Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
GISTARA TV
Tuesday, November 3, 2026
Top News
Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah
Cuaca Terik, Penjual Es Teh di Jepara Berhamburan
Mengenal Nyai Hindun Anisah, Caleg DPR RI Dapil Demak, Kudus, dan...
Kolam Renang Cinta Candi Liyangan Temanggung Jawa Tengah Terbaru 2022
Fenomena Bodoh Deklarasi Kasyaf Lewat Foto
Ribuan Orang Hadiri Haul Mbah Sahil ke 18, Ini Biografinya
Sejarah Pantai Nampu Wonogiri Jawa Tengah Terbaru 2022
Peringati Hari Ibu, MIDEHA Festival Gelar Lomba Kolaborasi dengan Ibu
Tak Perlu ke Eropa, Main Salju Bisa di Dusun Semilir Bawen
Rancangan Dapil Pemilu 2024 di Jepara Tidak Berubah
Gistara
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Copyright 2021 - All Right Reserved
Opini

Kisah Sunyi Buruh Perempuan

by Redaksi 01/05/2026
Redaksi 01/05/2026 227 views
Ilustrasi buruh perempuan bekerja di sektor mebel
227

Oleh: Dr. Jumaiyah, SE, M.Si

“Selama perempuan pekerja belum diperlakukan setara, maka klaim kemajuan peradaban hanyalah ilusi yang nyaman.”

Setiap tanggal 1 Mei, jutaan buruh di lebih dari 80 negara turun ke jalan membawa spanduk dan tuntutan. Namun di balik keramaian peringatan itu, ada sebuah kenyataan yang kerap luput dari sorotan: mayoritas tangan yang menggerakkan mesin produksi dunia hari ini adalah tangan perempuan.

Di pabrik garmen Bangladesh, di ladang teh Sri Lanka, di lini perakitan elektronik Vietnam, di dapur restoran Jakarta, di ruang-ruang perawatan rumah sakit di seluruh dunia perempuan ada di mana-mana, bekerja keras, namun kerap tidak terlihat secara sistemik.

Data Organisasi Buruh Internasional (ILO) mencatat bahwa perempuan kini menyumbang hampir separuh dari total angkatan kerja global.

BACA JUGA: Dorong Seni Ukir Jepara Mendunia, Taj Yasin Soroti Regenerasi Pengukir

Di banyak sektor padat karya seperti tekstil, pertanian, dan layanan kesehatan, proporsi pekerja perempuan bahkan melampaui 60 hingga 70 persen. Namun paradoks yang menyakitkan segera muncul: semakin feminin sebuah sektor, semakin rendah pula upah yang ditawarkannya. Ini bukan kebetulan. Ini adalah produk dari sistem yang secara historis meremehkan nilai kerja perempuan, baik yang dibayar maupun yang tidak.

Di panggung internasional, kesenjangan upah berbasis gender  yang dikenal sebagai gender pay gap masih menjadi luka yang belum kunjung sembuh. Secara global,

Perempuan rata-rata masih menerima upah 20 persen lebih rendah dibanding laki-laki untuk pekerjaan yang setara nilainya. Di negara-negara berkembang, angka kesenjangan itu bisa jauh lebih lebar.

Perempuan juga lebih rentan terjebak dalam pekerjaan informal tanpa kontrak, tanpa jaminan sosial, dan tanpa perlindungan hukum yang memadai. Mereka adalah yang pertama kehilangan pekerjaan ketika krisis datang, dan yang terakhir mendapat pemulihan ketika krisis berlalu.

Pandemi Covid-19 memperburuk realita ini secara dramatis. Perempuan mengalami gelombang PHK lebih besar, terpaksa meninggalkan pekerjaan untuk merawat anak dan keluarga yang sekolah dan kliniknya tutup, dan menanggung beban kerja tidak berbayar yang berlipat ganda.

Dr. Jumaiyah, SE, M.Si

Laporan McKinsey Global Institute menyebut fenomena ini sebagai she-cession,  resesi yang secara tidak proporsional menghantam perempuan. Pemulihan ekonomi pasca pandemi berlangsung, tetapi bagi jutaan perempuan pekerja, pemulihan itu terasa seperti kembali ke titik nol yang sama: pekerjaan rentan, upah rendah, dan hak yang minim.

Bicara tentang kesejahteraan buruh perempuan, bukan hanya soal angka upah minimum yang naik setiap tahun. Ini soal harkat dan martabat. Ini soal apakah seorang perempuan yang bekerja 8 jam di pabrik bisa pulang ke rumah dengan rasa aman, tidak takut pelecehan di transportasi umum, tidak khawatir anaknya tidak terawat karena tidak ada fasilitas penitipan anak di tempat kerja, tidak cemas kontraknya diputus ketika ia mengandung.

Di banyak tempat kerja di Indonesia dan dunia, ketakutan-ketakutan itu bukan paranoia  melainkan pengalaman sehari-hari.

