JEPARA | GISTARA. COM – Suasana pagi yang sejuk menyelimuti pelaksanaan pengajian rutin di Masjid Jami’ Raudlatul Falah Sekuro. Meski udara pagi masih terasa dingin, hal itu tidak mengurangi semangat para jamaah yang datang dari berbagai dukuh di Desa Sekuro untuk mengikuti kegiatan mengaji bersama, Ahad (5/7/2026)
Pada kesempatan tersebut, tausyiah disampaikan oleh K. Ali Rohmat dari Dukuh Bendosari. Dengan gaya penyampaian yang santai dan ceria, ia mengajak para jamaah memahami nilai-nilai kehidupan melalui pesan-pesan keagamaan yang dekat dengan keseharian masyarakat.
Dalam tausyiahnya, K. Ali Rohmat menyampaikan bahwa terdapat tiga golongan yang menjadi tamu Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, golongan pertama ialah orang yang gemar bersedekah.
BACA JUGA: Tidak Punya IUP, Pengurukan Lahan di Kelurahan Karangkebagusan Dihentikan
Ia menjelaskan bahwa sedekah ibarat menabung kepada Allah SWT. Semakin sering seseorang bersedekah, maka semakin besar pula keberkahan dan balasan yang akan diterimanya.
“Shodaqoh itu ibarat menabung dengan Allah SWT. Semakin sering shodaqoh, maka akan semakin bertambah,” ujarnya di hadapan jamaah.
Golongan kedua, lanjutnya, ialah orang yang diperlakukan tidak adil tetapi tetap mampu bersabar. Sikap sabar dalam menghadapi ujian hidup dinilai sebagai sifat yang mulia.
Ia mengatakan bahwa seseorang yang tetap bersabar meski mendapatkan perlakuan kurang baik, termasuk ketika dicaci dan dimaki, akan memperoleh kemuliaan di sisi Allah SWT.
“Apabila kesabaran itu terus dipertahankan dengan penuh keikhlasan, derajatnya dapat semakin meningkat,” ungkap K. Ali Rohmat saat memberikan penjelasan kepada jamaah.

Jamaah mengikuti pengajian Ahad pagi dengan khidmat
Adapun golongan ketiga adalah orang yang tidak terbiasa meminta-minta. Menurutnya, kebiasaan meminta kepada orang lain perlu dihindari karena dapat menumbuhkan sikap bergantung dan menjauhkan seseorang dari kemandirian.
Selain menjelaskan tiga golongan tersebut, K. Ali Rohmat juga menguraikan tentang empat macam kondisi manusia dalam kehidupan.
Golongan pertama, kata dia, adalah orang yang diberikan ilmu dan harta dalam jumlah yang banyak. Menurutnya, golongan ini termasuk manusia yang paling mulia karena memiliki bekal pengetahuan sekaligus kemampuan untuk memanfaatkannya dalam kebaikan.
Sementara golongan kedua ialah orang yang diberi ilmu, tetapi belum diberikan kelapangan rezeki. Meski demikian, orang yang memiliki niat baik tetap berpeluang memperoleh pahala yang sama.
Ia kemudian memberikan contoh sederhana yang mengundang senyum para jamaah.
“Gusti, saya pingin haji seperti Pak Kaji Anshori,” tuturnya menirukan ungkapan seseorang.
BACA JUGA: Ribuan Warga Meriahkan Hari Koperasi ke-79 di Jepara, Usung Semangat Kebersamaan dan Gotong Royong
Ia menjelaskan bahwa rasa ingin seperti itu diperbolehkan selama bertujuan untuk kebaikan dan menjadi motivasi untuk meningkatkan diri.
Selanjutnya, golongan ketiga ialah orang yang memiliki banyak harta, tetapi tidak disertai ilmu. Menurutnya, keadaan seperti ini sering kali membuat seseorang tidak mampu menjalani kehidupan sesuai tuntunan agama.
“Orang yang sering menyepelekan orang lain, maka dia akan disepelekan Allah SWT,” katanya.
Adapun golongan keempat adalah orang yang tidak memiliki harta sekaligus tidak memiliki ilmu. Namun demikian, menurutnya, niat tetap menjadi hal yang penting dalam kehidupan seseorang.
Ia menjelaskan bahwa apabila seseorang memiliki niat yang baik, maka Allah SWT dapat memberikan pahala yang sama meskipun belum mampu melaksanakannya. Sebaliknya, niat yang buruk juga dapat membawa seseorang pada dosa sesuai dengan niat dan perbuatannya. (KA/KM)