JEPARA | GISTARA. COM – Guest lecture yang diselenggarakan oleh Kantor Layanan Internasional bekerja sama dengan Fakultas Komunikasi dan Desain (FKD) Unisnu Jepara berlangsung di ruang seminar FKD. Kegiatan yang mengangkat tema “From Tradition to Digital Through Jepara Carving Communication in the Creative Economy” ini menghadirkan Prof. Zulkifli sebagai narasumber utama, Senin (18/5/26).
Kegiatan tersebut juga menghadirkan narasumber internasional lainnya, yakni Laura dari National Yunlin University of Science and Technology, Taiwan, yang membawakan materi bertema “Culture Centered Design: Incorporating Cultural Elements in Design Process”. Sementara itu, Prof. Zulkifli menyampaikan materi mengenai “Heritage and Craftmanship Management”.
Acara ini diikuti oleh 76 peserta luring yang berasal dari perwakilan Program Studi KPI (Komunikasi Penyiaran Islam), DKV (Desain Komunikasi Visual), dan DP (Desain Produk).
Program guest lecture ini terlaksana melalui kolaborasi bersama Office of International Service Unisnu Jepara dalam mendukung pengembangan wawasan internasional di bidang ekonomi kreatif dan budaya.
BACA JUGA: Perjuangan Nenek Jumariah Menuju Baitullah, Kini Jadi Ikon Haji 2026
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Komunikasi dan Desain, Dr. Agus Subkhan Akbar, S.Kom., M.Kom., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
Ia menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan langkah penting dalam memperluas wawasan mahasiswa terkait perkembangan industri kreatif berbasis budaya lokal di era digital.

Peserta Guest Lecture bersama Pimpinan FDK Unisnu Jepara
“Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam memperluas wawasan mahasiswa terkait perkembangan industri kreatif berbasis budaya lokal di era digital,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi internasional seperti ini diharapkan dapat terus terjalin guna mendukung pengembangan akademik dan kreativitas mahasiswa.
“Potensi ukiran Jepara perlu terus dikenalkan melalui pendekatan komunikasi dan desain yang inovatif agar mampu bersaing di tingkat global,” tandasnya.
BACA JUGA: Pameran “TATAH” Resmi Dibuka, Menteri Kebudayaan Ajak Generasi Muda Lestarikan Seni Ukir
Sementara itu, dalam paparannya, Prof. Zulkifli menjelaskan bahwa tantangan terbesar warisan budaya saat ini adalah bagaimana tetap relevan di tengah arus globalisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat, khususnya generasi muda.Ia mengungkapkan bahwa generasi muda kini tidak lagi berinteraksi secara pasif, melainkan menginginkan pengalaman budaya yang lebih interaktif dan kontekstual.
“Generasi muda kini tidak lagi berinteraksi secara pasif, melainkan menginginkan pengalaman budaya yang lebih interaktif dan kontekstual,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa warisan budaya tidak bisa lagi dipandang sebagai sesuatu yang statis, tetapi harus menjadi entitas yang dinamis dan terus berkembang agar tetap relevan di masa kini.
Selama kegiatan berlangsung, suasana diskusi berjalan aktif dan dinamis. Para narasumber dan peserta saling bertukar gagasan serta pertanyaan terkait pengembangan budaya ukir Jepara melalui pendekatan desain dan komunikasi di era digital. (KA)