Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
GISTARA TV
Thursday, October 15, 2026
Top News
Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah
Cuaca Terik, Penjual Es Teh di Jepara Berhamburan
Mengenal Nyai Hindun Anisah, Caleg DPR RI Dapil Demak, Kudus, dan...
Kolam Renang Cinta Candi Liyangan Temanggung Jawa Tengah Terbaru 2022
Fenomena Bodoh Deklarasi Kasyaf Lewat Foto
Ribuan Orang Hadiri Haul Mbah Sahil ke 18, Ini Biografinya
Sejarah Pantai Nampu Wonogiri Jawa Tengah Terbaru 2022
Peringati Hari Ibu, MIDEHA Festival Gelar Lomba Kolaborasi dengan Ibu
Tak Perlu ke Eropa, Main Salju Bisa di Dusun Semilir Bawen
Rancangan Dapil Pemilu 2024 di Jepara Tidak Berubah
Gistara
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Copyright 2021 - All Right Reserved
Opini

Pancasila, Rebranding NU dan Ancaman Ditinggalkan Warganya

by Redaksi 01/06/2026
Redaksi 01/06/2026 160 views
Dr. Muh Khamdan, Analis Kebijakan Publik, Doktor Studi Perdamaian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Pengurus LTNNU MWCNU Nalumsari Jepara
160

Setiap peringatan Hari Lahir Pancasila, bangsa ini selalu disibukkan dengan upacara, slogan, dan pidato kebangsaan. Namun ada pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur, mengapa nilai-nilai Pancasila semakin sulit ditemukan dalam perilaku sosial sehari-hari? Pertanyaan ini tidak hanya relevan bagi negara, tetapi juga bagi organisasi kemasyarakatan terbesar seperti Nahdlatul Ulama (NU). Sebagai organisasi yang mengklaim diri sebagai penjaga Islam Nusantara sekaligus rumah besar warga desa Indonesia, NU sedang menghadapi tantangan serius untuk mempertahankan relevansi sosialnya di tengah perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat.

Dalam perspektif sosiologi pedesaan, NU selama puluhan tahun berhasil membangun dominasi kultural melalui pesantren, masjid, langgar, madrasah, dan tradisi keagamaan yang mengakar. Identitas ke-NU-an diwariskan bukan melalui kartu anggota, melainkan melalui praktik sosial sehari-hari.

Namun, struktur sosial desa saat ini tidak lagi sama seperti tiga dekade lalu. Urbanisasi, pendidikan tinggi, migrasi digital, dan penetrasi media sosial telah mengubah cara masyarakat desa memandang otoritas keagamaan dan organisasi sosial.Masalahnya, sebagian kultur organisasi NU justru masih mempertahankan kebiasaan lama yang semakin sulit diterima generasi baru.

Keterlambatan waktu dalam berbagai agenda organisasi sering dianggap sebagai hal biasa. Acara yang dijadwalkan pukul delapan pagi dapat dimulai satu atau dua jam kemudian tanpa rasa bersalah kolektif. Dalam perspektif sosiologi organisasi modern, kebiasaan semacam itu bukan sekadar masalah teknis, melainkan menunjukkan rendahnya penghargaan terhadap waktu sebagai modal sosial.

BACA JUGA: Kartu Sarjana Jepara Dibuka, Berikut Cara Daftar dan Persyaratannya

Fenomena tersebut semakin kontras ketika warga nahdliyin muda memasuki ruang perkotaan dan dunia profesional. Mereka bekerja di perusahaan multinasional, industri kreatif, universitas, hingga birokrasi modern yang menjadikan disiplin waktu sebagai indikator profesionalisme. Akibatnya muncul benturan budaya antara nilai-nilai modern yang mereka praktikkan setiap hari dengan kultur organisasi yang mereka temukan ketika kembali ke lingkungan sosial keagamaan.

Persoalan lain yang sering luput dibicarakan adalah budaya kebersihan. Banyak kegiatan sosial keagamaan berbasis NU masih meninggalkan kesan lingkungan yang semrawut, sampah yang tidak terkelola, dan fasilitas umum yang kurang terawat. Dalam perspektif sosiologi agama, kebersihan bukan lagi sekadar urusan estetika, melainkan bagian dari identitas komunitas keberagamaan Islam. Masyarakat modern menilai kualitas organisasi dari cara mereka merawat ruang publik yang digunakan bersama.