Ambil contoh Jepara, kota ukir yang produk furniturnya dinikmati jutaan keluarga di Eropa dan Amerika. Di balik kemegahan itu, ribuan perempuan bekerja di bagian finishing dan pengamplasan,  pekerjaan yang menuntut ketelitian tinggi namun mendapat upah paling rendah dalam rantai produksi. Mereka adalah pewaris semangat Ratu Sima yang menegakkan keadilan, Ratu Kalinyamat yang berani melawan penjajah, dan R.A. Kartini yang menggugat ketidaksetaraan.

Namun ironinya, di tanah ketiga perempuan besar itu, buruh perempuan masih berjuang mendapatkan hak-hak paling dasar: upah yang layak, perlindungan kehamilan, dan keamanan kerja. Sejarah telah melahirkan pejuang-pejuang besar dari tanah ini,  tetapi sistem belum cukup menghormati warisannya.

Dunia tidak kekurangan regulasi yang mengatur hak perempuan pekerja. Konvensi ILO tentang kesetaraan remunerasi sudah ada sejak 1951. Namun antara teks hukum dan realita lapangan, masih terbentang jurang yang lebar. Yang dibutuhkan bukan lebih banyak dokumen kebijakan,  melainkan political will yang sungguh-sungguh, pengawasan ketenagakerjaan yang ketat, serta perubahan budaya di tempat kerja yang masih memandang perempuan sebagai tenaga kerja kelas dua.

BACA JUGA: Pameran “TATAH” Resmi Dibuka, Menteri Kebudayaan Ajak Generasi Muda Lestarikan Seni Ukir

Setidaknya tiga langkah konkret mendesak untuk dilakukan. Pertama, transparansi upah harus diwajibkan agar kesenjangan berbasis gender tidak bisa lagi disembunyikan di balik kebijakan kerahasiaan gaji.

Kedua, perlindungan terhadap pekerja perempuan di sektor informal dan gig economy harus diperluas, karena di sinilah mayoritas perempuan pekerja berada, tanpa jaring pengaman apapun.

Ketiga, investasi negara pada fasilitas perawatan anak dan cuti melahirkan yang memadai bukan sekadar kebijakan sosial,  ini adalah kebijakan ekonomi, karena setiap perempuan yang terpaksa keluar dari pasar kerja karena tidak ada yang menjaga anaknya adalah kerugian produktivitas yang nyata.

May Day tahun ini selayaknya menjadi momen bagi kita semua, pengusaha, pembuat kebijakan, aktivis, dan masyarakat luas, untuk bertanya dengan jujur,  sudahkah kita benar-benar menghargai perempuan yang menopang dunia ini? Selama jawabannya masih “belum”, maka perjuangan belum selesai.

Selama perempuan yang mengamplas furnitur Jepara tidak bisa menyekolahkan anaknya, selama buruh pabrik garmen tidak aman dari pelecehan di tempat kerja, selama perawat perempuan digaji jauh di bawah dokter laki-laki untuk jam kerja yang sama panjangnya, maka 1 Mei bukan sekadar perayaan. Ia adalah pengingat bahwa keadilan masih berutang pada perempuan.

Dr.Jumaiyah,SE.M.Si, Dosen Unisnu Jepara

Buruh perempuanHari buruhIndustri mebelKetidakadilan
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Redaksi

previous post
Dorong Seni Ukir Jepara Mendunia, Taj Yasin Soroti Regenerasi Pengukir
next post
Peringati Hari Buruh, Ini yang Dilakukan  Buruh di Jepara

You may also like

Datang ke TPS Pilpet dengan Riang Gembira

03/11/2026

Fathan Subchi: Perjuangan yang Tak Sempat Menyaksikan Kado Terakhir

31/10/2026

Sumpah Pemuda dan Identitas Baru Masyarakat Hindia Belanda

28/10/2026

Menyalakan Kembali Bara Sumpah Pemuda di Era Algoritma

27/10/2026

Bahasa Arab, Pegon, dan Turats: Merawat Identitas Santri di Tengah Banjir Informasi

23/10/2026

Santri dan Subyek Pembangunan Jepara: Merajut Inovasi, Sains, dan Transformasi Ekonomi Menuju Indonesia Emas

21/10/2026

Terkini

  • Pancaroba Jadi Pengingat untuk Bersyukur, Menjaga Diri, dan Peduli pada Sesama

    03/11/2026
  • Datang ke TPS Pilpet dengan Riang Gembira

    03/11/2026
  • Desa Tegalsambi Wakili Jateng di Lomba Desa Tingkat Nasional, Kemendagri Lakukan Klarifikasi Lapangan

    03/11/2026
  • Octofest 2026, Pelaku Industri Mebel Jepara Didorong Pahami Prosedur Ekspor

    02/11/2026
  • Soroti Penggeledahan Ponpes Hamalatul Qur’an di Sukoharjo, H. Rif’an Tekankan Perlindungan Santriwati

    02/11/2026
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Sign In

Keep me signed in until I sign out

Forgot your password?

Do not have an account ? Register here

Password Recovery

A new password will be emailed to you.

Have received a new password? Login here

Register New Account

Have an account? Login here