JEPARA | GISTARA. COM – Suasana pagi di SDN 3 Ujung Batu Jepara tetap semarak meski gedung sekolah tengah direnovasi. Di tengah aktivitas pembenahan fisik tersebut, para guru antusias mengikuti kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan Tim Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara, Jum’at (2/10/26).
Tim Pengabdian Unisnu Jepara Noor Azizah sebagai Ketua, Doktor Mahalli, dan Khoirul Muslimin sebagai anggota dan narasumber. Materi yang disampaikan berfokus pada “Strategi dan Implementasi Literasi Sekolah melalui Adaptive Design for Learning (ADe)”.
Dalam pemaparannya, Khoirul Muslimin menegaskan bahwa literasi tidak sebatas kemampuan membaca dan menulis. Literasi mencakup kemampuan memahami, mengolah, mengevaluasi, serta menggunakan informasi secara tepat dalam kehidupan sehari-hari.
BACA JUGA: Pemkab Jepara Canangkan Desa Digital, Dorong Pemerintahan Desa Efektif, Transparan dan Akuntabel
“Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi harus membantu siswa memahami informasi, berpikir kritis, memecahkan masalah, berkomunikasi, serta menggunakan pengetahuan dalam kehidupan nyata,” ujar Khoirul.
Ia menjelaskan, tujuan literasi sekolah dasar bertumpu pada empat pilar utama, yaitu kognitif, karakter, pola pikir, dan kesiapan menghadapi masa depan. Melalui literasi, siswa diharapkan mampu meningkatkan pemahaman terhadap teks, membangun disiplin dan tanggung jawab, mengembangkan nalar kritis dan kreativitas, serta meningkatkan kecakapan komunikasi dan digital.
Menurut Khoirul, budaya literasi juga berkaitan erat dengan pembentukan perilaku siswa. Ia mengaitkannya dengan konsep Profesor Bimo Walgito mengenai habit, insight, dan role model. Kebiasaan baik perlu dibangun secara konsisten, pemahaman dikembangkan melalui proses belajar, sedangkan guru dan orang tua menjadi teladan bagi siswa.
BACA JUGA: Jepara Bersholawat, Ikhtiar Batiniah Pemkab untuk Pembangunan Daerah
“Literasi tidak cukup hanya dengan mengajarkan anak membaca dan menulis. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan baik, memberikan pemahaman, serta menghadirkan guru dan orang tua sebagai teladan,” jelasnya.
Agar budaya literasi dapat tumbuh secara berkelanjutan, pelaksanaannya perlu berpegang pada tujuh prinsip, yaitu berkelanjutan, berorientasi pada pemahaman, partisipatif, terintegrasi, menyenangkan, kontekstual, dan inklusif. Prinsip tersebut menempatkan literasi bukan sekadar kegiatan membaca, melainkan bagian dari proses pembelajaran dan kehidupan sekolah.
“Literasi harus menjadi budaya yang dilakukan secara terus-menerus, menyenangkan, dan dekat dengan kehidupan siswa. Dengan demikian, anak tidak hanya mampu memahami informasi, tetapi juga mampu mengolahnya, berpikir kritis, berkomunikasi, dan memecahkan masalah,” tambah Khoirul.

Khoirul Muslimin bersama Guru SDN 3 Ujung Batu Jepara
Salah satu strategi yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah pendekatan Adaptive Design for Learning (ADe). Pendekatan ini menekankan penyesuaian strategi pembelajaran berdasarkan kebutuhan dan kemampuan siswa.
Siswa yang belum lancar membaca, misalnya, dapat memperoleh pendampingan melalui kegiatan membaca nyaring dan pengenalan bunyi serta huruf. Sementara itu, siswa yang mengalami kesulitan memahami bacaan dapat dibimbing melalui kegiatan membaca terpandu dan tanya jawab. Bagi siswa yang membutuhkan penguatan nalar, guru dapat menggunakan proyek, numerasi, dan kegiatan pemecahan masalah. Adapun siswa yang masih membutuhkan penguatan kecakapan teknologi dapat dibimbing untuk mencari dan mengevaluasi informasi digital.
“Setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda. Karena itu, strategi literasi juga perlu disesuaikan dengan profil dan kemampuan siswa,” tutur Khoirul.
