Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
GISTARA TV
Friday, September 11, 2026
Top News
Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah
Cuaca Terik, Penjual Es Teh di Jepara Berhamburan
Mengenal Nyai Hindun Anisah, Caleg DPR RI Dapil Demak, Kudus, dan...
Kolam Renang Cinta Candi Liyangan Temanggung Jawa Tengah Terbaru 2022
Fenomena Bodoh Deklarasi Kasyaf Lewat Foto
Ribuan Orang Hadiri Haul Mbah Sahil ke 18, Ini Biografinya
Peringati Hari Ibu, MIDEHA Festival Gelar Lomba Kolaborasi dengan Ibu
Sejarah Pantai Nampu Wonogiri Jawa Tengah Terbaru 2022
Tak Perlu ke Eropa, Main Salju Bisa di Dusun Semilir Bawen
Rancangan Dapil Pemilu 2024 di Jepara Tidak Berubah
Gistara
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Copyright 2021 - All Right Reserved
Opini

Hajinya Orang Jepara di Masa Kolonial

by Kunjari Ali 31/05/2024
Kunjari Ali 31/05/2024 1.2K views
M. Dalhar Pegiat Sosial dan Sejarah Jepara
1.2K

M. Dalhar

Berhaji menjadi hal yang tidak biasa bagi seorang muslim. Haji bukan hanya perjalanan jauh yang melelahkan, tetapi juga ada nilai ibadah yang ditunaikan. Nilai inilah yang menjadikan sebesar apapun kerepotan akan dilampaui untuk memperoleh haji yang mabrur.

Tahun ini jamaah dari Kabupaten Jepara sejumlah 1.414 jamaah siap berangkat ke Tanah Suci. Berangkat mulai akhir Mei sampai awal Juni 2024 mendatang. Sampai puluhan tahun mendatang kuota haji sudah tersisi.

Membicarakan perjalanan haji di Jepara dapat dimulai dari masa kolonial Belanda. Data statistik pemerintah kolonial menunjukkan bahwa keberangkatan haji orang-orang Jepara dimulai sejak 1852 sebelum pembukaan Terusan Suez.

Apakah sebelumnya tidak ada? Besar kemungkinan ada. Mengingat, ibadah haji pada mulanya dilakukan secara personal atau kelompok kecil yang ada dan tidak terkoordinir. Lalu lintas perairan Nusantara sejak masa kerajaan sudah ramai dan menghubungkan pelabuhan-pelabuhan internasional.

BACA JUGA: 2 Jemaah Haji Jepara Gagal Berangkat ke Tanah Suci, Begini Alasannya

Awalnya pemerintah tidak peduli dengan persoalan haji. Pemerintah menyadari bahwa ketidakpeduliannya terhadap perjalanan haji orang-orang Islam di Nusantara secara tidak langsung menumbuhkan fanatisme yang dapat mengancam eksistensi pemerintah kolonial. Yang pertama diterbitkanlah Resolusi 1825 yang mengatur kuota, biaya, dan pengawasan gerak-gerik jamaah.

Pembukaan Terusan Suez tahun 1869 serta penggunaan kapal uap mempercepat perjalanan dari Nusantara ke Makkah-Madinah (Haramain). Dengan pembukaan jalur ini, perjalanan haji tidak sampai berbulan-bulan di laut.

Sampai akhir tahun 1888, jumlah masyarakat Jepara yang telah menunaikan ibadah haji sebanyak 2.150 orang. Jumlah tersebut masih terus meningkat sampai tahun 1920-an. Peningkatan ini dipengaruhi beberapa faktor utama.

Pertama, pemahaman agama yang cukup menggerakkan masyarakat pada waktu itu memiliki niat untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.

BACA JUGA: Perang Obor Tegalsambi, Tradisi Ratusan Tahun yang Tetap Lestari

Kedua, kemampuan. Ini tidak lepas dari doktrin agama, untuk menyempurnakan rukun Islam. Ada masyarakat Jepara pada waktu itu yang menjual beberapa aset seperti sawah atau hewan peliharaan (rojo koyo) untuk membiayai perjalanan haji.

Ketiga, tidak dapat dinafikan bahwa dalam situasi penjajahan menjadikan motif untuk menunaikan ibadah haji. Dalam perkembangannya haji tidak hanya dilakukan oleh laki-laki, tetapi juga perempuan.

Keempat, semakin baik dan amannya perjalanan haji. Terbitnya Ordonansi Haji tahun 1922 yang mengatur angkutan haji, keamanan, kesehatan, fasilitas selama perjalanan menjadikan minat untuk berhaji meningkat.

Pemberangkatan jamaah Jepara dilakukan melalui Pelabuhan Semarang. Acara selamatan digelar untuk mendoakan calon haji agar diberikan keselamatan mulai dari pemberangkatan sampai kepulangan. Gelar “haji” inilah yang belakangan menimbulkan persoalan besar bagi pemerintah kolonial.

M. Dalhar, Pegiat Sejarah,  Tim Riset Lesbumi NU Jepara

HajiMasa kolonialOrang Jepara
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Kunjari Ali

previous post
Resmi Diperpanjang, ini PR 184 Petinggi di Jepara
next post
Dewan Pendidikan Jateng, Dukung Pembentukan Satgas Anti Kekerasan di Satuan Pendidikan

You may also like

Undang-Undang Pesantren Dan Orientasi Pendidikan Indonesia

05/09/2026

Ketua PBNU dan Imperatif “Tajalli” Melampaui Intelektualisme Menuju Kejernihan Hati

03/09/2026

Kembalinya Trah Tebuireng, Gus Kikin dan Perebutan Makna Identitas NU

01/09/2026

Muktamar NU ke-35, Asap yang Padam di Ruang Sidang

29/08/2026

Hari Keempat Muktamar NU ke-35: Kematangan Peserta Memilih AHWA

29/08/2026

Mengamankan Pemilih AHWA pada Muktamar NU ke-35 Jombang

21/08/2026

Terkini

  • Sediakan Akses Air Bersih, Pusterad dan Kodim Jepara Bersama Pemkab Jepara Survei Titik Sumur Bor 

    10/09/2026
  • Komisi Pendidikan Pesantren dan Kaderisasi Ulama MUI Jawa Tengah Monitor Perkembangan Pesantren Karimunjawa

    10/09/2026
  • Utamakan Kenyamanan Wisatawan, Pelabuhan Karimunjawa Bakal Diperbaiki

    10/09/2026
  • Jelang Pelaksanaan Persimanu 2, Panitia Gelar Rakor Lintas Sektor

    09/09/2026
  • Kafilah Jepara Resmi Dilepas ke MTQ Nasional,  Pemkab Siapkan Reward bagi Peraih Juara

    09/09/2026
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Sign In

Keep me signed in until I sign out

Forgot your password?

Do not have an account ? Register here

Password Recovery

A new password will be emailed to you.

Have received a new password? Login here

Register New Account

Have an account? Login here