Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
GISTARA TV
Sunday, September 27, 2026
Top News
Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah
Cuaca Terik, Penjual Es Teh di Jepara Berhamburan
Mengenal Nyai Hindun Anisah, Caleg DPR RI Dapil Demak, Kudus, dan...
Kolam Renang Cinta Candi Liyangan Temanggung Jawa Tengah Terbaru 2022
Fenomena Bodoh Deklarasi Kasyaf Lewat Foto
Ribuan Orang Hadiri Haul Mbah Sahil ke 18, Ini Biografinya
Sejarah Pantai Nampu Wonogiri Jawa Tengah Terbaru 2022
Peringati Hari Ibu, MIDEHA Festival Gelar Lomba Kolaborasi dengan Ibu
Tak Perlu ke Eropa, Main Salju Bisa di Dusun Semilir Bawen
Rancangan Dapil Pemilu 2024 di Jepara Tidak Berubah
Gistara
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Copyright 2021 - All Right Reserved
Kolom

Bus Kota

by Redaksi 01/06/2025
Redaksi 01/06/2025 484 views
484

Oleh: M. Ali Burhan

Matahari memanggang hamparan panjang aspal hitam, teriknya menembus ubun-ubun bus tengil jurusan Jepara-Semarang. Suara meraung deru mesin terhias kerit pintu dan jendela bus yang tak kukuh, membuktikan bahwa bus ini telah mati-matian melawan zaman. Bus renta dengan sopir lusuh dan kernet tengil merangkak pelan menyisir penumpang yang masih sepi. Sesekali Kernet bersiul keras memecah irama yang diiringi teriakan tidak jelas.

“Marang… Marang… Marang…”

Tidak ada yang risih dan kritis dengan dialek Kernet yang menyingkat Semarang menjadi marang. Malah Ibu-Ibu bakul sibuk berdzikir jamaah dari harga bumbu dapur sampai krupuk kerung. Hari ini, di Bus Jepara-Semarang, dari tempat duduk paling belakang, aku membaca Basmalah yang jauh tergantung di atas kepala sopir. Sementara dihadapanku, sekeranjang ayam dan bau tainya yang berbaur dengan solar dan kepulan keringat dekil penumpang yang terpanggang pengapnya bus tanpa AC. Semua menyungut berhambur di hidungku. Mesra dan padu, Harmoni Basmalah, wajah2 mutmainnah dari Ibu2 bakul, bau solar, keringat, deru mesin, derit pintu dan jendela Bus yang kendor, dan tai ayam.

BACA JUGA: PLN UIK Tanjung Jati B Beri Apresiasi untuk Guru Ngaji Menjelang Hari Kartini

Gusti… Sungguh aku telah dimanja zaman, terlarut dalam pikuk modernitas. Otakku telah terstandart tanpa sadar, standart jajan di warung-warung modern dengan menu fastfood, standart belanja segala kebutuhan di mini market, standart pakaian dengan merk ternama, bahkan standart belanja perabot dan lain-lain di online shop yang tidak harus capek menawar harga. Standart jam kerja yang terjadwal, piknik keluarga yang terjadwal. Sudah 7 tahun aku tidak naik bus kota Jepara-Semarang, bukan karena aku tidak pernah bepergian, tapi aku selalu pakai jasa travel atau bus besar kelas eksekutif. Aku duduk di kursi merah yang warnanya telah menjadi kehitaman karena tertumpuknya ratusan, bahkan ribuan kaki penumpang yang bercampur debu jalanan yang terbahan dari tanah, ludah kering, kotoran kuda, gas emisi mesin, dan seribu bahan lainnya yang bisa diterbangkan angin. Andai aku bawa mikropkop, akan aku lihat mereka, tumpukan jutaan molekul kotor yang bercampur menjadi satu.

“Ciiiiiitttttt…..”

Untung reflektifitasku masih normal, ku tahan tubuhku dengan tangan memegang sandaran kursi didepanku, aku hampir saja jatuh menimpa tumpukan ayam. Kernet berteriak memaki bakul sayur bersepeda motor dengan tombong yang ndeger-ndeger kepayahan menghindari bus, gemuruh penumpang serentak memaki juga bakul itu mengamini kemarahan Kernet, meski mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Para ayam yang tadi tenang setelah sebagian mereka BAB, ikut riuh bersuara dan bergerak. Kembali aroma tai mengepul lebih dahsyat dari sebelumnya. Aku nyengir.

