Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
GISTARA TV
Thursday, October 29, 2026
Top News
Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah
Cuaca Terik, Penjual Es Teh di Jepara Berhamburan
Mengenal Nyai Hindun Anisah, Caleg DPR RI Dapil Demak, Kudus, dan...
Kolam Renang Cinta Candi Liyangan Temanggung Jawa Tengah Terbaru 2022
Fenomena Bodoh Deklarasi Kasyaf Lewat Foto
Ribuan Orang Hadiri Haul Mbah Sahil ke 18, Ini Biografinya
Sejarah Pantai Nampu Wonogiri Jawa Tengah Terbaru 2022
Peringati Hari Ibu, MIDEHA Festival Gelar Lomba Kolaborasi dengan Ibu
Tak Perlu ke Eropa, Main Salju Bisa di Dusun Semilir Bawen
Rancangan Dapil Pemilu 2024 di Jepara Tidak Berubah
Gistara
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Copyright 2021 - All Right Reserved
Opini

Refleksi Menjelang Muktamar NU ke-35: Antara Khidmah dan Hasrat Kekuasaan

by Redaksi 30/07/2026
Redaksi 30/07/2026 334 views
Oleh: KH. Abdul Basit
334

“Ketahuilah saudara-saudaraku, perkumpulan ini adalah nikmat dari Allah yang diberikan kepada kalian. Dimana Allah telah mengumpulkan dan mempersatukan kalian serta menggerakan kalian untuk senantiasa taat kepadaNya. Maka sudah seharusnya kalian bersyukur atas nikmat tersebut. Dan cara mensyukurinya adalah dengan keterlibatan kalian pada anugerah Allah tersebut yang diberikan kepada kalian dalam perkumpulan kalian ini”.

Penggalan kalimat di atas adalah bagian dari khutbah iftitah KH. Hasyim Asy’ari dalam muktamar kedua Perkumpulan Nahdlatul Ulama tahun 1927 M. Beliau menegaskan bahwa perkumpulan ini adalah nikmat dari Allah yang harus kita syukuri, bukan musibah yang yang harus kita hadapi dengan bersabar.

Penulis mengamati dalam Muktamar NU selalu muncul satu fenomena yang nyaris berulang, yaitu meningkatnya suhu politik internal organisasi. Lobi dilakukan secara intensif, deklarasi dukungan, perang opini dan klaim di media-media oleh para calon dan atau muhibbinnya, bahkan yang lebih miris lagi adalah bagi-bagi amplop. Dan semua ini seolah dianggap lumrah. Namun justru karena dianggap lumrah, kita sering lupa bertanya : Apakah dinamika tersebut merupakan tanda kedewasaan demokrasi perkumpulan atau justru cermin kuatnya tarik menarik syahwat kekuasaan?.

Sebagai organisasi islam terbesar di dunia, NU memiliki modal sosial yang luar biasa. Siapapun yang memimpin NU akan memiliki pengaruh besar, bukan hanya terhadap warga nahdliyin, tetapi juga pada arah kebijakan publik dan percaturan politik nasional.

Disinilah letak persoalannya. Ketika posisi ketua umum dipandang sebagai pusat pengaruh strategis, godaan untuk menjadikan muktamar sebagai arena perebutan kekuasaan menjadi semakin besar.

BACA JUGA: Situs Langgar Bubrah Diduga Peninggalan Era Ratu Kalinyamat, Bupati Jepara Siap Dukung Pelestarian Cagar Budaya

Tidak ada yang salah dengan kompetisi. Yang menjadi masalah adalah ketika kompetisi kehilangan etika. Ketika politik gagasan digantikan politik pencitraan, ketika musyawarah mulai dikalahkan oleh kalkulasi politik, ketika jual beli suara dianggap bagian dari ritual muktamar dan ketika loyalitas kepada jam’iyah bergeser menjadi loyalitas kepada jaringan alumni atau figur.

Lebih ironis lagi, isu-isu substansial justru sering tenggelam. Di tengah tantangan besar yang dihadapi NU –kemiskinan warga, penguatan pesantren, kaderisasi ulama, transformasi digital, pengembangan ekonomi umat, hingga ancaman ekstrimisme- diskusi publik justru lebih banyak berkutat pada hitung-hitungan dukungan dan peta kemenangan. Seolah masa depan NU cukup ditentukan oleh siapa yang menang, bukan oleh apa yang akan dikerjakan setelah menang.

Fenomena ini harus menjadi alarm bagi seluruh warga nahdliyin, terutama bagi para pemilik suara. Karena ditangan mereka, amanah jam’iyah guna mengorkestrasikan kekuatan jama’ah untuk saling melengkapi dan bahu membahu demi terwujudnya ‘izzul islam wal muslimin dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ingatlah, sejarah menunjukan bahwa organisasi besar tidak runtuh karena perbedaan pendapat, tetapi karena kehilangan orientasi. Ketika jabatan dipandang sebagai prestise, bukan lagi amanah; ketika kemenangan lebih penting dari persaudaraan; ketika kekuasaan lebih menarik daripada pengabdian; saat itulah marwah organisasi mulai terkikis.

Hasrat kekuasaan seringkali membutakan mata dan hati nurani, menghalalkan segala cara demi memenuhi dan memuaskan syahwat. Dalam kondisi yang demikian, potensi menguatnya kepentingan dari luar jam’iyah menjadi leluasa bermain.

