JEPARA | GISTARA. COM – Langkahnya tenang, senyumnya ramah, dan tutur katanya selalu lembut. Di balik penampilannya yang sederhana, Mualimi menyimpan kisah panjang tentang perjuangan, ketekunan, dan keikhlasan.
Tubuhnya yang tegap berpadu dengan wajah yang teduh mencerminkan pribadi yang rendah hati sekaligus berwibawa. Sebagai seorang pendidik dan pemimpin lembaga pendidikan, Mualimin dikenal sebagai sosok yang tidak pernah lelah belajar dan mengabdi.
Lahir di Jepara pada 11 Juli 1972 dari pasangan Supani dan Mariyah, Mualimin tumbuh dalam keluarga petani sederhana. Sang ayah bekerja sebagai petani, sementara ibunya menjadi penggarap ladang. Kehidupan yang serba terbatas justru menempa dirinya menjadi pribadi yang kuat.
Sejak kecil ia diajarkan untuk hidup sederhana, bermanfaat bagi sesama, dan menjalani kehidupan dengan prinsip “mengalir seperti air”—tetap bergerak, memberi manfaat, tanpa kehilangan arah.
BACA JUGA: Multaqo LMY Kecamatan Jepara 2026 Ditutup, Tebar Kepedulian kepada Anak Yatim dan Guru TPQ
Kini, Mualimin tinggal bersama keluarganya di Desa Kepuk RT 02 RW 02, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara. Di sela kesibukannya memimpin berbagai lembaga pendidikan, ia menikmati aktivitas membaca, berdiskusi tentang pendidikan, serta berinteraksi dengan guru dan masyarakat.
Baginya, belajar tidak mengenal usia, sementara mengabdi adalah panggilan hidup yang harus dijalankan sepanjang hayat.
Perjalanan pendidikan Mualimin dimulai di SD Negeri 2 Kepuk, yang diselesaikannya pada tahun 1987. Semangat belajarnya berlanjut ke MTs Nahdlatul Ulama Tengguli hingga lulus pada tahun 1990.
Setelah itu, ia menempuh pendidikan di MA Hasyim Asy’ari Bangsri sekaligus memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari Bangsri, yang diselesaikan pada tahun 1993.
Pendidikan formal dan pesantren menjadi fondasi penting yang membentuk karakter religius, disiplin, dan penuh tanggung jawab dalam dirinya.
BACA JUGA: Ribuan Warga Meriahkan Hari Koperasi ke-79 di Jepara, Usung Semangat Kebersamaan dan Gotong Royong
Namun, jalan menuju keberhasilan tidak dimulai dari ruang kepala sekolah ataupun podium kehormatan. Tahun 1993 menjadi titik awal perjuangannya ketika ia bekerja sebagai petugas kebersihan (office boy) di MTs Hasyim Asy’ari Bangsri.
Selain itu, ia juga dipercaya menjadi sopir pribadi K.H. Amin Sholeh di Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari.
Bagi sebagian orang, pekerjaan tersebut mungkin dipandang sederhana, tetapi bagi Pak Min setiap amanah adalah ladang pengabdian. Ia menjalani semua tugas dengan penuh tanggung jawab, tanpa pernah merasa rendah diri.
Kejujuran, kedisiplinan, dan etos kerja yang tinggi akhirnya membuahkan hasil. Pada tahun 1997, pihak madrasah memberikan kepercayaan kepadanya untuk menjadi guru. Kesempatan itu disambut dengan penuh rasa syukur, tetapi ia menyadari bahwa menjadi guru menuntut kompetensi yang lebih baik. Karena itu, sambil mengajar ia melanjutkan pendidikan ke STAIN Kudus.
Di tengah perjuangan menyelesaikan kuliah, Mualimin membangun keluarga bersama Anis Lutfiana, perempuan yang setia mendampinginya melewati berbagai fase kehidupan.
Dari pernikahan tersebut lahirlah empat putri, yaitu Zulfa Lailatus Sofa, Amelia Khusna, Najiha Afifah, dan Atika Asla Ramadhani. Kehadiran keluarga menjadi sumber kekuatan yang membuatnya terus bertahan menghadapi berbagai tantangan hidup.