BACA JUGA: Pemkab Jepara Ajak Warga Kenali Rokok Ilegal, Ada Risiko Hukum Pidana bagi Pembuat dan Pengedar
Untuk membangun kebiasaan literasi, guru juga diperkenalkan pada rutinitas literasi 15 menit. Kegiatan dapat dimulai dengan memilih bacaan, membaca, memahami gagasan utama melalui tanya jawab, kemudian berbagi dan melakukan refleksi. Strategi pendukung lainnya antara lain jurnal membaca, pojok baca, permainan numerasi, dan kegiatan menulis kreatif.
Literasi juga dapat dikembangkan melalui proyek terpadu bertema “Kebersihan Sekolah”. Dalam kegiatan tersebut, siswa membaca teks tentang kebersihan, mengamati lingkungan sekolah, menghitung dan mengklasifikasikan sampah, kemudian membuat poster ajakan menjaga kebersihan.
“Proyek sederhana seperti kebersihan sekolah dapat menjadi media pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai dimensi literasi. Anak membaca, mengamati, menghitung, mengolah informasi, kemudian menyampaikan pesan melalui poster,” jelasnya.
BACA JUGA: Dukung Aktivitas Ekonomi Lokal dan Akses Kawasan Wisata, Jalan Bulak Baru akan Dimuluskan
Menurut Khoirul, penguatan literasi membutuhkan ekosistem kolaborasi yang melibatkan siswa, keluarga, guru, kepala sekolah, dan masyarakat. Keluarga berperan membangun kebiasaan literasi di rumah, guru menjadi teladan sekaligus fasilitator, kepala sekolah memberikan dukungan kebijakan dan fasilitas, sedangkan masyarakat dapat menyediakan sumber belajar melalui perpustakaan maupun komunitas.
Keberhasilan literasi, lanjutnya, dapat dilihat melalui empat indikator, yaitu kelancaran, pemahaman, ekspresi, dan penerapan. Dengan indikator tersebut, kemampuan literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca, tetapi berlanjut pada pemahaman isi bacaan, keberanian menyampaikan gagasan, dan kemampuan menerapkan pengetahuan untuk menghadapi persoalan sehari-hari.
“Ukuran keberhasilan literasi bukan hanya anak selesai membaca buku. Yang lebih penting adalah apakah anak memahami apa yang dibaca, mampu menyampaikan gagasannya, dan dapat menggunakan pengetahuan tersebut dalam kehidupan,” pungkas Khoirul.
BACA JUGA: Ulil Albab Apresiasi Jepara Bersholawat, Dorong Nilai Sholawat Jadi Energi Sosial
Sementara itu, Noor Azizah menjelaskan bahwa Salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut adalah pengenalan Adaptive Design for Learning (ADe). Pendekatan ini menekankan pentingnya menyesuaikan strategi intervensi literasi dengan profil dan kebutuhan setiap siswa.
Siswa yang belum lancar membaca, misalnya, membutuhkan pendekatan berupa membaca nyaring, pengenalan bunyi dan huruf, serta pendampingan secara langsung.
Berbeda dengan siswa yang sudah lancar membaca tetapi masih mengalami kesulitan memahami isi bacaan. Mereka dapat diberikan pendampingan melalui membaca terpandu, sesi tanya jawab, dan kegiatan menceritakan kembali isi bacaan.
Siswa yang membutuhkan penguatan nalar dan logika dapat diarahkan pada kegiatan literasi berbasis proyek, numerasi, dan pemecahan masalah.
BACA JUGA: 21 Dapur MBG di Jepara Disidak Serentak Dini Hari, Dari Bahan Baku hingga IPAL Diperiksa
Adapun siswa yang masih kurang cakap menggunakan teknologi dapat diberikan kegiatan pencarian informasi digital secara terbimbing sekaligus dilatih mengevaluasi sumber informasi yang valid.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa strategi literasi tidak harus diberikan dengan cara yang sama kepada seluruh siswa.
“Setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda. Karena itu, strategi literasi juga perlu disesuaikan dengan profil dan kemampuan siswa,” pungkas Noor Azizah. (KA)