Tidak mengherankan jika generasi muda perkotaan semakin kritis terhadap kontradiksi tersebut. Mereka mendengar ceramah tentang kesucian dan kebersihan sebagai bagian dari iman, tetapi melihat praktik sosial yang bertolak belakang. Ketika kesenjangan antara nilai dan perilaku semakin lebar, legitimasi moral organisasi secara perlahan mengalami erosi.

Persoalan berikutnya adalah budaya merokok yang sering dianggap lumrah dalam berbagai aktivitas sosial keagamaan. Di banyak forum publik, asap rokok masih menjadi pemandangan biasa tanpa mempertimbangkan keberadaan anak-anak, perempuan hamil, lansia, atau kelompok rentan lainnya. Dari sudut pandang sosiologi kesehatan, perilaku tersebut mencerminkan rendahnya sensitivitas terhadap hak-hak publik. Padahal masyarakat urban saat ini semakin menjadikan etika ruang bersama sebagai standar peradaban sosial. Bahkan, hak mendapatkan lingkungan hidup yang baik dipertegas sebagai hak asasi manusia dalam generasi ketiga, yaitu pembangunan berkelanjutan.

BACA JUGA: Pameran “TATAH” Resmi Dibuka, Menteri Kebudayaan Ajak Generasi Muda Lestarikan Seni Ukir

Dalam era digital, persoalan transparansi juga menjadi tantangan yang tidak bisa lagi dihindari. Banyak organisasi masyarakat masih mengelola keuangan dan program dengan pola tradisional yang bertumpu pada kepercayaan personal. Kalimat “yang penting ikhlas” sering digunakan untuk menghindari tuntutan akuntabilitas. Padahal dalam tata kelola modern, keikhlasan dan transparansi bukanlah dua hal yang bertentangan. Justru keikhlasan harus diwujudkan melalui keterbukaan pengelolaan sumber daya organisasi.

Di banyak daerah, warga tidak mengetahui secara jelas bagaimana program direncanakan, bagaimana dana digunakan, dan sejauh mana dampak yang dihasilkan. Akibatnya, muncul jarak psikologis antara elite organisasi dan anggota di tingkat akar rumput. Ketika kepercayaan sosial mulai menurun, loyalitas organisasi perlahan berubah menjadi sekadar nostalgia historis.

Masalah yang lebih mendasar adalah ketertinggalan dalam membaca perubahan zaman. Dunia telah bergerak menuju kecerdasan buatan, ekonomi digital, transisi energi, isu kesehatan mental, perubahan iklim, dan inklusi sosial. Namun sebagian besar energi organisasi masih terserap pada agenda-agenda seremonial yang berulang dari tahun ke tahun. Akibatnya, banyak anak muda nahdliyin merasa organisasi tidak lagi berbicara tentang persoalan yang mereka hadapi sehari-hari.

Fenomena ini semakin terlihat dalam pola kaderisasi. Secara formal, kaderisasi berjalan melalui berbagai jenjang pelatihan. Namun dalam praktiknya, kaderisasi sering kali berorientasi pada reproduksi elite organisasi, bukan pemberdayaan warga nahdliyin di tingkat bawah. Mereka yang aktif dalam struktur mendapatkan akses pengetahuan, jaringan, dan kesempatan kepemimpinan, sementara mayoritas warga hanya menjadi penonton dalam proses tersebut.

BACA JUGA: ‎PMII Soroti Akses dan Kualitas Pendidikan Jepara

Dalam perspektif sosiologi pedesaan, kondisi tersebut sangat berbahaya. Kekuatan NU sejak awal bukan terletak pada elite, melainkan pada jaringan sosial warga desa yang menjadi basis legitimasi organisasi. Ketika hubungan antara elite dan akar rumput melemah, maka modal sosial yang selama ini menjadi kekuatan utama NU akan mengalami degradasi secara perlahan.

