JEPARA | GISTARA. COM — Komisi Pendidikan Pesantren dan Kaderisasi Ulama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah melakukan kunjungan ke Karimunjawa untuk memantau perkembangan pendidikan pesantren, sekaligus melihat secara langsung dinamika kehidupan keagamaan masyarakat di wilayah kepulauan tersebut. Dr. KH. M. Shohibul Itmam, M.H, sebagai anggota komisi tersebut menyambangi sejumlah tokoh di Karimunjawa.
Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya MUI Jawa Tengah dalam memperkuat perhatian terhadap perkembangan lembaga pendidikan keagamaan, khususnya pesantren yang berada di wilayah kepulauan dan memiliki karakteristik sosial, geografis, serta tantangan pendidikan yang berbeda dengan wilayah perkotaan.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan Komisi Pendidikan Pesantren dan Kaderisasi Ulama MUI Jawa Tengah berdialog dengan sejumlah tokoh agama, pengasuh pesantren, pengelola lembaga pendidikan Islam, serta masyarakat setempat. Dialog tersebut membahas berbagai persoalan dan potensi pengembangan pesantren di Karimunjawa.
BACA JUGA: Kafilah Jepara Resmi Dilepas ke MTQ Nasional, Pemkab Siapkan Reward bagi Peraih Juara
Diantara perhatian utama dalam kunjungan tersebut adalah keberadaan pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat pembelajaran ilmu-ilmu keagamaan, tetapi juga memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, moral, dan kehidupan sosial masyarakat.
Dr. H. M. Shohibul Itmam sebagai anggota Komisi Pendidikan Pesantren dan Kaderisasi Ulama MUI Jawa Tengah sekaligus akademisi dari UIN Sunan Kudus memandang bahwa “pesantren di wilayah kepulauan perlu mendapatkan perhatian yang proporsional. Kondisi geografis Karimunjawa yang merupakan wilayah kepulauan menghadirkan tantangan tersendiri, mulai dari akses pendidikan, ketersediaan sumber daya manusia, pengembangan sarana prasarana, hingga keberlanjutan kaderisasi ulama” ujarnya saat berdialog dengan KH. Khulafaurrasyidin yang juga menjadi ketua MWCNU Karimunjawa (9/9/26).
Karena itu, monitoring lapangan diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi pesantren di Karimunjawa. Kunjungan juga melihat pembangunan pesantren yang mangkrak karena diduga ada pesantren yang akan dibangun berseberangan ideologi masyarakat Karimunjawa.
Kunjungan juga sempat bertemu juru kunci makam sunan Nyamplungan (Syeikh Amir Hasan) sebagai makam yang banyak peziarahnya. Hasil kunjungan tersebut selanjutnya dapat menjadi bahan evaluasi dan rekomendasi bagi penguatan pendidikan pesantren serta kaderisasi ulama di Jawa Tengah.
Selain melakukan monitoring, kunjungan tersebut juga menjadi momentum untuk membangun komunikasi dan jejaring antara MUI Jawa Tengah dengan para pengasuh pesantren dan tokoh agama di Karimunjawa. “Sinergi tersebut dinilai penting untuk memastikan bahwa perkembangan pendidikan Islam di wilayah kepulauan tetap berjalan secara berkelanjutan” ujar Dr. Itmam kepada KH. Asmui salah satu perancang pesantren di Karimunjawa.
BACA JUGA: Duet KH Miftachul Akhyar–Gus Kikin, Nahkoda Baru PBNU 2026–2031
Keberadaan pesantren di Karimunjawa juga memiliki posisi penting dalam menjaga tradisi keagamaan dan membangun ketahanan moral masyarakat. Pesantren diharapkan mampu terus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan karakter dan nilai-nilai keislaman yang menjadi identitas utamanya.
Melalui kunjungan ini, Komisi Pendidikan Pesantren dan Kaderisasi Ulama MUI Jawa Tengah menegaskan pentingnya menjadikan pesantren sebagai salah satu prioritas dalam pengembangan pendidikan keagamaan. Perhatian tersebut tidak hanya diarahkan kepada pesantren yang berada di pusat-pusat perkotaan yang dekat pelabuhan, tetapi juga lembaga pendidikan Islam yang tumbuh dan berkembang di wilayah kepulauan seperti Karimunjawa.
Kunjungan ke Karimunjawa sekaligus menjadi pesan bahwa pembangunan pendidikan keagamaan harus dilakukan secara inklusif dan merata. “Pesantren di daerah kepulauan memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pendidikan, dakwah, pembinaan masyarakat, dan kaderisasi ulama apabila mendapatkan dukungan serta pendampingan yang memadai” tegas Bpk. Aulinniam kepala KUA Karimunjawa.
Dengan monitoring secara langsung, MUI Jawa Tengah berharap dapat terus memperkuat sinergi dengan pesantren dan para tokoh agama di berbagai daerah. Langkah tersebut diharapkan mampu mendorong lahirnya generasi santri yang memiliki kedalaman ilmu keagamaan, berkarakter, serta mampu berkontribusi bagi kemajuan masyarakat dan bangsa. (KA/SI)