JEPARA | GISTARA. COM – Suasana pagi yang sejuk tidak menyurutkan semangat jamaah Shalat Subuh Masjid Jami’ Raudlatul Falah Sekuro untuk mengikuti Kajian Ahad Pagi Rutin yang diselenggarakan setiap Ahad Wage pada Ahad (26/7/2026).
Pada kesempatan tersebut, Ketua LAZISNU PCNU Jepara, KH. M. Nur Jalal Mujtaba, menyampaikan tausiyah yang mengajak jamaah memaknai datangnya bulan Safar sebagai momentum memperbanyak amal saleh, memperkuat tawakal, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Mengawali kajiannya, KH. Nur Jalal menjelaskan bahwa secara etimologis kata Safar berarti “kosong”, sebagaimana dijelaskan Imam Murtadha az-Zabidi dalam kitab Tāj al-‘Arūs min Jawāhir al-Qāmūs.
BACA JUGA: Kaji Risalah Aswaja KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Beberkan Nilai Dasar Ahlussunnah wal Jama’ah
Berangkat dari makna tersebut, ia mengajak jamaah mengambil hikmah bahwa kehidupan seorang Muslim tidak boleh kosong dari amal kebajikan.
“Kalau Safar dimaknai kosong, maka jangan sampai hidup kita kosong dari kebaikan. Justru bulan ini menjadi kesempatan untuk memenuhi hari-hari kita dengan ibadah dan amal saleh,” tuturnya.
Salah satu amalan yang ditekankan dalam kajian itu ialah membiasakan membaca Al-Qur’an di rumah. Menurutnya, rumah yang paling merugi adalah rumah yang sepi dari lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an.
“Jangan sampai rumah kita kosong dari bacaan Al-Qur’an. Walaupun hanya satu huruf atau dua ayat setiap hari, biasakan membacanya,” pesannya.
BACA JUGA: Situs Langgar Bubrah Diduga Peninggalan Era Ratu Kalinyamat, Bupati Jepara Siap Dukung Pelestarian Cagar Budaya
Ia menambahkan, kebiasaan membaca Al-Qur’an akan menghadirkan keberkahan bagi keluarga. Hal itu sejalan dengan sabda Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa setiap huruf Al-Qur’an yang dibaca bernilai sepuluh kebaikan. Karena itu, setiap bacaan Al-Qur’an menjadi investasi pahala yang terus mengantarkan seorang hamba menuju keridaan Allah SWT.
Ia juga menyampaikan tradisi Rebo Wekasan yang masih dikenal di sebagian masyarakat Jawa, KH. Nur Jalal mengajak jamaah memahaminya secara proporsional.
Menurutnya, tradisi tersebut tidak boleh dimaknai sebagai keyakinan bahwa hari tertentu membawa bala atau musibah. Sebaliknya, Rebo Wekasan hendaknya dijadikan pengingat untuk memperkuat tawakal kepada Allah SWT sekaligus meningkatkan kualitas ibadah.
“Rebo Wekasan hendaknya menjadi momentum muhasabah. Yang perlu kita tingkatkan adalah tawakal kepada Allah, memperbanyak salat, sedekah, membaca Al-Qur’an, zikir, dan berbagai amal kebajikan lainnya,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, KH. Nur Jalal juga mengulas konsep takdir dalam ajaran Islam. Ia menjelaskan bahwa Allah SWT telah menetapkan perjalanan hidup manusia sejak masih berada dalam kandungan, sebagaimana disebutkan dalam hadis tentang pencatatan umur, rezeki, amal, dan ajal manusia oleh malaikat.
Menurutnya, para ulama membagi takdir menjadi dua. Pertama, takdir mubram, yaitu ketetapan Allah SWT yang bersifat pasti dan tidak dapat diubah. Kedua, takdir mu’allaq, yakni ketentuan Allah SWT yang dikaitkan dengan ikhtiar manusia, seperti doa, sedekah, dan silaturahmi yang menjadi sebab turunnya keberkahan.
“Karena itu, jangan pernah lelah bersedekah dan menyambung silaturahmi. Ikhtiar itu adalah bagian dari ibadah yang diperintahkan Allah SWT. Selebihnya kita bertawakal kepada-Nya,” ungkapnya.
Menutup tausiyahnya, KH. Nur Jalal mengajak seluruh jamaah menjadikan bulan Safar sebagai ruang untuk berbenah diri. Baginya, makna “kosong” pada bulan Safar bukanlah kosong dari aktivitas, melainkan mengosongkan hati dari keburukan, kemudian mengisinya dengan ibadah, amal saleh, sedekah, membaca Al-Qur’an, serta kepedulian kepada sesama.
“Jangan pernah bosan berbuat baik. Isi hidup ini dengan amal saleh, karena sebaik-baik bekal menuju akhirat adalah kebaikan yang kita lakukan selama hidup di dunia,” pungkasnya. (KA)