Situasi ini semakin kompleks karena Pancasila sendiri tidak lagi menjadi pedoman perilaku yang hidup dalam keseharian masyarakat. Pancasila lebih sering hadir sebagai simbol formal dibandingkan etika sosial. Nilai gotong royong digantikan individualisme, musyawarah tergantikan polarisasi dan kontestasi kekuasaan, dan keadaban publik tergantikan ekspresi kemarahan digital bahkan ekspresi saling menjatuhkan kader.

Dalam konteks tersebut, organisasi kemasyarakatan NU seharusnya menjadi benteng penguatan nilai-nilai kebangsaan. Namun benteng itu akan rapuh apabila organisasi gagal menjadi teladan.

NU sesungguhnya masih memiliki modal sosial yang sangat besar. Jutaan warga nahdliyin, ribuan pesantren, jaringan pendidikan yang luas, serta legitimasi keagamaan yang kuat merupakan aset yang tidak dimiliki banyak organisasi lain. Namun modal sosial hanya akan bertahan jika mampu diterjemahkan menjadi kapasitas adaptasi. Organisasi besar yang gagal beradaptasi sering kali tidak runtuh karena diserang dari luar, melainkan karena kehilangan relevansi di mata pendukungnya sendiri.

Karena itu, rebranding NU bukan sekadar soal logo, slogan, atau kampanye media sosial. Rebranding sejati harus dimulai dari perubahan budaya organisasi. Disiplin waktu harus menjadi etika baru. Kebersihan lingkungan harus menjadi gerakan sosial. Transparansi keuangan harus menjadi standar kelembagaan. Penghormatan terhadap hak ruang publik harus menjadi kebiasaan kolektif. Kaderisasi harus kembali menyentuh warga akar rumput, bukan hanya mencetak elite organisasi.

Jika langkah-langkah tersebut mampu dilakukan, NU tidak hanya akan tetap relevan dalam era perubahan, tetapi juga dapat kembali menjadi contoh nyata bagaimana nilai-nilai Pancasila hidup dalam perilaku sosial sehari-hari. Sebaliknya, jika perubahan itu terus ditunda, ancaman terbesar bagi NU bukanlah kritik dari luar organisasi, melainkan kepergian diam-diam warganya sendiri. (KA)

 

Modal sosialPancasilaRebranding NU
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Redaksi

previous post
Analisis  dan Rekayasa Sosial Jadi Landasan Gerakan Kader PMII 
next post
Hari Lahir Pancasila, Menanti Keadilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia 

You may also like

Kekerasan Pasca 30 September 1965 di Pedesaan

01/10/2026

Karnaval “Satanic” Pekalongan, Sisa Spiritual yang Rapuh

29/09/2026

Merawat Marwah NU Jepara dari Keteladanan KH Ahmad Fauzan

25/09/2026

Peran MUI dalam Penguatan Mutu Pendidikan Islam dan Kompetensi Digital

18/09/2026

Undang-Undang Pesantren Dan Orientasi Pendidikan Indonesia

05/09/2026

Ketua PBNU dan Imperatif “Tajalli” Melampaui Intelektualisme Menuju Kejernihan Hati

03/09/2026

Terkini

  • Dr Haryanto Ungkap Rahasia Manajemen Pembelajaran dalam Surat Al-Alaq

    14/10/2026
  • BPS Jepara Ingatkan, Jangan Keliru Membaca Angka Ekonomi

    14/10/2026
  • Kejar Swastisaba Wistara 2027, FKJS Jepara Perkuat Kelembagaan hingga Desa

    14/10/2026
  • Lantik PRNU Tanjung 2, Rais Syuriyah PCNU Jepara Ingatkan Dua Kriteria Pemimpin

    14/10/2026
  • LPTQ Jepara Siapkan MTQ,  Pembinaan Kader dan Syiar AI-Qur’an Jadi Prioritas

    13/10/2026
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Sign In

Keep me signed in until I sign out

Forgot your password?

Do not have an account ? Register here

Password Recovery

A new password will be emailed to you.

Have received a new password? Login here

Register New Account

Have an account? Login here