BACA JUGA: BAZNAS Jepara Bantu Renovasi Rumah Lansia di Kedungleper Senilai Rp20 Juta
Perjuangan akademiknya membuahkan hasil ketika ia berhasil meraih gelar sarjana dari STAIN Kudus pada tahun 2005. Baginya, pendidikan bukan sekadar memperoleh ijazah, tetapi merupakan sarana untuk meningkatkan kualitas diri demi memberikan pelayanan terbaik kepada peserta didik.
Semangat belajar itu tidak berhenti. Dengan tekad yang sama, Mualimin melanjutkan pendidikan Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara.
Pada tahun 2016 ia berhasil menyelesaikan studi dan meraih gelar Magister Pendidikan. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi tidak pernah menjadi penghalang bagi seseorang yang memiliki kemauan kuat untuk terus berkembang.
Kemampuan memimpin telah terlihat sejak masa sekolah ketika dipercaya menjadi pengurus OSIS pada tahun 1991. Pengalaman itu menjadi bekal berharga dalam perjalanan kariernya.
Berbagai amanah kemudian dipercayakan kepadanya, di antaranya sebagai Kepala MTs Hasyim Asy’ari Bangsri sejak 2011, Ketua KKMTs 02 Jepara sejak 2015, Ketua LP Ma’arif MWC NU Kecamatan Bangsri periode 2018–2022, Sekretaris LP Ma’arif NU Kabupaten Jepara periode 2020–2022, dan kini menjadi Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Jepara
Keberhasilan yang diraihnya bukanlah hasil keberuntungan semata. Ada strategi hidup yang selalu dipegang teguh, yaitu bekerja dengan sungguh-sungguh, terus belajar, menjaga keikhlasan, serta tidak pernah malu memulai dari bawah.
BACA JUGA: Kuatkan Sinergi Bangun Generasi Qur’ani, LMY Kecamatan Jepara Gelar Rihlah dan Multaqo
Menurutnya, setiap pekerjaan memiliki nilai kemuliaan selama dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Ia juga percaya bahwa membangun hubungan baik dengan sesama, menjaga integritas, dan terus meningkatkan kompetensi merupakan kunci keberhasilan seorang pemimpin pendidikan.
Tentu saja perjalanan tersebut tidak selalu mulus. Latar belakang keluarga sederhana, keterbatasan ekonomi, tuntutan membagi waktu antara bekerja, kuliah, dan mengurus keluarga menjadi tantangan yang harus dihadapinya. Namun, hambatan itu justru menjadi energi yang menguatkan tekadnya.
Ia memilih untuk tidak mengeluh, melainkan menjadikan setiap kesulitan sebagai proses pembelajaran yang menempa karakter dan kedewasaan.
Bagi Mualimin, kesuksesan bukanlah tentang jabatan ataupun penghargaan, melainkan sejauh mana seseorang mampu memberikan manfaat bagi orang lain.
Filosofi hidupnya sederhana: ikhlas dalam bekerja, rendah hati dalam bersikap, dan terus mengalir memberikan manfaat sebagaimana air yang selalu menghidupi kehidupan.
Perjalanan hidup Mualimin membuktikan bahwa keberhasilan tidak ditentukan oleh dari mana seseorang memulai, melainkan oleh bagaimana ia menjalani setiap proses dengan kesungguhan.
Dari seorang office boy hingga menjadi kepala madrasah dan pemimpin organisasi pendidikan, ia menunjukkan bahwa kerja keras, ketekunan, dan keikhlasan mampu mengubah keterbatasan menjadi keberhasilan.
“Jangan pernah malu memulai dari bawah dan jangan pernah lelah berbuat baik. Sebab, kemuliaan seseorang bukan ditentukan oleh pekerjaannya, melainkan oleh keikhlasan hati dalam menjalankan setiap amanah.” Kalimat itu seolah merangkum seluruh perjalanan hidup Mualimin—sebuah kisah yang mengajarkan bahwa kesuksesan sejati lahir dari pengabdian yang tulus dan hati yang selalu bersyukur.
Penulis : Eky Putri Febriyani (Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam Unisnu Jepara)