Menyongsong Fajar Baru 1448 H: Meneguhkan Spiritualitas dan Memacu Etos Kerja Berbasis Muhasabah

Oleh: H. Hisyam Zamroni, Wakil Tanfidziyah PCNU Kabupaten Jepara

Pergantian tahun dalam kalender Islam bukan sekadar rotasi waktu atau perubahan angka pada penanggalan. Bagi seorang Muslim, momentum Tahun Baru Hijriyah yang pada tahun ini memasuki angka 1448 Hijriyah adalah sebuah panggilan spiritual yang mendalam. Ia adalah saat di mana waktu berhenti sejenak dalam kesadaran kita, memaksa kita menengok ke belakang untuk mengevaluasi diri (muhasabah), sekaligus memandang ke depan dengan optimisme dan etos kerja yang membaja.

Di bumi Nusantara, datangnya bulan Muharram atau yang karib disebut bulan Suro, beresonansi secara harmonis dengan tradisi lokal. Di sinilah teks langit yang suci (nas) bertemu dengan kearifan bumi yang luhur, menciptakan sebuah simfoni kehidupan yang menyeimbangkan antara kesalehan ritual (spiritualitas) dan kesalehan sosial (etos kerja).

Panggilan Qur’ani: Fondasi Muhasabah dan Perencanaan Masa Depan

Setiap kali memasuki gerbang tahun baru, untaian firman Gusti Allah Ta’ala dalam Surah Al-Hasyr ayat 18 menjadi rambu utama yang tidak boleh diabaikan. Gusti Allah Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِينَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُون

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Gusti Allah Ta’ala dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Gusti Allah Ta’ala. Sungguh, Gusti Allah Ta’ala Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”* (QS. Al-Hasyr: 18)

BACA JUGA: Menjaga Marwah Pesantren di Tengah Kasus Kekerasan Seksual, Gus Sholah: Perkuat Nalar Kritis dan Perlindungan Santri

Esensi potongan ayat: وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ (dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok) adalah basis teologis dari manajemen modern yang kita kenal hari ini yaitu  evaluasi dan perencanaan yang memiliki 2 dimensi:

1. Dimensi Teologis: Ayat ini memerintahkan kita untuk menghitung bekal apa yang sudah kita siapkan untuk kehidupan abadi kelak.

2. Dimensi Praktis: Dalam konteks kehidupan duniawi sebagai ladang akhirat, ayat ini menuntut kita memiliki cetak biru (blueprint) kehidupan yang jelas. Apa yang sudah kita kontribusikan selama tahun 1447 H yang lalu? Kelemahan apa yang harus diperbaiki pada 1448 H ini? Dan perencaan apa yang harus kita lakukan selama tahun 1448 H ke depan? Tanpa evaluasi, masa depan hanyalah pengulangan dari kesalahan masa lalu.

Meneguhkan Sakralitas Muharram Melalui Muhasabah Diri

Bulan Muharram adalah salah satu dari empat Asyhurul Hurum (bulan-bulan yang disucikan). Sakralitas bulan ini harus dijaga bukan dengan mistisisme yang melumpuhkan nalar, melainkan dengan memperbanyak refleksi diri sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Rasulullah SAW memberikan batasan yang sangat tegas mengenai siapa orang yang benar-benar cerdas dalam hidup ini:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

Artinya: “Orang yang cerdas (berakal) adalah orang yang mampu mengintrospeksi (mengevaluasi) dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang membiarkan dirinya mengikuti hawa nafsunya, kemudian ia berangan-angan kepada Gusti Allah Ta’ala (tanpa beramal).”  (HR. At-Tirmidzi)

BACA JUGA: Menjaga Marwah Pesantren dari Kekerasan, Gus Sahil: Pelaku Harus Diproses sesuai Hukum yang berlaku

Sahabat Sayyidina Umar bin Khattab RA juga pernah mempertegas konsep ini dengan ungkapannya yang sangat masyhur:

“Hasibu anfusakum qabla an tuhasabu”

Artinya : Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab oleh Gusti Allah Ta’ala kelak.

Meneguhkan spiritualitas yang tinggi di tahun 1448 H berarti kita harus berani “berkaca”. Muhasabah adalah “rem darurat” ketika ambisi duniawi kita mulai melampaui batas, sekaligus menjadi bahan bakar baru ketika iman dan semangat kita mulai meredup.

Memacu Etos Kerja Tinggi: Manifestasi Hijrah yang Hakiki

Hijrah secara historis adalah perpindahan fisik dari Makkah ke Madinah. Namun secara kontekstual, hijrah adalah transformasi mental dari kemalasan menuju produktivitas, dan dari keterbelakangan menuju kemajuan. Islam adalah agama yang antipati terhadap pengangguran dan kepasrahan yang keliru.

