Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
GISTARA TV
Friday, October 23, 2026
Top News
Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah
Cuaca Terik, Penjual Es Teh di Jepara Berhamburan
Mengenal Nyai Hindun Anisah, Caleg DPR RI Dapil Demak, Kudus, dan...
Kolam Renang Cinta Candi Liyangan Temanggung Jawa Tengah Terbaru 2022
Fenomena Bodoh Deklarasi Kasyaf Lewat Foto
Ribuan Orang Hadiri Haul Mbah Sahil ke 18, Ini Biografinya
Sejarah Pantai Nampu Wonogiri Jawa Tengah Terbaru 2022
Peringati Hari Ibu, MIDEHA Festival Gelar Lomba Kolaborasi dengan Ibu
Tak Perlu ke Eropa, Main Salju Bisa di Dusun Semilir Bawen
Rancangan Dapil Pemilu 2024 di Jepara Tidak Berubah
Gistara
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Copyright 2021 - All Right Reserved
Regional

Menjaga Marwah Pesantren di Tengah Kasus Kekerasan Seksual, Gus Sholah: Perkuat Nalar Kritis dan Perlindungan Santri

by Redaksi 08/06/2026
Redaksi 08/06/2026 521 views
H. Sholahuddin (Gus Sholah)
521

JEPARA | GISTARA.COM – Kasus kekerasan seksual yang melibatkan oknum pengasuh pesantren di wilayah Pati dan Jepara dalam beberapa waktu terakhir kembali mengguncang kepercayaan publik.

Peristiwa tersebut bukan hanya menyisakan luka mendalam bagi para korban, tetapi juga menjadi pukulan bagi dunia pesantren yang selama ini dikenal sebagai ruang pendidikan, pembinaan akhlak, dan tempat orang tua menitipkan masa depan anak-anak mereka.

H. Sholahuddin (Gus Sholah)  Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mustaqim Bugel, Kedung, Jepara menilai, bahwa dampak kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan keagamaan tidak pernah sederhana. Korban kerap mengalami trauma berkepanjangan, kehilangan rasa aman, hingga kesulitan membangun kembali kepercayaan terhadap lingkungan sekitarnya.

BACA JUGA: Haul Gus Dur ke-16 : Guru Bangsa yang Mencintai Tanpa Sekat

Menurut Gus Sholah,  dalam sejumlah kasus, pelaku tidak hanya memanfaatkan posisi sosial yang dimiliki, tetapi juga menggunakan otoritas keagamaan untuk membungkam korban. Hubungan antara guru dan murid yang semestinya menjadi ruang pembelajaran dan pembinaan justru berubah menjadi relasi dominasi yang merugikan.

“Akibatnya, kepercayaan masyarakat terhadap pesantren ikut terkikis. Sebagian orang tua mulai ragu mengirimkan anaknya ke pesantren, sementara masyarakat umum memandang lembaga ini dengan kecurigaan,” ujarnya pada gistara, (8/6/26)

Meski demikian, Gus Sholah yang juga Ketua Aswaja Center PCNU Jepara mengingatkan, agar masyarakat tidak terjebak pada sikap menggeneralisasi (menyamaratakan atau memukul rata).

Tindakan segelintir oknum tidak boleh dijadikan alasan untuk menghakimi seluruh pesantren yang selama ini telah berkontribusi besar dalam pendidikan, dakwah, dan pembentukan karakter bangsa.
BACA JUGA: Dadan Hindayana: Dari Akademisi, Kepala BGN hingga Berujung Ditangkap Kejagung

Pria yang lulusan program Magister UGM ini,  menyoroti pentingnya mencermati relasi kuasa di lingkungan pesantren. Tradisi penghormatan atau takzim kepada kiai dan guru merupakan nilai luhur yang telah lama menjadi fondasi pendidikan pesantren. Namun, ketika penghormatan berubah menjadi kepatuhan tanpa batas, santri berpotensi kehilangan keberanian untuk mempertanyakan atau menolak tindakan yang bertentangan dengan agama maupun nilai kemanusiaan.

