BATANG | GISTARA.COM – Duka atas meninggalnya atlet selam Kabupaten Jepara, Syabila Rizkia Putri Raharja, menyelimuti pembukaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVII Jawa Tengah 2026, Minggu (25/10/2026) malam.
Di tengah kemeriahan defile kontingen dari berbagai daerah, Kontingen Kabupaten Batang memilih menunjukkan solidaritas dengan mengenakan atribut hitam sebagai tanda berkabung.
Mereka juga membawa spanduk ucapan duka cita untuk mengenang kepergian atlet tersebut.
Ketua Kontingen Kabupaten Batang, Akhmad Dahlan, mengatakan langkah itu merupakan bentuk empati terhadap perjuangan atlet yang telah berusaha maksimal untuk mengharumkan nama daerah masing-masing.
Menurutnya, perjuangan atlet tidak hanya dipahami dari sudut pandang daerah yang bersangkutan.
Setiap atlet yang bertanding memiliki pengorbanan, kerja keras, serta tekanan tersendiri demi meraih prestasi.
“Ketika kita berjuang bersama di sini, walaupun dari luar daerah, selama mendampingi atlet kita merasakan perjuangan mereka yang sangat berat untuk membawa nama baik daerah masing-masing,” kata Dahlan kepada Tribunjateng, Senin (26/10/2026)
Dia mengaku turut merasakan kesedihan atas kepergian Syabila.
Terlebih, setiap atlet yang berlaga dalam ajang olahraga tingkat provinsi telah melalui proses panjang untuk mencapai kompetisi tersebut.
Dahlan menilai, empati kepada atlet sendiri semestinya juga diberikan kepada atlet dari kabupaten dan kota lain.
Sebab, seluruh atlet memiliki semangat dan tujuan yang sama, yakni berjuang membawa prestasi bagi daerahnya.
“Ketika kita punya rasa empati terhadap atlet kita sendiri, kita rasakan juga pada atlet kabupaten dan kota lain. Mereka sudah berusaha sampai mendapatkan medali, kemudian masih harus bertanding lagi,” ungkapnya.
Atas dasar itu, jajaran Kontingen Batang bersama pengurus olahraga dan para pendamping atlet sepakat menunjukkan rasa duka melalui atribut hitam saat defile pembukaan Porprov.
Selain mengenakan selendang hitam, Kontingen Batang juga menyiapkan pita hitam untuk dikenakan para atlet di lengan kiri sebagai simbol belasungkawa.
“Ini bentuk empati. Kita merasakan bagaimana ketika mendampingi atlet berjuang merebutkan medali dan membawa nama besar kabupaten atau kota masing-masing. Teman-teman sepakat untuk membuat spanduk dan membawanya saat defile,” jelasnya.
Spanduk duka cita tersebut menjadi simbol bahwa persaingan dalam olahraga tidak menghapus rasa persaudaraan antaratlet maupun antarkontingen.
Bagi Kontingen Batang, Porprov bukan semata-mata arena mengejar medali.
Ajang tersebut juga menjadi ruang untuk menumbuhkan sportivitas, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama atlet.
Di tengah ambisi setiap daerah untuk meraih prestasi, kepergian Syabila menjadi pengingat bahwa keselamatan dan kemanusiaan tetap harus menjadi perhatian utama dalam dunia olahraga.
Dahlan berharap seluruh atlet yang berlaga di Porprov XVII Jawa Tengah 2026 dapat menjalani pertandingan dengan baik, menjaga kondisi tubuh, serta memperoleh pendampingan yang memadai hingga kompetisi berakhir.
“Semoga sampai selesai tidak ada kendala,” harapnya. (AD)