Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
GISTARA TV
Friday, September 18, 2026
Top News
Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah
Cuaca Terik, Penjual Es Teh di Jepara Berhamburan
Mengenal Nyai Hindun Anisah, Caleg DPR RI Dapil Demak, Kudus, dan...
Kolam Renang Cinta Candi Liyangan Temanggung Jawa Tengah Terbaru 2022
Fenomena Bodoh Deklarasi Kasyaf Lewat Foto
Ribuan Orang Hadiri Haul Mbah Sahil ke 18, Ini Biografinya
Peringati Hari Ibu, MIDEHA Festival Gelar Lomba Kolaborasi dengan Ibu
Sejarah Pantai Nampu Wonogiri Jawa Tengah Terbaru 2022
Tak Perlu ke Eropa, Main Salju Bisa di Dusun Semilir Bawen
Rancangan Dapil Pemilu 2024 di Jepara Tidak Berubah
Gistara
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Copyright 2021 - All Right Reserved
Opini

Hari Pendidikan Nasional: Redefinisi Hakikat Manusia dan Pengetahuan menuju Pendidikan Holistik

by Redaksi 02/05/2026
Redaksi 02/05/2026 413 views
Ilustrasi siswa-siswa sedang belajar di perpustakaan
413

Oleh: Ahmad Yusuf, M.Pd.

Pendidikan kontemporer kerap kali terjebak dalam pusaran pragmatisme dan instrumentalisme, di mana proses pembelajaran direduksi menjadi sekadar pabrikasi tenaga kerja. Reduksionisme ini mengalienasi peserta didik dari hakikat eksistensialnya sebagai manusia.

Untuk mengurai krisis ini, diperlukan sebuah pisau analisis filosofis yang komprehensif. Oleh karena itu perlu adanya redefinisi dan rekonstruksi pardigma Pendidikan yang tidak meninggalkan teori-teori filsafat secra komprehensif.

Dalam kerangka filsafat umum, pendidikan tidak dapat dilepaskan dari pertanyaan fundamental mengenai ontologi (hakikat realitas) dan aksiologi (hakikat nilai). Secara ontologis, manusia adalah subjek yang “menjadi” (becoming), bukan objek yang statis. Pendidikan, dalam hal ini, adalah proses eksistensial yang memfasilitasi aktualitas potensi manusia.

Namun, tanpa panduan aksiologis yang jelas, proses “menjadi” tersebut dapat tergelincir ke dalam nihilisme. Filsafat umum menuntut agar setiap rancang bangun pendidikan memiliki jangkar moral.

Pendidikan bukan sekadar transmisi fakta, melainkan internalisasi kebijaksanaan (wisdom) yang memandu manusia untuk membedakan antara yang baik dan buruk, serta yang esensial dan superfisial.

Filsafat ilmu memberikan analisis kritis terhadap cara pengetahuan diproduksi, dijustifikasi, dan ditransmisikan dalam pendidikan. Dalam konteks pendidikan modern yang didominasi oleh paradigma positivistik, pengetahuan sering kali dianggap bebas nilai (value-free) dan diukur secara eksklusif melalui parameter empiris-logis.

BACA JUGA: Dorong Seni Ukir Jepara Mendunia, Taj Yasin Soroti Regenerasi Pengukir

Analisis filsafat ilmu membongkar bias ini. Karl Popper dengan falsifikasinya atau Thomas Kuhn dengan pergeseran paradigmanya menunjukkan bahwa sains tidak pernah benar-benar objektif dan selalu terikat pada konteks sosio-historis (Zubaedi,dkk, 2007:122).

Oleh karena itu, pendidikan tidak boleh mengajarkan ilmu sebagai dogma absolut. Pendidikan sains harus mengembangkan rasionalitas kritis, di mana peserta didik diajak untuk mempertanyakan asumsi dasar (presuppositions) dari setiap teori yang dipelajari.

Mengajarkan ilmu tanpa menanamkan kesadaran epistemologis akan menghasilkan teknokrat yang cerdas secara kognitif namun tunanetra secara etis.

Filsafat pendidikan berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan gagasan abstrak dari filsafat murni ke dalam praksis pedagogis. Fokus utama dari filsafat pendidikan adalah teleologi atau tujuan akhir dari proses belajar itu sendiri.

Jika merujuk pada pemikiran para filsuf pendidikan seperti John Dewey, pendidikan adalah rekonstruksi pengalaman sosial. Namun, analisis yang lebih mendalam menunjukkan bahwa pendidikan harus melampaui sekadar adaptasi sosial.

Filsafat pendidikan menuntut adanya humanisasi upaya sadar untuk memanusiakan manusia. Ini menentang keras model “pendidikan gaya bank” (banking concept of education) yang dikritik oleh Paulo Freire, di mana murid hanya menjadi wadah pasif dari informasi. Pendidikan sejati adalah ruang dialektis yang memerdekakan rasio dan jiwa peserta didik.

Ahmad Yusuf, M.Pd

Ketika filsafat umum dan filsafat ilmu Barat sering kali terhenti pada rasionalitas instrumental dan sekularisasi, pendidikan Islam menawarkan paradigma transendental yang mengintegrasikan akal budi dengan wahyu ilahi.

Filosofi pendidikan Islam tidak mengenal dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Semua ilmu bersumber dari Tuhan, dan alam semesta dipelajari sebagai ayat (tanda-tanda) kebesaran-Nya. Secara sistematis, pendidikan Islam bersandar pada tiga terminologi kunci:

Pertama, Tarbiyah: Proses pengasuhan dan pengembangan potensi fisik, mental, dan spiritual secara bertahap.