Karena itu, penguatan nalar kritis santri menjadi kebutuhan yang mendesak. Nalar kritis, kata dia, bukan berarti mengurangi rasa hormat kepada guru, melainkan membekali santri kemampuan memahami batas-batas yang diajarkan agama.

“La tha’ata li makhluqin fi ma’shiyatil Khaliq yang artinya  tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam perbuatan maksiat kepada Sang Pencipta,” tegasnya.

Hal ini menegaskan bahwa penghormatan kepada guru tidak boleh menghilangkan kemampuan membedakan yang benar dan yang salah.

BACA JUGA: PMII Soroti Akses dan Kualitas Pendidikan Jepara

Selain memperkuat budaya berpikir kritis melalui tradisi musyawarah dan dialog, pesantren juga didorong untuk membangun sistem perlindungan anak yang lebih kuat.

Edukasi mengenai kekerasan seksual, mekanisme pelaporan yang aman, hingga peningkatan kapasitas para pengasuh dan tenaga pendidik dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah terulangnya kasus serupa.

“Kasus-kasus yang muncul belakangan ini seharusnya menjadi momentum refleksi bersama. Pesantren perlu tetap menjaga tradisi penghormatan kepada guru, namun sekaligus membuka ruang bagi tumbuhnya kesadaran kritis dan sistem perlindungan yang kokoh,” ujarnya.

Dengan langkah tersebut, pesantren diharapkan tetap menjadi rumah yang aman, bermartabat, dan mampu melahirkan generasi berilmu, berakhlak, serta terlindungi dari segala bentuk kekerasan.(KA)

Kekerasan SeksualPondok PesantrenSantri
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Redaksi

previous post
Segelas Miras, Sejuta Risiko: Ancaman Penyakit yang Mengintai Tubuh 
next post
Rajut Kebersamaan, Walubi Jateng Bagikan 1.200 Paket Sembako untuk Warga Jepara

You may also like

Ulil Albab: Santri Harus Kuat Ilmu, Mandiri dan Adaptif

22/10/2026

RMI NU Jepara Gelar Lomba Santri Berprestasi, Kobarkan Semangat Jihad dan Kreativitas

21/10/2026

Andalkan Potensi Kopi, Desa Dudakawu Masuk 25 Besar Program Desa BRILiaN

20/10/2026

Dongkrak Ekonomi Rumah Tangga, Sumarwati Ajak Ubah Limbah Usaha Jadi Barang Bernilai

21/09/2026

Festival Literasi Jateng 2026,  Gelorakan Budaya Baca Gen Z

12/09/2026

Bahas Isu Kontemporer dan Kebijakan Nasional, PWNU Jawa Tengah Gelar Bahtsul Masail Ke-6

22/08/2026

Terkini

  • Karnaval Hari Santri 2026 Jadi Momentum Merawat Toleransi dan Persatuan

    22/10/2026
  • HSN MWC NU Tahunan, Santri Didorong Kuasai Teknologi dan Jadi Pelopor Perdamaian

    22/10/2026
  • Dari UNISNU Jepara untuk Indonesia, Ratusan Pendidik dan Pelajar Adu Inovasi dalam Lomba Esai Nasional Hari Santri

    22/10/2026
  • Profesor Waras Kamdi: Mutu Pendidikan Harus Tumbuh dari Budaya Sekolah, Bukan Sekadar Akreditasi

    22/10/2026
  • Gelorakan Semangat Resolusi Jihad, 2.000 Peserta Hadiri Apel Hari Santri di Mlonggo

    22/10/2026
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Sign In

Keep me signed in until I sign out

Forgot your password?

Do not have an account ? Register here

Password Recovery

A new password will be emailed to you.

Have received a new password? Login here

Register New Account

Have an account? Login here