Oleh: Amin Fauzi
Di meja kerjanya ia banyak diam. Tatapan matanya sering kali di arahkan ke laptop birunya. Terkadang ia menulis, membaca e-book, atau berselancar di dunia maya. Jarang sekali ia membuka ponselnya, apalagi media sosial. Sesekali ia minum air mineral pakai tumbler birunya. Tak jarang ia mencoret buku catatannya dengan kalimat-kalimat sebagaimana yang ia pikirkan.
Oh ya, barang-barangnya yang ia gunakan atau pakai kebanyakan warna biru; laptop, tumbler, kotak pensil, sampul buku, cermin, jam tangan, bahkan framing kacamatanya. Pun baju dan sepatu yang dipakai juga berwarna biru, dengan berbagai model dan gradasi warnanya.
Jarang sekali ia bercakap dengan rekan-rekan kerjanya, ia bicara seperlunya. Hadir dan adanya tidak berisik dimanapun berada, dia tidak sibuk menjelaskan dirinya, dan tidak perlu membuktikan dan memvalidasi apapun. Bukan karena dia paling cantik, bukan karena ia paling pintar. Dia di ruangan itu, sepenuhnya, tanpa gelisah ingin dilihat atau ingin dinilai.
Namun anehnya, pada saat rapat-rapat kerja, saat ia dimintai waktu bicara, ide-idenya acapkali memukau banyak orang. Diam-diam ia mengubah cara orang mendekat.
BACA JUGA: Tumplek Blek, Ribuan Warga Antusias Ikuti Prosesi Larung Kepala Kerbau dalam Pesta Lomban
Aku belum pernah berinteraksi langsung secara personal dengannya, sekalipun. Sesekali ingin mengajaknya berbincang. Tapi belum ada keberanian untuk alih-alih berkomunikasi, manyapanya saja tidak sanggup. Khawatir mengganggu kesibukannya. Yang bisa aku lakukan hanyalah mengaguminya dari jauh.
Pada sepotong sore yang basah, saat laju pekerjaan mulai melandai, dengan penuh debar dan degup sengaja aku melintas di depan mejanya.
“Selamat sore mas? Ada yang bisa dibantu?” tanyanya lembut.
Pertanyaan yang tak biasa ia lontarkan, jarang sekali ia bertanya kepada seseorang. Tapi di sore itu, kalimatnya ia lontarkan begitu saja, dengan senyum pula. Kalimatnya tak bersuara keras, tapi ia tahu cara memeluk pikiran dan perasaan. Entah mengapa dia yang tersenyum tapi aku yang tersipu.
Aku tak langsung menjawab pertanyaan itu. Lidah ini rasanya kelu. Ingin berucap tapi tak kunjung menemukan jawaban yang tepat. Khawatir kalau-kalau interaksi pertama melahirkan kesan yang kurang baik.
BACA JUGA: Dr. Hj. Hindun Anisah, MA Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Tapi apalah daya, sebuah pertanyaan harus dijawab. Kesempatan tidak akan terulang lagi. Angin tidak bernegosiasi pada daun yang gugur, terik tidak tawar menawar dengan keringat, bahkan hujan tidak akan menyamar terlalu lama sebagai awan hitam.
“Punyakah bolpoin dengan tinta biru? Kalau ada, akau mau pinjam sebentar. Ada berkas yang musti aku tanda tangani,” jawabku spontan.
Kebetulan aku membawa beberapa berkas yang musti aku tandatangani untuk kepentingan administrasi.
“Silakan mas, ini pakai saja,” ucapnya sembari menyodorkan bolpoin warna birunya.
“Terimakasih, boleh aku duduk di sini sebentar untuk tanda tangan,?”. Kebetulan ada kursi kosong di depan mejanya. Tentu ia mempersilahkannya. Mungkin dengan senang hati. Wkwkw.
Aku mengira cukup waktu untuk membubuhkan tanda tangan di berkas yang aku bawa, lalu mengembalikan bolpoin lalu undur diri. Namun, dari pada sama-sama memendam diam. Aku memberanikan diri untuk bertanya. Basa-basi. Lagi-lagi mumpung ada kesempatan.
“Kok jam segini belum pulang mbak?”

Dia mengalihkan pandang dari layar laptop birunya di atas meja kerjanya, lalu menatapku. Saat itulah mataku bersirobok dengan sepasang mata bening yang identik dengan seraut wajah dengan masa silamku, dengan kenanganku. Perempuan itu tersenyum.
“Iya nih, lagi menyelesaikan bacaan novel, penasaran ceritanya, lagian di luar masih hujan”
“Kalau boleh tahu novel apa?
“Ini mas, Noerwegian Wood, karya Haruki Murakami”
“Ooo Haruki Murakami”
“Mas suka baca juga novel-novelnya Murakami?”
