Oleh: Mufarih Ni’am, S.Pd.
“Pengorbanan adalah bahasa sunyi dari cinta yang sejati. Ia tak menuntut tepuk tangan, hanya kerelaan yang mengakar.”
Hari Raya Idul Adha, atau yang juga dikenal sebagai Hari Raya Kurban, selalu datang membawa aroma keikhlasan dan makna pengorbanan. Di balik gema takbir dan lantunan doa, tersimpan pesan mendalam dari kisah Nabi Ibrahim a.s. dan putranya Nabi Ismail a.s., tentang keimanan, kerelaan, dan ketundukan terhadap perintah Tuhan, bahkan jika itu berarti mengorbankan hal terdekat dalam hidup.
Namun di era kini, di ruang-ruang kelas yang saya isi sebagai pendidik, saya menyaksikan bagaimana nilai-nilai luhur itu kian jauh dari realita harian peserta didik. Mereka tumbuh dalam zaman serba cepat, serba praktis, serba jadi. Maka “pengorbanan” terasa asing, dan “proses” sering dianggap lambat. Banyak siswa lebih tertarik pada hasil instan ketimbang jalan panjang penuh usaha dan jatuh bangun.
BACA JUGA: PLN UIK Tanjung Jati B Beri Apresiasi untuk Guru Ngaji Menjelang Hari Kartini
Generasi Instan dan Hilangnya Jiwa Kurban
Jika dulu kita terbiasa mendengar cerita anak-anak berjalan berkilo-kilometer demi sekolah, kini kita mendapati keluhan karena sinyal Wifi sedikit lambat. Jika dulu proses belajar melibatkan membaca buku berulang kali, kini cukup menonton video dua menit atau bertanya pada mesin pencari.
Tak salah memang memanfaatkan teknologi, tetapi ketika semua menjadi cepat dan instan, sering kali pengorbanan dalam bentuk waktu, tenaga, bahkan konsistensi tak lagi dianggap perlu.
Saya melihat banyak peserta didik menginginkan nilai baik tanpa bersusah payah. Mereka ingin sukses tanpa gagal. Ingin pintar tanpa belajar. Bahkan ingin lulus tanpa proses. Di sinilah saya merasa, nilai-nilai Iduladha bisa menjadi “jembatan hati” yang mempertemukan kembali generasi ini dengan makna sejati perjuangan.
Mendidik dengan Semangat Kurban
Idul Adha bukan sekadar peringatan tahunan. Ia adalah cermin pendidikan karakter paling kuat. Betapa Nabi Ibrahim rela mengorbankan anak yang amat dicintainya demi ketaatan. Betapa Ismail, sang anak, dengan tenang berkata, “Laksanakanlah apa yang diperintahkan Tuhan kepadamu.” Itulah puncak pengorbanan: rela melepaskan ego, kenyamanan, dan bahkan kepentingan pribadi demi sesuatu yang lebih besar.
BACA JUGA: Cegah Aksi Premanisme, Polres Jepara Gelar Patroli Skala Besar
Sebagai guru, saya mulai bertanya: bagaimana membawa semangat itu ke dalam kelas? Bagaimana agar siswa memahami bahwa belajar pun perlu pengorbanan: waktu bermain, rasa malas, dan keinginan instan. Bahwa untuk bisa mencapai sesuatu, perlu melewati proses. Dan bahwa keikhlasan, seperti dalam kurban, adalah inti dari pembelajaran yang bermakna.
Momentum Reflektif bagi Dunia Pendidikan
Idul Adha bisa dan seharusnya menjadi momentum reflektif bagi dunia pendidikan. Di hari ini, ketika daging kurban dibagi-bagikan, kita bisa mengajak siswa merenungi bahwa tidak semua bisa didapat dengan mudah. Daging itu ada karena ada hewan yang dikorbankan. Hewan itu ada karena peran yang merawat dan menyiapkannya dengan tekun. Semua butuh waktu. Semua butuh niat. Semua butuh pengorbanan.
Saya ingin mengajak para siswa, dan kita semua, memaknai kurban bukan hanya sebagai kegiatan menyembelih hewan, tetapi juga menyembelih ego, kemalasan, dan keengganan untuk berproses. Menyembelih keinginan cepat-cepat berhasil, dan menggantinya dengan keuletan, konsistensi, serta keikhlasan.
BACA JUGA: Sertijab Bupati Jepara, Mas Wiwit Targetkan Perbaiki Jalan Sepanjang 200 Km
Idul Adha dan Harapan Seorang Guru
Sebagai guru, saya tidak menuntut semua murid menjadi sempurna. Tapi saya berharap mereka berani mencoba. Berani gagal. Berani jatuh dan bangun. Seperti Nabi Ibrahim dan Ismail yang menunjukkan bahwa cinta sejati pada Tuhan (dan pada ilmu) harus diiringi pengorbanan, saya ingin peserta didik saya memiliki keberanian dan keikhlasan yang sama, walau bentuknya kini adalah belajar, bersabar, dan terus berusaha.
Semoga Idul Adha tahun ini bukan hanya perayaan ritual, tapi titik balik kesadaran. Bahwa pengorbanan tidak pernah sia-sia. Pun dalam setiap proses yang berat, selalu ada nilai yang akan tumbuh: ketangguhan, keimanan, dan harapan.
“Pada setiap tetes peluh dan letihmu, diam-diam sedang tumbuh dirimu yang lebih kuat. Karena sejatinya, yang besar bukan hanya hasilnya, tetapi hatimu yang rela berjuang.”
Mufarih Ni’am, S.Pd., Guru SMA Negeri 1 Donorojo