Semangat etos kerja yang tinggi ini termaktub dalam hadits Rasulullah SAW mengenai kemandirian dan kehormatan sebuah pekerjaan:

لأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ فَيَأْتِيَ الْجَبَلَ، فَيَجْتَبِ وَحَطَبًا عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيعَهُ، فَيَكُفَّ اللَّهُ بِهِ وَجْهَهُ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ، أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوهُ

Artinya: “Sekiranya salah seorang di antara kalian mengambil talinya, lalu pergi ke gunung (untuk mencari kayu bakar), kemudian ia memikul seikat kayu bakar di atas punggungnya lalu menjualnya, sehingga dengan itu Gusti Allah Ta’ala menyelamatkan wajahnya (kehormatannya), maka itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberinya atau menolaknya.”_ (HR. Bukhari)

Dari hadits di atas, kita belajar bahwa di dalam Islam:

1. Kerja adalah Harga Diri: Mencari nafkah yang halal, seberat apa pun fisiknya, jauh lebih mulia daripada meminta-minta atau menjadi beban bagi orang lain.

2. Kerja adalah Aktualisasi Iman: Seseorang yang memiliki spiritualitas tinggi tidak akan bermalas-malasan. Justru karena ia takut kepada Gusti Allah Ta’ala, ia akan bekerja secara profesional (itqan), jujur, dan penuh semangat di tahun yang baru ini.

BACA JUGA: Sering Mengalami Kekerasan dari Majikannya, PMI Asal Jepara  17 Tahun Hilang Kontak 

Akulturasi Budaya Nusantara: Filosofi Bulan Suro, Bubur Abang, dan Bubur Putih

Kekayaan Islam di Indonesia terletak pada kemampuannya menyatu dengan budaya lokal tanpa kehilangan akidah aslinya. Ketika bulan Muharram tiba, masyarakat Jawa dan Nusantara menyambutnya sebagai Bulan Suro. Di momen yang sakral ini, muncul sebuah tradisi kuliner yang sarat akan makna filosofis: penyajian “Bubur Abang (Merah) dan Bubur Putih”.
Tradisi ini bukan sekadar urusan perut atau ritual tanpa makna, melainkan sebuah simbolisasi kehidupan yang sangat dalam yang selaras dengan nilai-nilai Islam yaitu Unsur Budaya, Simbolisme Filosofis dan Hubungannya dengan Teologis & Etos Kerja yang meliputi:

Unsur Budaya “Bubur Abang (Merah)” simbolisme filosofisnya adalah melambangkan sel telur ibu (feminitas), keberanian, darah, dan semangat yang membara. Mewakili “Etos Kerja”. Manusia harus berani, aktif, dan memiliki semangat yang menyala untuk mengarungi kehidupan duniawi.

Sedangkan “Bubur Putih” simbolisme Filosofisnya adalah melambangkan sperma ayah (maskulinitas), kesucian, kebersihan hati, dan kepasrahan. Mewakili “Spiritualitas”. Manusia harus menjaga kesucian niat, kebersihan hati dari penyakit, dan ketundukan total kepada Sang Pencipta.

Pertemuan antara bubur merah dan bubur putih dalam satu wadah melambangkan asal-usul kejadian manusia (sangkan paraning dumadi) sekaligus keseimbangan hidup.

Masyarakat Nusantara mengajarkan kita melalui simbol ini bahwa hidup haruslah seimbang. Kita membutuhkan warna putih (kesucian spiritual, kedekatan dengan Gusti Allah Ta’ala, muhasabah) sekaligus kita membutuhkan warna merah (keberanian berjuang, bekerja keras, memeras keringat demi masa depan).

Menyambut 1448 H dengan perspektif budaya ini mengingatkan kita untuk tidak menjadi pribadi yang pincang pribadi yang hanya berdzikir di masjid tetapi melupakan kewajiban duniawinya, atau sebaliknya, sibuk mengejar materi hingga melupakan Penciptanya.

Menjadi Pribadi yang Lebih Baik di Tahun 1448H

Tahun Baru Hijriyah 1448 H adalah momentum emas untuk melakukan rekonstruksi diri secara total. Ayat fal tandzur nafsun ma qoddamat lighod memaksa kita untuk menjadi perencana yang ulung bagi masa depan kita, baik di dunia maupun di akhirat.

Sementara itu, sabda Nabi Muhammad SAW tentang muhasabah mengingatkan kita untuk tetap membumi dan tahu diri, serta hadits tentang mencari kayu bakar memacu kita untuk memiliki etos kerja yang pantang menyerah. Ditambah dengan kearifan lokal bubur abang-putih dari budaya Suro, kita diajarkan untuk merajut harmoni antara kesucian hati dan semangat aksi.

Mari kita masuki tahun baru 1448 Hijriyah ini dengan kepala tegak, hati yang bersih, dan tangan yang siap bekerja keras. Semoga Gusti Allah Ta’ala senantiasa memberkahi setiap jengkal ikhtiar kita, mengampuni kekhilafan kita di tahun lalu, dan mengangkat derajat spiritual serta ekonomi kita di tahun yang baru ini. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin.(*)

Related posts

MBG, Demokrasi dan Demonstrasi

Dari Emas ke Domba, Menguji Logika Nisab Zakat Profesi Jepara

Problematika “Ijbar” Zakat Profesi Perspektif Ushul Fiqih