“Lumayan, kebetulan belum lama aku baca Norwegian Wood. Di buku ini Haruki Murakami menulis tentang banyak hal: kucing bisa bicara, sumur gelap, tokoh-tokoh kesepian, dan lainnya. Tapi entah mengapa, membacanya serasa seperti dekat. Kayak ngobrol dengan diri sendiri yang jarang kita dengarkan”.
“Banar Mas, buku Murakami kali ini bukan hanya cerita; tapi tempat pelarian hidup yang terlalu riuh, atau justru terlalu sunyi. Ia menaruh absurditas di depan mata, lalu kita mengangguk, “Iya juga, hidup memang serandom ini”
“Aku punya beberapa novelnya Murakami yang lain, barangkali Mbak tertarik, bisa aku bawa besok, silahkan mau baca yang mana”.
“Wah dengan senang hati, boleh dong. Kalau Mas punya yang judulnya “Men Without Women”, aku boleh pinjam?,” tanyanya sambil menyunggingkan senyumnya.
BACA JUGA: Mendikdasmen Tegaskan Sekolah Tetap Tatap Muka, Wacana Daring Dibatalkan
Ah, dia yang tersenyum mengapa aku yang salah salah tingkah. Baru kali ini aku menjumpai perempuan yang mirip dengan perempuan masa laluku. Mirip sekali; caranya ia tersenyum, binar matanya, gingsul giginya, tutur katanya, mancung hidungnya, lesung pipinya, hingga cara ia menyibak poni rambutnya. Bahkan, semerbak parfurmnya juga mirip. Semua kemiripan itu bak terlukis dalam batu ingatan.
“Iya ada. Besok aku bawakan, semoga tidak lupa ya”.
“Terimakasih ya Mas. Oh ya, ngomong-ngomong kenapa Mas suka koleksi bukunya Haruki Murakami?”
“Melalui tulisannya, Haruki Murakami mampu menyelami perasaan yang dihindari manusia normal kebanyakan. Dia adalah seorang arsitek yang mampu menggambarkan struktur dan rangka kesepian, kehampaan, kekosongan, dan ketakberartian manusia modern. Kalau kamu mengapa tertarik membaca tulisan Murakami?”.
“Tulisannya unik Mas. Melalui cerita-ceritanya, Ia mampu membangun dunia yang terasa sunyi namun penuh makna, tempat tokoh-tokohnya berkeliaran dalam keheningan, bertanya-tanya tentang diri mereka sendiri, bertarung dengan trauma, merenungi masa lalu yang tak bisa diubah, dan berkompromi dengan masa depan yang samar”.
“Memang tulisan-tulisannya relate dengan kehidupanmu ya Mbak?
BACA JUGA: H. Ulil Albab, S.Psi, M.AP., Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Ia tidak langsung menjawab. Sebelum menjawabnya ia manarik nafas panjang lalu melepasnnya perlahan-lahan. Seperti ada sesuatu yang ingin diungkapkan.
“Iya Mas, relate sekali. Dulu aku adalah pribadi periang, mudah bergaul, banyak teman, suka keramaian. Namun sejak setahun terakhir, aku lebih banyak memesrahi kesunyian dan kesendirian. Acapkali bertarung dengan rasa trauma masa lalu, atau sesekali ingin berkompromi dengan masa depan tapi belum bisa”.
“Mmmmm, boleh tahu kenapa?”
“Dulu aku pernah membangun kisah asmara dengan seseorang Mas. Hampir setiap hari kami bersama. Duka dan lara, canda dan tawa mewarnai hari-hari kebersamaan. Namun, ada satu hal yang mengganjal dalam hubungan kami. Kami berbeda keyakinan. Keluarganya tidak bisa menerima. Setelah hampir tiga tahun, kami terpaksa terpisah. Tepat sehari setelah ia diwisuda. Dia pamit. Belakangan, saya dapat kabar bahwa dia menikah dengan perempuan seiman”.
“Turut prihatin ya Mbak, semoga Mbak kelak mendapatkan jodoh terbaik”
“Tahu nggak Mas, laki-laki itu mirip kamu Mas. Caranya ia tersenyum, binar matanya, gingsul giginya, tutur katanya, mancung hidungnya, lesung pipinya, potongan rambutnya. Bahkan, semerbak parfurmnya juga mirip.”.
“Serius mirip?
Dia menganggukkan kepala perlahan. Tapi entah mengapa Ia langsung terburu mengemasi barang-barangnya. Laptop dan tumblernya dengan cepat dimasukkan dengan tas warna birunya.
“Mas, sudah sore. Hujannya sudah reda. Maaf saya over sharing, aku pamit dulu ya mas, keburu petang,” katanya sambil melangkah menuju pintu keluar ruangan.
Aku diam dalam pikiran antara riuh dan sunyi. Antara percaya atau tidak dengan kejadian aneh pada sore ini.
Dengan gontai aku menuju meja kerjaku. Sambil memendam kecewa, kenapa tadi lupa minta nomer WA. (*)
Semarang, 8 Maret 2026
Amin Fauzi, Penulis adalah penikmat sastra tinggal di Kota Semarang