KH. Mawardi: Keteladanan Iman, Ketegasan Prinsip, dan Pengabdian Ulama Pesisir

KH. Mawardi

DEMAK | GISTARA. COM -Simbah KH. Mawardi, pria asal Desa Babalan, Wedung, Demak, dikenal memiliki perawakan sedang dan tegap. Penampilannya yang oval dengan kulit sawo matang dan sedikit janggut yang menghias wajahnya, memancarkan kewibawaan yang sejalan dengan karakter pribadinya yang tegas, berani, serta disiplin dalam menegakkan ajaran agama.

Untuk mengurai biografi KH. Mawardi, Penulis berkesempatan mewawancarai salah satu cucu KH. Mawardi yaitu Istisaroh pada (13/7/26), dan ditambah dengan studi pustaka biografi KH. Mawardi yang ditulis oleh keluarga.

“Sikap tanpa kompromi dalam kebenaran tercermin ketika beliau tidak segan-segan langsung menegur siapa pun yang melakukan kesalahan tanpa memandang status sosial pelaku,” jelas Istisaroh

Sebagai sosok ulama yang gigih, KH. Mawardi menjalani kesehariannya dengan ketekunan ibadah dan kemandirian ekonomi. Di sela-sela kesibukannya membimbing umat dan mengajar kitab kuning, beliau mengelola beberapa bidang tanah tambak di Babalan sebagai mata pencaharian utama untuk menopang keluarganya.

BACA JUGA: Situs Langgar Bubrah Diduga Peninggalan Era Ratu Kalinyamat, Bupati Jepara Siap Dukung Pelestarian Cagar Budaya

Selain itu, hobi memelihara kambing, mendengarkan kisah wayang melalui radio, serta kegemaran menggambar salah satunya lukisan Ka’bah legendaris yang beliau bawa sepulang dari Makkah, menjadi sarana rekreasi batin yang mengajarkan kesabaran, keindahan, sekaligus ketelatenan nyata bagi santri dan masyarakat di sekitarnya.

Lahir sekitar tahun 1890 M, KH. Mawardi merupakan putra bungsu dari empat bersaudara pasangan Simbah K. Syarifuddin dan Nyai Mirah, sebuah keluarga santri yang menanamkan fondasi akhlak, kemandirian, serta kecintaan mendalam pada ilmu agama sejak usia dini.

Guna memperdalam keilmuan Islam, beliau menempuh riwayat pendidikan yang panjang: mulai dari gemblengan langsung ayahnya, lalu nyantri selama tiga tahun di Lasem, dilanjutkan dua tahun di bawah asuhan Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura, hingga akhirnya bermukim di Makkah selama tiga tahun untuk menimba ilmu kepada para ulama besar Haramain, termasuk di antaranya Syekh Mahfudl Attermasi.

Dalam kehidupan keluarga, KH. Mawardi menikah dengan Nyai Yatminah asal Desa Tedunan Kidul, Wedung, Demak, dan dikaruniai tujuh orang anak: Muhaimin, Abdullah Jauhari, Abdah, Hidayah, Abu Azhari, Musyafa’, dan Abdul Wahab.

BACA JUGA: Catat Tren Positif, Berikut Capaian BAZNAS Jepara Semester Pertama 2026

KH. Mawardi juga sempat menikah dengan Nyai Munasih dari Babalan dan dikaruniai seorang putri bernama Siti Zulaihah, sebelum akhirnya berpisah secara baik-baik.

Sebagai kepala keluarga di daerah pesisir, ia menjalani hidup dengan penuh rasa syukur dan sifat *qona’ah*, menerima apa adanya rizki dari Allah seraya terus berjuang membimbing anak-anak dan keturunannya agar tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia.

Perjalanan dakwah dan pengabdian KH. Mawardi tidaklah selalu mudah, melainkan diwarnai oleh berbagai dinamika perjuangan fisik dan spiritual.

Salah satu peninggalan bersejarah beliau yang paling membekas adalah prakarsa berdirinya Masjid Babalan pada tahun 1928 M, yang dibangun memanfaatkan kayu jati kuno peninggalan Sunan Kalijaga yang terpendam di Kedung Mutih.

Dengan keteguhan hati, keikhlasan, serta ikhtiar batinnya, beliau membimbing masyarakat mengubah sebuah musholla sederhana menjadi pusat peradaban umat berupa masjid desa yang tegak berdiri dan makmur hingga hari ini.

BACA JUGA: Multaqo LMY Kecamatan Jepara 2026 Ditutup, Tebar Kepedulian kepada Anak Yatim dan Guru TPQ

Untuk menjaga keselamatan warga pesisir dari ancaman lahir dan batin, KH. Mawardi kerap diundang oleh masyarakat untuk menentukan arah kiblat masjid baru menggunakan kacamata hitam khasnya pasca-operasi mata tahun 1970, meruwat desa dari pagebluk, serta memagari rumah penduduk dengan amalan aurod pelindung.

Kemampuannya yang luar biasa dalam membagi harta waris secara cepat, presisi, dan akurat tanpa menggunakan alat tulis maupun kalkulator membuatnya dijuluki oleh masyarakat sebagai kalkulator berjalan sebuah bukti penguasaan mendalam atas ilmu Faroidl dan Falaq yang diakui secara luas.

Keberhasilan dan wibawa spiritual yang diraih KH. Mawardi tidak datang secara instan, melainkan ditempa melalui konsistensi ibadah yang luar biasa, seperti tak pernah meninggalkan salat dhuha dan selalu menjaga keadaan suci (daimal wudhu).

Keteladanan KH. Mawardi terus hidup memancarkan kebaikan. Ia senantiasa mengajarkan umat untuk menjaga kesucian lahir batin, mendisiplinkan ibadah terutama salat jamaah, serta menghadapi setiap ujian kehidupan dengan ketenangan iman yang kokoh.(KA)

Penulis: Abi Khamid Muhammad, mahasiswa KPI Unisnu Jepara

Related posts

DR. H. Saiful Mujab Dorong Penghulu Jadi Penulis dan Pendokumentasi  Nikah

GJL Kota Semarang dan FSPMI Jateng Dukung Presiden Prabowo Berantas Korupsi Tanpa Tebang Pilih

Jamal Luthfi Resmi Dilantik sebagai Ketua IKA PMII Komisariat UIN Walisongo Semarang