Terik tak ada ampun, Menyengat siapapun dibawahnya. Siang yang biasa bagi Kernet dan Pak Sopir. Bus merangkak makin pelan menghampiri antrean puluhan Ibu-Ibu di trotoar. Melihat Kereta besi raksasa yang dinanti datang, mereka langsung berjubel berebut masuk Bus, apalagi beredar isu besar yang akan mengacaukan aktifitas Ibu-Ibu bakul jika mereka tidak mempercayainya. Isu yang dihembuskan kernet bahwa dibelakang tidak ada bus lagi memang sangat ampuh, para calon penumpang yang semula enggan masuk karena penuh, langsung lari terbirit-birit dan rela bergelayutan di pintu karena ketakutan kelamaan menunggu Bus berikutnya. Dari pasar Kalinyamatan. Tubuhku, ibu-ibu bakul yang sebagian lebih pantas kusebut nenek-nenek, dan jok kursi lusuh berhimpit sesak. Bus merangkak pelan menikmati pertemuan-pertemuan siang ini.

BACA JUGA: Satgas Binmas Polres Jepara Gencar Beri Penyuluhan Cegah Premanisme di Jepara

Doa puja-puji “shalawatan Gus Dur” yang dipotong sopir sebelum selesai dan diganti dengan “Tiket Swargo” yang dinyanyikan oleh biduan genit dari tape rekorder dengan over stelan bass melengking bersama irama koplo yang menghentak paksa. Suara deru mesin, celoteh Ibu-Ibu bakul, lagu lawang swargo, sesekali teriakan dan cuitan kernet mengendalikan lalulintas, dan bunyi klakson yang menghantam gendang telinga tiba-tiba adalah orkestra yang aku dengar dan saksikan siang ini. Aku berfikir, keindahan nuansa ini mestinya menjadi inspirasi Erwin Gutawa Orchestra di Jakarta sana untuk karya-karyanya sebagai potret keindahan yang berbeda dari dawai biola dan denting piano seharga ratusan juta.

Aku terfokus pada nyanyian;

“Tiket neroko regane larang, nanging seng seneng sepirang-pirang 2X, Tumindak doso pancene gampang. Tiket swargo regane murah, nangeng anehe akeh seng wegah 2X, Tumendak becik angel lakone”. (Tiket neraka harganya mahal, tapi banyak yang menyukai 2X. Berbuat dosa memang mudah. Tiket sorga harganya murah, tapi anehnya banyak yang menolak 2X. Berbuat baik melakukannya memang sulit). Meski tanpa visual, aku membayangkan biduan yang menyanyi itu melenggok dengan seksi. Asik.

“Tenang Mas, nanti di Pasar Welahan sebagian penumpang ini akan turun”.

Lamunanku terpecah oleh kata-kata Kernet yang dengan rikuh menenangkanku karena harus berdiri bergerlayut di pintu reot Bus. Mungkin ia tadi melihat aku di gusur paksa oleh rasa iba kepada nenek-nenek bakul yang saat ini telah pulas setelah sesaat duduk di kursiku. Atau mungkin karena sebab lain, aku tidak tahu. Nanti aku ceritakan sebab yang lain itu. Aku hanya mesem.

Ditengah Bus yang merangkak pelan itu, lamunanku terusik oleh seorang nenek yang menyodorkan Rp. 3.000,- setelah di colek kernet. Sang kernet ragu sesaat melihat kenyataan itu, tapi kemudian tangannya digulung. Aku lihat, Ibu-Ibu lain menyodorkan Rp. 5.000,-.

” Mandap pundi, Mbah?” (Turun mana, Mbah?) tanyaku setelah kernet kembali bergelayut di pintu.

“Welahan”. jawabnya, dan sebelum aku menghela nafas untuk sekedar menebar senyum, ibu-ibu di pinggirnya nyeletuk.

BACA JUGA: Wamen Kebudayaan Giring Kunjungi Jepara,  Dukung Seni Ukir Masuk Kurikulum Sekolah

“Kowe saake, to mas? Arep mbok wenehi nggon lungguh?”. (Kamu kasihan to mas? Mau kamu persilahkan duduk?). Aku tersenyum nyengir karena bukan itu maksud pertanyaanku. Aku hanya terusik ingin tahu lebih jauh kenapa kernet dekil itu ragu menerima sodoran uang dari sang Nenek?.

“Rp. 3.000,- dari Pasar Kalinyamatan sampai Welahan, dan kernet menerima dengan tenang, hmmmm…”. Gumamku.

Ku tatap mata nenek yang adem itu, lembut tanpa dosa dan disisi lain wajah kernet yang pasrah dengan rizkinya. Disinilah aku bertanya, sang kernet rikuh kepadaku itu karena kasihan kepadaku yang tergusur tempat duduk, atau karena aku bayar full VIP Rp. 25.000,- dan tidak kebagian tempat duduk sementara nenek-nenek dengan Rp. 3.000,- telah tenang melepas lelahnya, duduk dikursi belakang.

“Hmmmm….”

