan di hati,” ujar Ustaz Nurul Taufiq.
Ia juga mengutip penjelasan yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib bahwa seseorang yang zuhud tidak terlalu mempersoalkan kepada siapa hartanya diberikan. Baik diberikan kepada fakir miskin maupun kepada siapa pun, semuanya diyakini berada dalam pengaturan Allah SWT. Bahkan, lanjutnya, Nabi Muhammad SAW dan Nabi Sulaiman AS merupakan teladan terbaik dalam sifat zuhud meskipun keduanya memiliki kondisi kehidupan yang berbeda.
“Rasulullah SAW hidup dengan sederhana, tetapi ketika memberi kepada para sahabat beliau sangat dermawan. Itulah hakikat zuhud,” tuturnya.
BACA JUGA: PERGUNU Jepara Apresiasi Kartu Guru Sejahtera, Langkah Nyata Tingkatkan Kesejahteraan Guru
Sifat kedua adalah cerdas. Menurut Ustaz Nurul Taufiq, kecerdasan tidak hanya diukur dari kemampuan berpikir atau aspek kognitif, tetapi juga mencakup kebijaksanaan dalam bersikap, mengelola emosi, serta menyelesaikan persoalan kehidupan.
“Cerdas itu bukan hanya pintar, tetapi bijaksana dalam menghadapi masalah. Mampu menerima keadaan dan mengendalikan diri juga merupakan bagian dari kecerdasan,” katanya.
Ia kemudian memberikan ilustrasi sederhana bahwa seseorang yang mampu menahan emosi dalam kehidupan rumah tangga menunjukkan kedewasaan berpikir.
“Ada istri memarahi suami. Ketika suami tidak ikut marah, itu termasuk cerdas,” ujarnya disambut senyum jamaah.
Dalam kesempatan itu, ia juga menjelaskan bahwa kebodohan terbagi menjadi dua, yaitu jahil basith (tidak mengetahui sama sekali) dan jahil murakkab (tidak tahu tetapi merasa paling tahu). Menurutnya, jenis kebodohan kedua lebih berbahaya karena menutup pintu seseorang untuk belajar.
Selanjutnya, Ustaz Nurul Taufiq menguraikan makna dermawan. Ia menegaskan bahwa kedermawanan tidak selalu diukur dengan besarnya harta yang diberikan, tetapi juga melalui tenaga, waktu, dan kepedulian terhadap kepentingan bersama.
“Dermawan bukan hanya memberi uang, tetapi juga mau menyumbangkan tenaga dan membantu orang lain,” ungkapnya.
Sebagai contoh, ia mengingatkan pentingnya berpartisipasi dalam kegiatan sosial di lingkungan masyarakat.
“Kalau sudah diumumkan untuk memasang umbul-umbul tetapi tidak mau ikut membantu padahal mampu, itu menunjukkan belum tumbuh sifat dermawan,” papar Ustad Taufiq dengan senyum renyahnya.
BACA JUGA: Guru TPQ hingga Instruktur LKP Terima Bantuan Program Guru Sejahtera Jepara 2026, Berikut Rinciannya
Sifat berikutnya adalah bagus atau indah. Menurutnya, keindahan tidak berhenti pada penampilan lahiriah, tetapi juga harus tercermin dalam kebersihan hati, akhlak, dan perilaku yang membawa manfaat bagi orang lain.
“Bagus itu bukan hanya wajahnya, tetapi juga batinnya. Akhlaknya baik dan selalu menghadirkan kebaikan bagi sesama,” jelasnya.
Terakhir, ia menjelaskan makna kewibawaan. Menurutnya, seseorang akan dihormati bukan karena jabatan atau kekuasaan, melainkan karena kemampuannya mengendalikan diri ketika menghadapi persoalan.
“Kewibawaan itu tampak ketika seseorang menghadapi masalah tanpa mudah marah dan tanpa dikuasai emosi,” tegasnya. (KA/KM)