Kedua, Ta’lim: Proses transformasi pengetahuan dan intelektualitas.

Ta’dib: Proses penanaman adab, tata krama, dan etika ke dalam jiwa peserta didik.

Tokoh seperti Syed Muhammad Naquib al-Attas berpandangan bahwa masalah utama pendidikan saat ini adalah “hilangnya adab” (loss of adab).

Oleh karena itu, esensi pendidikan Islam adalah ta’dib. Pengetahuan tanpa adab hanya akan melahirkan arogansi intelektual. Tujuan akhir (teleologi) dari pendidikan Islam bukanlah sekadar pencapaian akademis, melainkan pembentukan Insan Kamil manusia paripurna yang berfungsi sebagai Abdullah (hamba yang taat) sekaligus Khalifah fil Ardh (wakil Tuhan di bumi yang menjaga keseimbangan tatanan semesta).

BACA JUGA: Pameran “TATAH” Resmi Dibuka, Menteri Kebudayaan Ajak Generasi Muda Lestarikan Seni Ukir

Berdasarkan perihal di atas, ada beberapa poin yang dapat dicermati untuk disimpulkan menjadi koreksi kita Bersama dalam Pendidikan di Indonesia ini. Bahwasanya krisis multidimensional dalam pendidikan kontemporer terutama di Indonesia berpangkal dari disintegrasi epistemologis.

Kita seringkali memisahkan antara yang empiris dan yang spiritual, antara kompetensi teknis dan integritas moral sehingga otuputnya pun menjadi parsial.

Oleh karena itu, untuk merekonstruksi sistem pendidikan yang ideal, diperlukan sebuah sintesis holistik. Pendidikan modern membutuhkan ketajaman analisis filsafat ilmu agar tidak terjebak dalam dogmatisme saintifik.

Ia membutuhkan kepekaan filsafat umum dan filsafat pendidikan untuk memastikan bahwa proses pedagogis berjalan di atas rel humanisasi. Dan yang paling krusial, pendidikan global dapat menyerap epistemologi pendidikan Islam (khususnya konsep Ta’dib) sebagai paradigma alternatif untuk mengembalikan spiritualitas dan etika ke pusat diskursus sains.

Dengan tanpa bermaksud mempromosikan pemikiran Kurikulum Berbsis Cinta (KBC) yang baru saja digagas oleh kementerian Agama RI, saya sepakat dengan berasumsi bahwa memang idealisme Pendidikan pada dasarnya adalah berdiri di dalam bangunan cinta, atas pondasi cinta, dan untuk tujuan cinta ke semua alam. Sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Ketika mendidik dan mengajar di masa dakwahnya. Islam adalah Rahmatan lil ‘alamaiin. Dengan demikian Pendidikan holistik dapat direalisasikan dan harapannya mencetak generasi emasi yang lebih beradab penuh kasih sayang dan berkompeten.

Pendidikan yang unggul bukanlah yang paling banyak mencetak mesin pekerja birokrasi, melainkan yang mampu mengintegrasikan ketajaman akal rasional (aqli) dengan bimbingan moral spiritual (naqli). Hanya dengan sinergi inilah, institusi pendidikan dapat kembali pada khittah-nya: mengangkat martabat ontologis manusia dari sekadar makhluk biologis menjadi subjek peradaban yang berakal budi dan beradab.

Selamat Hari Pendidikan Nasional semoga kita semakin mantap mewujudkan gagasan besar Bapak Pendidikan Indonesia kita Ki Hajar Dewantara, yaitu sebuah Pendidikan yang “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.”

Ahmad Yusuf, M.Pd.,  Kepala MAK Babus Salam Mulyoharjo, DLB STAI Syekh Jangkung Pati.

Hari Pendidikan NasionalPendidikan HolistikPendidikan Islam
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Redaksi

previous post
Baitul Mal Mafal Sejahtera Salurkan Zakat Produktif
next post
Aksi Nelayan di Pati, Polisi Siapkan Rekayasa Lalu Lintas dan Jalur Alternatif untuk Masyarakat

You may also like

Peran MUI dalam Penguatan Mutu Pendidikan Islam dan Kompetensi Digital

18/09/2026

Undang-Undang Pesantren Dan Orientasi Pendidikan Indonesia

05/09/2026

Ketua PBNU dan Imperatif “Tajalli” Melampaui Intelektualisme Menuju Kejernihan Hati

03/09/2026

Kembalinya Trah Tebuireng, Gus Kikin dan Perebutan Makna Identitas NU

01/09/2026

Muktamar NU ke-35, Asap yang Padam di Ruang Sidang

29/08/2026

Hari Keempat Muktamar NU ke-35: Kematangan Peserta Memilih AHWA

29/08/2026

Terkini

  • Bupati Jepara Rotasi 29 Pejabat, Penguatan Layanan Kesehatan Jadi Sorotan

    18/09/2026
  • 3.500 Peserta Ikuti Persimanu II, Wujudkan Siswa Ma’arif Berprestasi dan Nasionalis

    18/09/2026
  • Peran MUI dalam Penguatan Mutu Pendidikan Islam dan Kompetensi Digital

    18/09/2026
  • Harhubnas: Trans Jateng Jepara-Kudus-Pati Ditarget Beroperasi 2028

    17/09/2026
  • Belajar Menjadi Pemimpin, Mahasiswa BCB Unisnu Jepara Kaji Kepemimpinan dan Pengambilan Keputusan

    17/09/2026
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Sign In

Keep me signed in until I sign out

Forgot your password?

Do not have an account ? Register here

Password Recovery

A new password will be emailed to you.

Have received a new password? Login here

Register New Account

Have an account? Login here