“Biasa, Mas. Si Mbah itu mengira hari ini Pak Harto masih jadi presiden, dengan uang Rp. 3.000,-, seolah ia sudah menjadi Ratu di Bus ini. Hehehehe…” Kernet bersandar di pintu Bus yang berjalan pelan, tersenyum padaku sambil memilah-milah dan menghitung uang kertas ribuan yang tebal ditangannya. Aku membalasnya dengan senyum.

Mobil berderit berhenti di Pasar Welahan dan benar kata Kernet, sebagian besar penumpang turun dengan tergesa-gesa. Kernet dengan sigap menerima dan meletakkan wakul ataupun anting, bahkan karung yang entah berisi apa, yang disodorkan Ibu-Ibu bakul dari dalam Bus secara marathon di Trotoar. Setengah berebut, para penumpang turun dari Bus. Seketika penumpang Bus tinggal sepertiganya saja, meski masih terasa panas, namun semilir angin dari luar jendela sangat menyejukkan. Kernet tersenyum melihatku sudah duduk di jok paling belakang yang sudah longgar.

Diam-diam aku memperhatikan wajah lusuh disampingku itu, matanya merah karena debu jalanan, kaos hijau bergambar partai yang melekat ditubuhnya tampak kusut dan pudar tidak terurus, seperti nasibnya. Kakinya dekil, hitam keras dan berdebu, bercelana pendek, beberapa ruas jarinya menyembul dari sepatunya yang kotor dan bolong dimakan waktu. Nampaknya ia sadar kuperhatikan, kepalanya mendongak kepadaku seraya berkata :

“Sudah beda dengan dulu, Mas. Sejak banyak sepeda motor dan travel, pekerjaan jadi sepi.” Katanya seolah menjawab pertanyaan yang tidak aku ajukan.

“Iya”. Aku mengangguk, kulempar senyum padanya agar ia nyaman bercerita.

“Pasrah ya, Mas. Yang penting bisa setoran, dan kelebihannya untuk makan dan sangu anak-anak sekolah, hehehe…”. Katanya nyengir.

Belum sempat aku membalas senyumnya kali ini, tiba-tiba Bus berhenti di sebuah pertigaan, dengan sigap Sang Kernet melompat dan mengejar penumpang yang bersiap naik melalui pintu depan. Meski aku tidak butuh balasan, aku tetap menghantar kepergiannya dengan senyum.

Secuil harmoni ini kutemukan di dalam aquarium butut berroda. Birama kehidupan, ada malam-siang, panas-dingin, susah-senang, langit-bumi, kemarau-hujan, laut-darat, dan sederet kebalikan dari setiap kenyataan. Satu yang banyak dari manusia lalai membaca, yakni ruang diantara dua kenyatan tersebut, mudah membaca malam dan begitu juga siang, tapi gamang membaca senja atau subuh sebagai penghantarnya. Mutiara ada di penghantarnya, itu kenapa diwaktu-waktu itu kita dituntut menghadap-Nya secara khusus. Mutiara itu adalah harmoni, pertemuan sisi-sisi kenyataan yang berbeda akan menghantar keindahan dan kerinduan. Entahlah, akankah nuansa ini akan disaksikan anak-anakku, kelak?

Jepara, 2022

BakulBus KotaJeparaSemarang
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Redaksi

previous post
Polda Jateng Komitmen Lindungi Pelaku Usaha dan UMKM Dari Aksi Premanisme dan Parkir Liar
next post
Sa’dullah Assa’idi, Tokoh Pendidikan Islam yang Rendah Hati dan Berprestasi

You may also like

Cinta Mata Cinta Jendela Dunia

02/11/2025

Ahmad Mi’an: Mengukir Jalan Menuju Generasi Qur’ani

31/07/2025

Kasemun: dari Lumpur Sawah ke Balai Desa

29/07/2025

KH. Nasta’in: dari Sawah ke Panggung Dakwah

28/07/2025

Muladi: dari Perantau hingga Jadi Pemimpin Desa

27/07/2025

Suratno: Sang Guru Sederhana, Mengabdi Sepanjang Usia

26/07/2025

Terkini

  • BMKG: Musim Hujan 2026/2027 Diprediksi Mulai November

    27/09/2026
  • Modeling Rumput Laut Kemujan Belum Panen, Target Produksi Capai 300 Ton

    26/09/2026
  • Pengurus Ranting NU Banjaragung dan Bangsri 2 Resmi Dilantik, Perkuat Khidmah Organisasi

    26/09/2026
  • Ulil Albab Apresiasi Jepara Bersholawat, Dorong Nilai Sholawat Jadi Energi Sosial

    25/09/2026
  • Jaga Lahan Pertanian Tetap Produktif, Pemkab Jepara Siapkan Embung dan Sumur Dalam

    25/09/2026
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Sign In

Keep me signed in until I sign out

Forgot your password?

Do not have an account ? Register here

Password Recovery

A new password will be emailed to you.

Have received a new password? Login here

Register New Account

Have an account? Login here