JEPARA | GISTARA. COM – Membaca kondisi ekonomi tak cukup hanya berpatokan pada satu angka. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inflasi yang terkendali, hingga angka pengangguran yang menurun perlu dilihat secara menyeluruh agar tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru.
Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Literasi Statistik bertajuk “Membedah Angka di Balik Pengukuran Stabilitas Ekonomi” di Ruang Rapat Mal Pelayanan Publik (MPP) Jepara, Rabu (14/10/2026).
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jepara, Isnaini, S.ST., M.M., menegaskan pentingnya memahami konteks di balik data sebelum menggunakannya sebagai dasar pengambilan keputusan.
BACA JUGA: Jelang Pencoblosan, 61 Calon Petinggi di Jepara Komitmen Jaga Pilpet Damai
Menurutnya, setiap angka statistik memiliki definisi, pembanding, dan konteks yang harus dipahami. Tanpa pemahaman tersebut, data berpotensi ditafsirkan secara keliru dan menghasilkan gambaran yang tidak utuh mengenai kondisi perekonomian.
Ia menjelaskan, stabilitas ekonomi setidaknya dapat diukur melalui lima indikator utama, yakni pertumbuhan ekonomi, inflasi, pengangguran, sektor eksternal melalui neraca pembayaran, serta nilai tukar dan cadangan devisa. Kelima indikator tersebut saling berkaitan sehingga perlu dibaca secara bersamaan.
Dalam mengukur pertumbuhan ekonomi, misalnya, penggunaan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan menjadi penting. Indikator ini membantu melihat perubahan aktivitas produksi secara riil tanpa terpengaruh kenaikan harga.
BACA JUGA: Bupati Jepara Prioritaskan Perbaikan Jalan dan Akses Wisata Kemujan
Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tidak sekadar menunjukkan kenaikan nilai, tetapi juga menggambarkan perubahan volume produksi barang dan jasa.
Hal serupa berlaku dalam membaca inflasi dan tingkat pengangguran. Kenaikan harga perlu ditelusuri berdasarkan komoditas dan faktor penyebabnya. Sementara itu, penurunan angka pengangguran belum tentu sepenuhnya mencerminkan peningkatan kesejahteraan jika pekerjaan yang tersedia masih didominasi sektor informal atau berpenghasilan rendah.
Di sisi lain, kondisi perekonomian domestik juga tidak terlepas dari dinamika global. Perdagangan internasional, aliran modal, dan pergerakan nilai tukar turut memengaruhi aktivitas usaha serta daya beli masyarakat.
BACA JUGA: Ulil Albab Apresiasi Jepara Bersholawat, Dorong Nilai Sholawat Jadi Energi Sosial
Melalui kegiatan ini, peserta diajak lebih kritis dalam membaca data statistik. Ada empat hal mendasar yang perlu diperhatikan, yakni pembanding yang digunakan, perbedaan angka nominal dan riil, kondisi yang mungkin tidak terlihat dalam angka rata-rata, serta sumber data yang digunakan.
Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Jepara, Wahyanto, hadir mewakili Kepala Diskominfo Budhi Sulistyawan.
Penguatan literasi statistik diharapkan mendorong pemanfaatan data yang akurat dan terverifikasi, baik dalam penyusunan kebijakan pemerintah maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan pemahaman statistik yang lebih baik, data tidak sekadar menjadi deretan angka. Lebih dari itu, data dapat menjadi pijakan untuk memahami persoalan secara objektif dan menentukan langkah yang lebih tepat. (KA)