BACA JUGA: Hari Anak Nasional: Momentum Perkuat Kualitas Pengasuhan dan Pendidikan

Besarnya pengaruh NU membuat banyak pihak berkepentingan terhadap arah kepemimpinannya. Hubungan baik dengan negara maupun berbagai elemen masyarakat lain memang penting. Namun hubungan itu tidak boleh membuat NU kehilangan independensinya sebagai kekuatan moral yang mampu memberikan kriktik, masukan dan teladan.

Organisasi sebesar NU harus menjadi subjek yang menentukan arah, bukah objek yang ditentukan oleh kepentiangan siapapun.

Muktamar NU ke-35 memiliki tugas berat, yaitu menentukan arah kebijakan jam’iyah dalam perjalanannya di abad kedua ini.

Tantangan perubahan jaman, perkembangan teknologi yang begitu cepat, kondisi geopolitik dunia yang sedang tidak baik-baik saja membutuhkan bimbingan dan teladan NU.

Para Muassis dan Masyayikh NU mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan sesuatu yang diperebutkan, melainkan amanah yang diterima dengan penuh tanggung jawab. Karena itu, ukuran keberhasilan muktamar bukanlah seberapa hebat seseorang memenangkan kontestasi, tetapi seberapa manfaat yang dapat dihadirkan bagi umat setelah kontestasi berakhir.

BACA JUGA: Catat Tren Positif, Berikut Capaian BAZNAS Jepara Semester Pertama 2026

Apakah Muktamar NU ke-35 akan dikenang oleh sejarah sebagai forum yang melahirkan keputusan-keputusan maslahat bagi masa depan jam’iyah, jama’ah dan persatuan bangsa serta memperkokoh peran NU sebagai penjaga Islam ahli sunnah wal jama’ah yang moderat. Atau sebaliknya, ia akan dikenang sebagai momentum hiruk pikuk perebutan pengaruh dan kekuasaan yang mengalahkan suara akal sehat dan semangat khidmah.

Nahdlatul Ulama’ dapat bertahan satu Abad karena dibangan di atas keikhlasan para muasis dan masyayikh, bukan di atas ambisi para pencari kekuasaan. Oleh sebab itu, menjelang Muktamar ke-35, pertanyaan yang sesungguhnya bukanlah siapa yang akan menjadi Rais ‘Am dan Ketua Umum, melainkan apakah NU masih mampu menjaga marwahnya sebagai jam’iyah yang membimbing umat dengan ilmu, akhlak dan keteladanan. Atau justru terseret ke dalam pusaran kekuasaan yang mengikis jati dirinya.

Nahdlatul Ulama’ adalah anugerah Allah untuk umat Islam, bangsa Indonesia dan seluruh umat manusia.

Mari kita syukuri anugerah ini denga penuh kegembiraan. Selamat bermuktamar ke-35 dengan gembira. Ya Allah, Ya Qohhar, Ya Jabbar lindungi muktamar ke-35 ini dari tangan-tangan dan hasrat jahat. Berikan kekuatan pada para pengambil kebijakan dan pemilik hak suara untuk menapaki jalan yang Engkau ridloi. Laa Haula walaa Quwwata illaa Billahi.

KH. Abdul Basit, Katib Syuriah PWNU Jawa Tengah

Muktamar ke 35Nahdlatul UlamaNUTambak Beras
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Redaksi

previous post
KKN XXI UNISNU Mengabdi di Desa Keling, Bangun Sinergi untuk Pemberdayaan Warga
next post
Satu Mimpi Tercapai, Mimpi Lain Menanti

You may also like

Sumpah Pemuda dan Identitas Baru Masyarakat Hindia Belanda

28/10/2026

Menyalakan Kembali Bara Sumpah Pemuda di Era Algoritma

27/10/2026

Bahasa Arab, Pegon, dan Turats: Merawat Identitas Santri di Tengah Banjir Informasi

23/10/2026

Santri dan Subyek Pembangunan Jepara: Merajut Inovasi, Sains, dan Transformasi Ekonomi Menuju Indonesia Emas

21/10/2026

Menenun Masa Depan: Metamorfosis Pesantren dan Daya Saing Santri Menyongsong Indonesia Emas 2045

20/10/2026

Kekerasan Pasca 30 September 1965 di Pedesaan

01/10/2026

Terkini

  • Kabar Gembira! Mulai November, RSINU Cakra Medika Mayong Resmi Layani Pasien BPJS Kesehatan

    29/10/2026
  • Sumpah Pemuda dan Identitas Baru Masyarakat Hindia Belanda

    28/10/2026
  • Peringatan Sumpah Pemuda di Jepara, Jadi Momen Mengenang Perjuangan Atlet Selam Syabila

    28/10/2026
  • PC Muslimat NU Jepara Resmi Dilantik, Menteri PPPA Tekankan Pentingnya Benteng Keluarga dan Perlindungan Anak

    28/10/2026
  • Berikut 16 Rekomendasi Rakernas ke-6 Dewan Pendidikan se-Indonesia 

    28/10/2026
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Sign In

Keep me signed in until I sign out

Forgot your password?

Do not have an account ? Register here

Password Recovery

A new password will be emailed to you.

Have received a new password? Login here

Register New Account

Have an account? Login here