MAKKAH | GISTARA. COM – Langkah kaki Jumariah terasa berat ketika memasuki pelataran Masjidil Haram, Minggu (10/5/2026). Di bawah terik matahari Makkah, perempuan lansia asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan itu berkali-kali mengusap wajahnya dengan ujung kerudung hitam yang dikenakannya.
Sesaat kemudian, matanya menatap Ka’bah untuk pertama kali. Bangunan suci yang selama puluhan tahun hanya hadir dalam doa dan bayangannya kini berdiri nyata di hadapannya. Tangis haru pun pecah. Air mata mengalir deras dari wajah renta perempuan yang selama hidupnya akrab dengan kesendirian itu.
“Saya senang bisa melihat Ka’bah,” ucap Jumariah lirih saat ditemui di Hotel Asrar Al Tayseer, Makkah, sebagaimana dilansir dari haji.go.id (18/5/26).
BACA JUGA: Di Hadapan Kiai NU dan Muhammadiyah, Bupati Jepara Komitmen Tingkatkan Gaji Guru Madrasah
Bagi Jumariah, perjalanan menuju Tanah Suci bukanlah kisah yang mudah. Sejak berpisah dengan sang suami, ia menjalani hidup seorang diri di kampungnya. Hari-harinya diisi dengan aktivitas sederhana: memberi makan ayam peliharaan, membersihkan rumah panggung, hingga menggarap sawah dan kebun ubi milik tetangganya.
Meski hidup dalam keterbatasan, perempuan yang kini berusia sekitar 70 tahun itu tidak pernah kehilangan harapan. Di tengah sunyi yang menemaninya, ia menyimpan tekad besar untuk suatu hari bisa menjejakkan kaki di Baitullah.
Tekad itu mulai ia wujudkan sekitar 20 tahun lalu. Jumariah yang bahkan tidak pernah mengenyam pendidikan formal memilih menabung sedikit demi sedikit hasil kerjanya. Uang itu ia simpan diam-diam di dalam sebuah ember di rumahnya.
“Kalau saya dapat Rp110 ribu, saya simpan Rp50 ribu,” tuturnya polos.
BACA JUGA: Pemkab Jepara Siap Bantu Mahasiswa Kesulitan Bayar UKT, Ini Syaratnya
Tahun 2011, tabungannya akhirnya mencapai Rp25 juta. Dengan bantuan keponakannya, ia memberanikan diri mendaftar haji. Sejak saat itu, semangatnya semakin besar. Ia terus bekerja keras demi melunasi biaya perjalanan haji.
Ketika namanya resmi tercatat sebagai jemaah haji tahun 2026, Jumariah menunjukkan kesungguhan luar biasa. Ia rela menempuh perjalanan sekitar 15 kilometer demi mengikuti manasik haji. Lebih dari 80 kali sesi manasik ia ikuti tanpa pernah absen.
Bahkan, ia selalu duduk di barisan paling depan untuk menyimak arahan pembimbing ibadah.
Kegigihan Jumariah kemudian menarik perhatian Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Maros. Kisah hidupnya dinilai sangat inspiratif hingga diajukan sebagai tokoh dalam dokumenter “Makkah Route” produksi Arab Saudi.
“Dia hidup sendiri di daerah terpencil, tetapi memiliki semangat luar biasa untuk berhaji. Itu yang membuatnya sangat menginspirasi,” ujar Ketua Kloter UPG-14, Sitti Hawaisyah.
Tak disangka, dokumenter singkat tentang kehidupan sederhana Jumariah kini menjadi bagian dari promosi internasional musim Haji 2026. Sosok nenek pencari ubi dari pelosok Maros itu pun menjelma menjadi ikon global haji tahun ini.
BACA JUGA: Prof Musahadi Nahkoda Baru UIN Walisongo, Berikut Profilnya
Meski usianya tak lagi muda, kondisi fisik Jumariah terbilang luar biasa. Untuk pertama kalinya ia menaiki pesawat menuju Madinah, namun rasa takut itu cepat hilang. Setibanya di Kota Nabi, ia mampu beriktikaf di Masjid Nabawi dari waktu Asar hingga Isya. Ia juga berhasil beribadah di Raudhah dengan bantuan rombongan kloternya.
Ketangguhan itu terus terlihat saat berada di Makkah. Sejak tiba pada Sabtu (9/5/2026), Jumariah telah menuntaskan tiga kali umrah, terdiri dari satu umrah wajib dan dua umrah sunnah. Hebatnya lagi, ia hampir tidak pernah mengeluhkan kondisi kesehatannya.
“Beliau paling semangat. Kami yang muda sudah kelelahan, tapi beliau masih kuat berjalan,” kata Marwati, tetangga sekaligus rekan sekloternya.
Saat ditanya rahasia tubuh kuatnya di usia senja, Jumariah menjawab sederhana. Ia mengaku terbiasa bekerja di sawah setiap hari, banyak minum air putih, menjaga pikiran tetap tenang, dan tidak pernah memilih makanan.
Kini, Jumariah tengah bersiap menapaki puncak perjalanan spiritualnya: wukuf di Padang Arafah. Setelah puluhan tahun menyimpan rindu dalam diam, perempuan sebatang kara itu akhirnya dipertemukan dengan doa-doa yang selama ini ia langitkan dalam kesunyian. (KA)