JEPARA | GISTARA. COM -Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti kegiatan pembinaan rutin Mahasiswa Cendekia Baznas (BCB) Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara yang berlangsung di Ruang Seminar Fakultas Komunikasi dan Desain (FKD) lantai 4. Kegiatan tersebut menjadi wadah penguatan kapasitas diri bagi para mahasiswa penerima beasiswa agar mampu merencanakan masa depan secara lebih terarah, Kamis (18/6/2026)
Pada kesempatan tersebut, Mentor BCB Unisnu Jepara, Khoirul Muslimin, menyampaikan materi bertema “Karir Path dan Personal Branding: Mengubah Potensi Menjadi Kompetensi, dan Kompetensi Menjadi Reputasi.” Ia mengajak mahasiswa untuk tidak menjadi pengikut arus, tetapi menjadi arsitek kehidupan yang memiliki tujuan dan peta jalan karir yang jelas.
Menurut Khoirul Muslimin, banyak mahasiswa yang menjalani perkuliahan tanpa arah sehingga merasa bingung ketika menghadapi kelulusan. Sebaliknya, mahasiswa yang memiliki perencanaan karir akan mampu menyelaraskan pilihan hidup dengan potensi dan minat yang dimiliki.
BACA JUGA: Sambut 1 Muharam 1448 H Bersama Gandrung Nabi, Bupati Jepara Ajak Warga Perkuat Cinta Rasul dan Persatuan
“Karir bukan sekadar pekerjaan untuk mencari penghasilan, tetapi merupakan jalan pengabdian yang dilandasi ibadah, amanah, dan kemaslahatan. Setiap profesi harus menjadi sarana mencari ridha Allah Swt. dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif Islam, kesuksesan karir tidak hanya berorientasi pada pencapaian duniawi, tetapi juga pada amal saleh dan ibadah. Seorang profesional Muslim dituntut memiliki dua karakter utama, yakni Al-Qawiy (kuat dan kompeten) serta Al-Amin (terpercaya dan jujur).
Menurutnya, keahlian tanpa kejujuran dapat membawa kehancuran, sedangkan kejujuran tanpa kompetensi tidak akan menghasilkan kinerja yang optimal.
Khoirul Muslimin bersama mahasiswa penerima BCB
Selain membahas karir, Khoirul Muslimin juga menekankan pentingnya personal branding di era digital. Ia menjelaskan bahwa personal branding bukanlah pencitraan semata atau upaya mencari popularitas, melainkan proses strategis untuk memperkenalkan kompetensi, karakter, dan nilai positif agar keberadaan seseorang mampu memberikan dampak bagi orang lain.
“Personal branding bukan sekadar dikenal banyak orang, tetapi bagaimana seseorang dikenal karena kompetensi, karakter, dan nilai-nilai baik yang dimilikinya,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa personal branding menjadi kebutuhan penting karena mampu membangun kepercayaan (trust), memperluas peluang, serta memperkuat reputasi profesional seseorang. Kepercayaan, menurutnya, lahir dari konsistensi, integritas, dan rekam jejak karya yang nyata.
BACA JUGA: Menjaga Marwah Pesantren di Tengah Kasus Kekerasan Seksual, Gus Sholah: Perkuat Nalar Kritis dan Perlindungan Santri
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan empat prinsip dasar personal branding. Pertama, memiliki identitas yang jelas (be authentic) dengan mengenali nilai dan keunikan diri. Kedua, membangun konsistensi melalui karya dan perilaku yang berkelanjutan. Ketiga, membuktikan keahlian dengan menjadi spesialis di bidang tertentu. Keempat, meninggalkan legacy atau warisan kebermanfaatan bagi orang lain.
“Tujuan tertinggi personal branding bukanlah popularitas, melainkan kebermanfaatan jangka panjang. Signifikansi sejati adalah ketika orang lain berhasil karena kontribusi yang kita berikan,” kata Khoirul Muslimin mengutip pemikiran John Maxwell.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa personal branding dalam perspektif Islam dibangun melalui empat pilar utama, yaitu Shiddiq (jujur), Amanah (terpercaya), Fathanah (kompeten), dan Tabligh (komunikatif).
“Keempat pilar tersebut menjadi fondasi bagi mahasiswa dalam membangun reputasi yang kuat sekaligus bernilai ibadah. Karena pada akhirnya, tujuan tertinggi karir seorang Muslim bukan hanya mencapai kesuksesan duniawi, tetapi juga menghadirkan kebermanfaatan bagi sesama serta memperoleh ridha Allah Swt.,” pungkasnya. (KA)